Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Minum dulu." Sharene menawarkan Sean minum, lelaki itu sedari tadi tidak membuka suaranya, mereka sudah berada di rumah Sharene dan Sean sudah mengeringkan badannya dengan handuk, ia tidak berganti pakaian karena akan lucu bukan jika ia menggunakan baju Sharene yg sangat mungil itu.
Rumah Sharene merupakan rumah kecil yang sederhana, didalamnya hanya terdapat 2 kamar, ruang tamu juga dapur. Di depan rumah itu terdapat kursi panjang yang menuju jalanan sepi, disitulah mereka berada.
"Lo gak mau nanya duluan gue kenapa?"
Sharene mendengus, "Gak ada untungnya buat gue. Kalo lo mau cerita, gue bakal dengerin. Tapi kalo gak mau juga gak apa-apa gue gak peduli."
Sean tertawa mendengarnya, menyukai seseorang seperti Sharene itu memang benar-benar penuh tantangan.
"Gue diusir dari rumah."
"Diusir? Kok Bisa? Kenapa?"
Lihatlah gadis yang katanya tidak peduli itu, ia bahkan langsung menjawab begitu Sean berbicara. Matanya memandang Sean dengan penuh cemas.
"Karena dengan bodohnya gue udah jatuh cinta sama lo."
Sharene memundurkan wajahnya, kedua pipinya bersemu merah. Kemudian mencubit lengan tangan Sean, "Apa sih lo gak jelas!"
Sean mengerang kesakitan, "Gue serius Rene. Dan yang lebih penting kayaknya gue butuh tempat buat tidur malem ini." Sean menggerakkan alisnya keatas dan kebawah.
"Maksud lo?"
"Yaa Rene masa lo tega ngebiarin gue tidur di jalanan sepanjang malem, apalagi baju gue basah. Entar kalo gue sakit gimana?"
"BODO AMAT!!"
Sharene beranjak ke dalam rumah, namun ia tidak menutup pintunya. Tidak lama ia justru kembali dari kamarnya kemudian melemparkan selimut juga bantal di ruang tamu, "Jangan lupa nanti kunci pintunya!!" Sharene kembali masuk ke kamarnya.
"Jangan pikir gue peduli sama lo. Gue cuma kasian!" Ujarnya lagi membuka pintu. Setelah itu sosoknya benar-benar tidak terlihat lagi.
Sungguh, Sean telah benar-benar jatuh cinta pada seorang Sharene dengan ketsundereannya yang begitu besar.
Setelah itu Sean kembali melamun, menatap kosong pada jalanan yang masih diguyur hujan.
"Adik?" Sean tertawa miris.
Jujur saja Sean tidak tahu bagaimana tepatnya menggambarkan perasaannya saat ini. Kecewa, sedih, marah, kesal semuanya bercampur menjadi satu. Sean marah pada kakaknya, dan Sean benar-benar membenci anak itu.
🌻🌻🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jen kemaren rumah lo masuk acara bedah rumah? Ko rumah lo jadi beda banget?!" Tanya Emerald heboh ketika mereka sampai di rumah Devano.
Yah jika dibandingkan dengan rumah Jeno, tentu saja berbeda. Rumah itu bahkan jauh dari kata sederhana.
Jeno dan Devano menghiraukan Emerald dan mulai memasuki rumah itu. Rumah Devano sangat luas dan besar dengan interior yang sangat mewah, di depan rumah ada satpam yang menjaga rumah kemudian ketika masuk mereka di sambut oleh dua bibi asisten rumah tangga. Satunya bisa Emerald kenali karena ia pernah beberapa kali mengunjungi rumah Jeno.
Emerald masih sibuk mengamati seisi rumah itu, sedangkan Jeno duduk di ruang tamu, "Kak Sean kemana?"
Devano yang sedang membawa air minum menghentikan aktivitasnya, jelas sekali ia terlihat gugup, "Oh? D-dia masih di kampus. Nanti sore kalo gak malem juga pulang."
Raut wajah Jeno berubah sendu, ia tahu mungkin sesuatu sudah terjadi pada kedua kakaknya itu.
"Kamar kamu di sana Jen, mening liat-liat dulu atau langsung istirahat, kakak keluar dulu beli bahan makanan." Devano berusaha menghindari pertanyaan yang mungkin belum bisa ia jawab.
Jeno beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang ditunjukkan Devano tadi yang kemudian diikuti oleh Emerald.
