Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Devano, Emerald dan Yoana tiba di rumah terlebih dahulu. Devano memangku Yoana karena gadis itu masih tertidur dan ia tidak tega membangunkannya, Devano membawa Yoana ke kamar Emerald. Yah, ia sudah melewati hari paling berat hari ini, ia khawatir Yoana tidak baik-baik saja setelah bangun nanti.
"Sean lo bawa mobil?" Tanya Devano setelah mereka tiba di parkiran.
"Nggak, gue bawa motor. Kenapa emang?"
"Kalo gitu, Jeno kamu pulang bareng sama Sean aja ya? Biar Emerald pulang sama Kakak."
"Kenapa gak dua duanya aja pulang bareng lo Kak?" Protes Sean.
Devano tidak menjawab, ia langsung membawa Emerald masuk ke dalam mobilnya.
"Loh Kak Ana?" Emerald terkejut mendapati Yoana sudah tertidur di kursi belakang mobil, "Dia kenapa Kak?"
"Cuma ketiduran kok." Jawab Devano tenang.
"Tapi, kenapa?"
"She's having a complicated day today, soal kenapa kenapanya nanti kamu bisa tanyain langsung aja ke Yoana, kakak ngerasa gak berhak nyeritain masalah dia."
"Tapi kak Ana baik-baik aja kan Kak?"
"She will be fine." Ujar Devano sambil melihat Yoana yang sedang tertidur.
Emerald hanya menggemam bibirnya, "Tadi kakak gak angkat telpon Jeno karena lagi sama Kak Ana?"
Devano mengangguk, "Tadi pas mau nganterin Yoana ke rumah, kakak ngecek hp dan ada 3 panggilan gak terjawab dari Jeno. Tadinya kakak mau nganterin dulu Yoana ke rumah terus ke sekolah Jeno, tapi karena Jeno gak angkat balik telpon kakak, kakak jadi khawatir takutnya dia kenapa-napa. Jadi kakak bawa Yoana ke sekolah, dan kayaknya dia ketiduran pas lagi nungguin."
"Kakak nggak cape?"
"Cape kenapa?"
"Tadi pasti kakak lagi di kantor, terus harus nyusulin Kak Ana, abis itu nyusulin Jeno juga."
Devano tersenyum kecil, "Capek. Tapi kakak bahagia ngelakuinnya, karena mereka bukan orang lain kan buat kakak? Apalagi Jeno, dia tanggung jawab kakak yang paling utama."
"....."
"Yoana temen kakak, dia satu-satunya orang yang mau dengerin keluh kesah kakak. Jadi dia udah pasti bukan orang lain kan?"
Emerald menatap Devano kemudian tersenyum mengerti.