Rafael Sean Narendra

4K 225 12
                                        

Jakarta, 2006

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 2006

Sean sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah saat sekolah telah usai, seperti hari-hari biasanya. Hari ini Sean merasa sangat bersemangat karena yang akan menjemput bukan Pak Anto -sopir keluarganya, melainkan kedua orangtuanya. Bunda dan Papanya merupakan orang yang sibuk, namun di hari Sabtu mereka selalu pulang lebih cepat agar bisa menjemput Sean dan kakaknya.

Di akhir pekan biasanya mereka pergi berwisata atau menikmati quality time di rumah. Sean selalu merasakan kebahagiaan juga kehangatan sejak kecil. Ia terlahir dari keluarga yang kaya, ia mempunyai kakak yang bisa diandalkan, juga kedua orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya.

Senyuman Sean tidak bisa berhenti merekah, sebelum akhirnya..

BLAMM!

Sebuah kecelakaan terjadi tepat di depan mata Sean. Waktu itu usia Sean masih belasan tahun tapi ingatannya terhadap mobil Papanya tidak pernah salah. Benar, salah satu mobil yang ada di depannya itu mobil Papa, Sean tidak mungkin salah karena Papa selalu membanggakan dan berbicara jika mobil itu mobil termahal yang ia beli khusus untuk Sean dan Kakaknya. Kaki Sean bergetar saat matanya menemukan Bunda dan Papanya sudah bersimbah darah tidak sadarkan diri di dalam mobil yang setengah hancur itu.

"Bunda... Pa.." Sean berjalan mendekat, namun kakinya lemas seperti tidak bisa digerakkan, Sean merasa dunianya seperti berputar sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


🌻🌻🌻

"Ada angin apa lo udah bangun jam segini?" Devano baru saja turun dari kamarnya di lantai atas dan melihat adiknya itu sedang sibuk di dapur. Kebetulan sudah 3 hari ini bibi ART izin untuk pulang kampung, "Lagi ngapain?"

"Orang kalo di dapur itu ya lagi masak, bukan lagi mandi." Jawab Sean masih fokus dengan masakannya, padahal ia sama sekali tidak bisa masak. Tapi karena bibi tidak ada sejak kemarin membuat Devano sering melewatkan sarapannya.

Sean paling tahu kakaknya jika sudah duduk di meja kantornya ia tidak akan ingat untuk sarapan. Jadi hari ini Sean memasang alarm agar bangun pagi untuk memastikan Devano sarapan sebelum bekerja.

"Emangnya lo bisa masak? Terakhir kali lo masak lo bikin gue sakit perut karena ga bisa bedain cabe dan bawang."

"Itu kan dulu. Sekarang udah lebih baik lah, gak akan bikin lo sakit perut palingan bikin lo diare." Sean nyengir menampilkan giginya.

Devano menatap Sean penuh kekesalan.

Sean menyelesaikan pekerjaannya kemudian menyuguhkan dua piring nasi goreng buatannya itu di meja makan. Ia kemudian mencondongkan badannya ke arah Devano dengan mata berbinar menunggu reaksi kakaknya.

"Gimana? Gimana? Enak kan?"

"Hmm.. Lumayan lah lebih layak di makan manusia."

Tidak puas dengan reaksi Devano, Sean pun ikut mencoba masakannya.

"WoaaAAHHHH!!!" Sean berteriak di sela-sela sedang mengunyah makanannya, tak lama dari itu ia bertepuk tangan, "Ini sih lebih dari lumayan. Waw gue bangga sama diri gue sendiri."

Devano tertawa kecil melihat tingkah Sean, adik kecilnya itu tumbuh begitu cepat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Devano tertawa kecil melihat tingkah Sean, adik kecilnya itu tumbuh begitu cepat.

Dulu ia sempat khawatir bagaimana ia dan Sean akan melanjutkan hidup. Mereka tidak mempunyai siapapun setelah kepergian kedua orangtuanya. Apalagi Sean, waktu itu Sean masih sangat kecil dan ia mengalami trauma setelah kepergian orangtuanya. Sean mengurung dirinya di kamar tanpa mau diajak bicara, juga tidak mau makan. Sean pasti sangat syok karena harus ditinggalkan orang yang paling ia sayangi sekaligus dan parahnya itu harus terjadi tepat di depan matanya.

