Kegelisahan Devano

1.5K 163 3
                                        

"Kak lo tau gak gimana cara dapetin hati cewek yang cuek?" Tanya Sean ketika ia dan Devano sedang makan malam di rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kak lo tau gak gimana cara dapetin hati cewek yang cuek?" Tanya Sean ketika ia dan Devano sedang makan malam di rumah.

Devano menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti apa yang di maksud adiknya itu.

"Gue salah nanya kayaknya, mana ngerti lo soal cewek kalo ketemunya sama berkas-berkas mulu." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa.

"Sialan-" Devano ingin marah tapi memang benar jika ia tidak terlalu mengerti perihal wanita, "Gak biasanya lo ngomongin cewek, bukannya lo gak tertarik buat pacaran, sama kayak gue."

"Sorry ya gue gak sama kayak lo. Gue masih normal, tertarik sama cewek dan pengen pacaran. Cuman selama ini gak ada yang narik perhatian gue aja." Sean bertopang dagu membayangkan muka galak Sharene yang tetap terlihat cantik, "Tadi akhirnya gue ketemu cewek yang narik perhatian gue, tapi kayaknya bakal susah buat gue dapetin."

"Udah tau susah kenapa masih pengen ngedeketin?"

"Justru itu kak. Biasanya nih cewek-cewek rela saling bacok buat bisa deket sama gue, ini cewek di kasih jalan mudah buat deketin gue tapi masih sok jual mahal. Gue jadi makin penasaran sama itu cewek."

Devano hanya bisa berdecak, "Gue udah pernah ngasih tau lo, jangan mainin perasaan cewek."

"Gue bukan si Chan atau si Kai, kak."

"Jadi selama ini lo gak ada hubungan apa-apa sama Klee?"

Sean menggaruk lehernya yang tidak gatal, sadar jika ia sudah bercerita hal yang salah pada kakaknya.

Devano tertawa kecil melihatnya, "Lo pasti kayak gitu tiap gue tanya tentang Klee. Gue tanya deh, lo punya perasaan gak sama Klee?"

"... Gue-"

"Oke gue gak perlu, tapi kalo gak punya perasaan apa-apa mening jujur sama dia. Jangan ngasih dia harapan ujung-ujungnya lo tetep gak bisa sayang sama dia."

"Tapi-"

"Kalo lo kayak gitu karena gak enak sama bokap nyokap nya, lo gak perlu khawatir nanti gue bisa jelasin ke mereka."

Kedua orangtua Klee memang menaruh harap pada Sean, berharap Sean akan menjadi menantunya di masa depan nanti.

"Kak dari tadi lo tuh nyalip mulu, gak ngasih gue kesempatan buat ngomong!" Sean mendengus sebal, "Soal gue sama Klee, biar jadi urusan gue. Lo gak perlu ikut campur. Dan soal cewek yang tadi kayaknya gue cuma penasaran doang."

Devano menatap adiknya itu dengan pandangan yang sulit di terka. Keluarga Klee memang berpengaruh besar terhadap hidup Sean dan Devano. Jika Sean menolak untuk bersama Klee, mungkin kedua orangtuanya akan sangat kecewa.

"Sean?" Devano tiba-tiba memasang muka serius.

"Apa?"

"Kalo gue ngasih tahu sesuatu yang gak masuk akal, lo mau percaya?"

"Apaan? Kalo lo sebenernya suka cowok lagi?"

"Gue serius!?"

"Terus apa?"

"Sebenernya lo itu punya-"

Belum sempat Devano menyelesaikan kalimatnya, ponsel Sean lebih dulu berdering, "Bentar kak." Sean berdiri menjauh untuk mengangkat telponnya.

Tidak sampai 5 menit, Sean sudah kembali lagi.

"Sorry kak tadi bokapnya Chan nelpon nanyain anaknya." Sean duduk kembali, "Tadi gimana kak?"

Devano tersenyum tipis, "Gak jadi, gue keburu ngantuk." Kemudian ia menaiki tangga untuk memasuki kamarnya, "Beresin sekalian cuci piring ya, jangan bangunin bibi kasian."

Sean melototi kakaknya itu namun tetap melakukan apa yang Devano suruh.

Sampai di kamarnya, Devano termenung melihat rintik hujan dari jendela kamarnya, pikirannya melayang membawanya kembali pada kejadian beberapa tahun lalu saat kedua orang tuanya kecelakaan.

Sebelum benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, Papa sempat mengucapkan beberapa kata hanya untuk Devano.

Tolong jaga Jevan buat Papa. Sayangi Jevan sebagaimana kamu menyayangi Sean.

Devano memegangi pangkal hidungnya, selama ini dia selalu memikirkan kata-kata Papanya itu. Devano memang menyayangi kedua adiknya, ia tidak pernah membedakannya, namun untuk memberitahu Sean tentang semua kenyataan ini, ia masih terlalu takut. Ia takut Sean akan mengurung dirinya lagi, mengetahui kebenaran bahwa keluarganya tidak sebahagia yang ia kira dan tiba-tiba mempunyai seorang adik dalam waktu yang bersamaan pasti akan membuatnya cukup syok.

Pernah terpikir untuk merahasiakan ini selamanya dari Sean, namun mengingat bagaimana malangnya Jeno, Devano selalu merasa bersalah. Jeno memang tidak pernah mengatakannya, tapi Devano bisa merasakan dari matanya bahwa anak itu hidup dalam kesepian.

Ia diambang dua pilihan, memberitahu Sean dan membiarkan dia membencinya selama beberapa saat atau membiarkan Jeno tetap merasa kesepian selama hidupnya. Devano yakin Sean pasti tidak akan berlama-lama membencinya, namun hal terberat adalah ketika Sean justru tidak membencinya dan malah memilih pergi dari rumah.

Kenapa Papa ngasih beban ini ke aku? Devano harus gimana, Pa?




🌻🌻🌻

Step Brother (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang