Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sean sudah berada di depan pintu rumahnya, namun ia masih ragu-ragu untuk membuka pintu. Apa Sean harus pulang lagi ke rumah Baekhyun? Tapi ia sudah terlanjur disini.
"BEOM BAEKHYUN! COWOK GANTENG DATENG MAU NGINEP LAGI DISINI!"
Teriak Sean saat membuka pintu rumah Baekhyun.Tidak ada sahutan atau omelan dari Baekhyun seperti biasanya, sebagai gantinya Sean melihat Devano sudah duduk di ruang tamu menunggunya. Ia tersenyum canggung, Sean pun duduk depan Devano.
"Baekhyun kemana?" Tanya Sean memecah keheningan.
"Tadi dia keluar katanya mau nyari adiknya."
Sean mengangguk-angguk, "Gue-"
"Gue gak akan maksa lo buat pulang sekarang." Devano menyela, "Gue cuman mau tau kabar lo. Syukurlah kalo lo baik-baik aja."
"Dari mana lo tau rumah Baekhyun?"
"Tadi gue nelpon Chan, dia ngasih tau alamat rumah Baekhyun jadi gue langsung kesini."
Mereka saling diam untuk beberapa menit, saling larut dengan pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya Devano membuka suaranya, "Sean, gue minta maaf.."
"......"
"Selama ini gue juga berat nahan rahasia ini sendirian, gue tau lo pasti terluka dan gue takut kalo lo sampengebenci gue. Maaf karena dulu gue terlalu takut buat ngasih tau lo lebih awal, dan itu justru malah bikin lo lebih sakit sekarang." Devanomenjeda ucapannya, "Maaf karena tiba-tiba gue bawa dia ke rumah tanpa persetujuan dari lo."
Sean masih tidak mau membuka suaranya, membuat Devano tersenyum pahit. Ia kemudian beranjak dan memberikan sebuah paper bag pada Sean.
"Gue kesini cuman mau ngasihin beberapa keperluan lo, cuaca lagi dingin lo harus pake baju-baju anget."
Sebelum benar-benar pergi Devano menepuk pelan punggung Sean, "Gue bakal selalu nunggu lo di rumah, sampai kapan pun gue bakal tunggu."
Malamnya Sean tidak bisa tidur, ia memikirkan bagaimana tadi Devano terlihat kelelahan, raut wajahnya menunjukkan kesedihan, terdapat bekas hitam dibawah matanya mungkin ia tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Sean benar-benar merasa bersalah, jika dipikir lagi ini memang bukan sepenuhnya salah Devano pasti sulit baginya selama ini menanggung beban itu.
Selama ini Devano sudah menjadi kakak yang baik sekaligus menjadi orangtua untuk Sean. Ia sudah lelah dengan masalah kantor, Sean menjadi merasa bersalah karena harus menambah beban pikirannya.
Setelah bergelut dengan egonya akhirnya Sean memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia tidak ingin membuat kakaknya itu khawatir lagi.
Sean masuk kedalam rumah dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan seseorang di rumah. Lagi pula ini masih siang kakaknya sudah pasti baru pulang nanti malam dan anak itu.. mungkin dia masih sekolah. Sean menghela nafas kemudian merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia melihat langit-langit rumah sambil bergumam dalam hati; Apa gue bisa nerima dia?