Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini sudah panggilan ketiga dan Devano masih belum mengangkat teleponnya. Tadi saat masuk ke ruang BP, guru BP langsung menyuruh Jeno untuk menelpon dan menyuruh orangtuanya untuk datang ke sekolah sekarang juga. Sebenarnya Jeno gugup ia tidak mengira masalah ini harus melibatkan orangtua, ini pertama kalinya dalam seumur hidup Jeno masuk ke ruang BP karena bermasalah dan ia takut jika Devano kecewa padanya.
"Masih gak diangkat Jen?" Tanya Emerald.
Jeno menggeleng.
"Kenapa gak nyoba telepon Kak Sean?"
"Kak Sean?"
Sebenarnya Jeno lebih takut jika harus menelpon Sean, bukan takut dengan amarahnya, Jeno yakin Devano pasti lebih menakutkan saat marah dibandingkan dengan Sean. Hanya saja Jeno takut Sean akan kembali membencinya karena mempunyai adik yang bermasalah seperti saat ini. Namun ia tidak punya pilihan lain karena guru BP sudah menunggu dan Devano tidak juga mengangkat teleponnya.
Untungnya Sean langsung mengangkat telepon dan ia bersedia datang ke sekolah saat itu juga.
Setibanya di sekolah Jeno, Sean langsung menjadi pusat perhatian seluruh siswa, para pedagang juga guru-guru yang melihatnya. Sean terlihat sangat tampan walaupun hanya menggunakan pakaian kasual, ia berjalan sebagaimana ia berjalan biasanya, namun orang-orang di sana yang melihatnya merasa Sean seperti model yang sedang Catwalk.
Emerald yang menjemput Sean dari depan langsung mengatarkannya ke ruangan BP. Awalnya Sean terkejut saat melihat wajah Jeno yang penuh lebam, ia menghela nafas sudah tahu alasan kenapa Jeno menyuruhnya ke ruang BP. Namun ia tidak mau banyak bicara dulu, ia masuk kemudian duduk bersama yang lainnya.
Sudah ada Guru BP, Hazel dan Ibunya (Kepala Sekolah), Sean, Jeno dan juga Emerald yang katanya terlibat dalam masalah ini. Mereka berbicara serius sekali untuk 30 menit ke depan. Sean terlihat beda dari biasanya. Biasanya ia terlihat konyol dan menyebalkan namun saat ini terlihat seperti seorang kakak yang sangat bisa diandalkan.
Setelah mencapai kata sepakat mereka pun keluar dari ruangan itu. Keputusan terakhir adalah Jeno dan Hazel harus di skors selama 3 hari, tadinya 1 minggu namun Sean protes karena katanya Jeno itu kelas 3 dan dia tidak boleh terlalu lama ketinggalan pelajaran.
"Oh iya Bu saya cuma mau ngasih tahu. Jangan maksain agar anak Ibu jadi kayak yang Ibu mau, jadinya dia terkekang dan malah buat onar karena ngerasa tertekan. Bukan saya mau ngebanggain adik saya, tapi Jeno tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, tapi dia nggak pernah ngecewain kakaknya, karena dia tahu apa yang dia mau tanpa tekanan dari siapapun." Ucap Sean pada Kepala Sekolah sebelum ia benar-benar pergi.
Sean berjalan diikuti oleh Jeno dan Emerald dari belakang.
"Jevan Noe?" Sean tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memanggil Jeno dengan suara rendah.
"I-iya Kak?"
"Lo beneran mukulin anak itu?"
Jeno menunduk. Ia tahu Sean pasti marah. Sean pasti kecewa padanya. Padahal belum lama ini hubungan Sean dan Jeno sudah membaik.