Kamar itu lebih luas dari kamar Jeno sebelumnya barang-barang Jeno sudah ada di sana semua termasuk Jojo yang ada di kandangnya. Namun sepertinya Jeno sedang tidak ada mood untuk menyapa kucing kesayangannya itu, ia lebih memilih duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong, ia menghela nafas berat.
"Hey, kenapa?" Tanya Emerald kemudian duduk di samping Jeno, "Something happened?"
Jeno masih membisu tanpa kata.
Emerald tahu Jeno sedang tidak baik-baik saja, ia mengelus lembut punggung Jeno, "Its okay Jen, gue ga tau lo kenapa. Tapi kalo lo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue."
"..... Lo tau apa yang lebih menyakitkan dari mendengar seseorang bilang 'aku membencimu?'" Lirihnya pelan yang masih bisa di dengar Emerald.
"Apa?"
"Ketika seseorang terus bilang maaf padahal dia gak ngelakuin kesalahan. Ketika seseorang terus merasa bersalah padahal dia udah banyak ngelakuin banyak hal buat gue. Gue.." Jeno menundukkan kepalanya, "Ngerasa jadi beban."
"Lo denger sendiri dari orangnya kalo lo beban buat dia?"
"Dia emang gak bilang. Atau mungkin dia cuman gak bisa bilang."
"Berarti lo jahat."
Jeno menoleh menatap Emerald.
"Tadi lo bilang sendiri kalo orang itu udah banyak ngelakuin banyak hal buat lo. Apa lo yang minta dia buat ngelakuin itu semua?"
"........."
"Nggak kan? Berarti dia ngelakuin itu semua karena dia emang sesayang itu sama lo. Apa yang lo liat dari orang itu belum tentu yang sebenernya Jen, lo gak akan pernah tau isi hati seseorang. Bisa jadi dia ngerasa bersalah mungkin karena menurut dia, dia belum bisa ngasih yang terbaik buat lo."
"Daripada ngerasa jadi beban, kenapa nggak lo aja yang bilang ke dia. Kalo dia udah ngasih yang terbaik buat lo, kalo dia gak perlu lagi ngerasa bersalah. Dengan gitu, baik lo ataupun dia bakal ngerasa lebih baik, iya ga?"
Alih-alih menjawab, Jeno memilih untuk memalingkan mukanya yang sedari tadi tidak lepas memandang Emerald. Aneh saja, kenapa ia bisa mencurahkan isi hatinya pada Emerald. Aneh saja kenapa Jeno merasa nyaman dengan perlakuan Emerald yang terus mengusap punggungnya seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Aneh saja, kenapa jantung Jeno berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Lo itu gak pernah jadi beban buat siapapun Jen, karna lo adalah orang yang berharga buat orang tua lo, orang yang berarti buat kakak lo, orang yang penting buat temen-temen lo."
Hati Jeno menghangat mendengar semua ucapan tulus dari Emerald. Ia tidak pernah tahu, jika gadis cerewet itu bisa setenang ini, bisa memberikan Jeno kenyamanan, bisa memberikan Jeno kehangatan dari seorang perempuan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
"Oke lah kalo lo tetep ngerasa kayak gitu. Tapi lo perlu tau, kalo lo gak pernah jadi beban buat gue, malah gue pengen banget di repotin sama lo. Atau lo mau ngasih beban lo ke gue? Gue gapapa Jen, bakal gue terima dengan senang hati. Karena buat gue lo-"
Emerald tidak meneruskan kalimatnya karena tiba-tiba Jeno menyandarkan kepalanya di bahu Emerald. Tentu saja Emerald terkejut, ia tidak pernah sedekat ini dengan Jeno.
"J-jen?"
Jeno tidak menjawab, sebagai gantinya terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
"Lo.. tidur?" Emerald menghela nafas, "Lo tuh dulu gue deketin ngejauhin mulu, sekarang tiba-tiba ngasih serangan mendadak. Ini sih deket banget Jen, lo gak kasian sama jantung gue? Tapi untunglah lo tidur, kalo sampe lo liat muka merah gue, dahlah malu banget gue."
Jeno tersenyum kecil masih dengan mata tertutup. Sebenarnya ia hanya pura-pura tidur. Entahlah semua ucapan Emerald hari ini seolah sihir yang membuat Jeno ingin lebih dekat dengannya.