Devano sudah berusaha sekeras mungkin untuk membujuknya, namun ia tidak juga berhasil. Ia menyerah, saat itu mentalnya juga sedang terserang. Menjadi seorang kakak bukan berarti ia kuat menghadapi kenyataan pahit ini. Devano kehilangan orangtuanya, otomatis kini tanggung jawab adiknya berada di tangannya, selain itu ia juga harus memikirkan bisnis yang ditinggalkan Papa.

Papa merupakan seorang Direktur di sebuah perusahaan besar ternama di Jakarta, kepergian beliau tentu saja membuat posisi Direktur kosong. Karena Papa tidak mempunyai saudara lagi, mau tak mau Devano harus mengisi kekosongan itu sebagai anak pertama keluarga Narendra. Untunglah kejeniusan Papanya menurun pada Devano, sehingga ia bisa lebih cepat menyelesaikan sekolah dan kuliah kemudian mulai menggeluti dunia bisnis.

Mengenai Sean, Devano juga bersyukur karena adiknya itu hanya mengurung diri selama kurang lebih satu bulan. Ia akhirnya keluar dari masa sulitnya dan mulai menjalani hidupnya, katanya percuma saja menangisi kedua orangtuanya yang sudah pasti tidak akan pernah kembali lagi, ia ingat bahwa saat ini ia masih mempunyai Devano, dan ia tidak mau sampai melewati moment-moment kebersamaan dengan kakaknya.

Sejak saat itu mereka saling berpegangan tangan untuk menjalani hidup. Saling mendorong juga menguatkan. Devano berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga adiknya sampai kapanpun. Ia akan selalu datang kapanpun dan di manapun Sean membutuhkannya tidak peduli saat itu ia sedang apa dan dimana. Bahkan sampai ke ujung dunia pun Devano akan datang, jika Sean memang membutuhkannya. Begitupun sebaliknya, Sean selalu berusaha untuk menjadi adik yang baik untuk Devano, ia berjanji tidak akan pernah membuat Devano kesusahan dan akan selalu ada disisinya. Sean juga selalu berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat Devano kecewa.

Tahun-tahun terberat pun berhasil mereka lalui. Devano berhasil menyesuaikan dirinya sebagai seorang Direktur diusianya yang begitu muda, begitupun Sean yang berhasil melewati masa remajanya tanpa kasih sayang orang tua. Kini keduanya sudah bahagia. Walaupun sebenarnya masih ada 1 hal yang belum Devano selesaikan. Kebenaran mengenai kepahitan lain keluarga ini yang belum Sean ketahui. Devano masih menunggu waktu yang tepat, karena ia takut Sean akan mengurung dirinya lagi seperti dulu.

"Gue udah liat wawancara lo kemaren, lo sekarang beneran udah mulai bisa pacaran?"

"Pacaran? Gue gak punya waktu."

Sean berdecak, Devano selalu seperti itu jika ditanya tentang kehidupan cintanya, "Cihhh, percuma ya lo ganteng, kaya, CEO tapi gak punya pacar."

"Gue jadi kasian, apa jangan-jangan kakak gue beneran gak ada yang mau?." Lanjut Sean dengan nada mengejek.

Devano memukul Sean dengan sendok, "Kasianin aja diri lo yang udah gede masih aja takut hantu." Devano beranjak setelah menghabiskan makanannya.

"KAK! IH SAKIT ANJIRR!!!" Sean memegangi kepalanya sedangkan Devano berlalu mengabaikan Sean. Diam-diam senyumnya terpatri di bibirnya. Sean tumbuh menjadi pribadi yang ceria, tanpa pernah memperlihatkan sedikitpun lukanya pada siapapun.

Devano bersyukur akan hal itu, dan semoga Sean selalu seperti itu tanpa pernah mengingat lagi lukanya.




🌻🌻🌻

Step Brother (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang