Kepergian Nenek

758 100 8
                                        

Sharene terkejut begitu mendapati Devano sudah berdiri di depan pintu rumahnya tanpa Sean

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sharene terkejut begitu mendapati Devano sudah berdiri di depan pintu rumahnya tanpa Sean. Tiba-tiba Sharene lupa cara bernafas, ini memang bukan pertama kalinya Sharene bertemu dengan kakak Sean tapi ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dan Sharene tidak tahu tujuan Devano mendatangi rumahnya sendiri. Mulut Sharene terbuka tapi tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia merasa terintimidasi dengan aura Devano.

Namun lelaki itu malah memberikan senyum teduhnya pada Sharene, "Bisa ngomong sebentar?" Tanyanya.

Dan begitulah bagaimana akhirnya Sharene kini berada di rumah Sean. Ia sedang duduk di ruang tamu dengan canggung bersama tas besar miliknya. Devano menyuruhnya untuk menunggu karena katanya ia harus menjemput dulu Jeno, Sean sendiri Sharene tidak tahu dimana keberadaan lelaki itu.

"Hai."

Sharene membelalakan matanya begitu seorang wanita menghampiri dan duduk di sebelahnya. Sharene tidak tahu siapa wanita itu, setahunya wanita yang tinggal di rumah ini hanya bibi dan Emerald.

"Kata Devano kamu pacarnya Sean ya?"

"K-kak Devano bilang gitu?"

Wanita itu mengangguk, "Ah kenalin, Yoana. Temennya Devano." Yoana mengulurkan tangannya pada Sharene.

"Aku ini orang yang dengan gak tahu malunya tinggal di rumah ini."

Sharene membelalakan matanya lagi. Sean tidak pernah bercerita soal Yoana.

"I have a problem with my mom, masalahnya rumit sih tapi intinya aku gak bisa lagi tinggal di rumah mama, terus Devano ngajak aku buat tinggal disini. Aku juga sebenernya malu banget karena harus numpang hidup disini, tapi Devano selalu bilang kalo bukan aku yang numpang tapi Devano yang minta aku buat tinggal disini. Katanya rumah besar ini sepi banget, dia seneng kalo rumah ini rame. Adik-adiknya juga welcome sama aku, yah walaupun kesannya gak tahu malu tapi aku ngerasa nyaman tinggal disini, sebenernya gak gratis sih karena Devano bilang aku harus selalu masakin makanan enak buat mereka, juga bantuin Jeno dan Arel belajar sampe mereka lulus PTN."

"Dan semua itu berlaku juga buat kamu, jangan ngerasa kamu bakal ngerepotin karena tinggal disini, karena Devano pasti ngerasa seneng rumahnya jadi lebih rame. Itu pun gak gratis, kamu harus selalu bantuin tiap aku masak. Jadi jangan ngerasa gak enak lagi, oke?" Yoana tersenyum pada Sharene yang membuat Sharene ikut tersenyum.

2 hari yang lalu..

Sharene berdiri di depan makam almarhum nenek berada. Sharene mengusap lembut ukiran nama nenek di sana, ia tidak menangis tapi matanya bisa menunjukkan betapa ia merasa sedih. Tadi pagi saat hendak membangunkan nenek di kamarnya, nenek kesayangannya itu sudah tidak bernafas.

Sean, Jeno dan Emerald berdiri di belakang Sharene menunggunya. Mereka bisa merasakan bagaimana sedihnya Sharene sekarang. Apalagi Sean dan Jeno, bagi mereka nenek bukanlah sekedar nenek dari Sharene tapi mereka menyayangi nenek seperti nenek mereka sendiri. Sean dan Jeno tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu dan dari nenek mereka bisa merasakan bagaimana kehangatan dan kasih sayang seorang ibu. Tentu saja mereka merasa sedih dan merasa kehilangan.

Step Brother (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang