Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kai lo bisa anterin Klee pulang?"
Sebelum Kai sempat membalas, Klee sudah protes terlebih dahulu, "Nggak, gue gak akan pulang. Gue mau nunggu lo disini."
"Nanti nyokap bokap lo khawatir kalo lo gak pulang."
"Gue bisa telpon sekarang minta izin!"
Sean menghela nafas, "Klee, gue gak mau bokap nyokap lo khawatir, lagian nanti Kak Devano pasti kesini jadi lo gak perlu khawatir. Sekarang lo pulang dianterin Kai, ya?"
Klee menatap Sean dengan tatapan tidak suka namun akhirnya ia menuruti kemauan Sean. Tepat di depan pintu Klee menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sharene yang masih berdiam diri di sana, "Lo gak pulang?"
"Sharene pasti pulang, gue ada urusan dulu bentar sama dia."
Klee mendengus keras kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Kai thanks, sorry gue ngerepotin."
"Santai bro."
Kai dan Klee pun menghilang meninggalkan Sharene dan Sean berdua dalam ruangan.
"Gue juga mau pulang."
Sean menahan lengan Sharene. Raut wajah Sean saat ini terlihat serius tidak seperti biasanya, membuat Sharene mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Gue udah bilang gue mau ngomong sama lo."
"Yaudah cepet mau ngomong apa gue mau balik."
"Soal gue sama Klee-"
Sean tidak meneruskan kalimatnya karena ponselnya berdering. Nama 'Kak Devano' tertera di layar, sehingga Sean wajib menjawab dahulu telepon itu daripada berbicara dengan Sharene.
"Tunggu, kakak gue nelpon." Sean berjalan ke luar ruangan untuk mengangkat telepon dengan pincang karena kakinya yang masih sakit.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Sean meyakinkan Devano bahwa ia tidak apa-apa dan bahwa Devano tidak perlu kesini karena ada orang yang menemaninya. Sean pun masuk kembali ke dalam kamar dan menemukan Sharene sudah tertidur dengan kepala di pinggiran kasur dan tangan sebagai bantalan.
Sean tersenyum kecil kemudian bersusah payah memindahkan Sharene ke kasur dengan hati-hati agar gadis itu tidak terbangun. Kebetulan setelah berbicara dengan Devano, Sean menelpon nenek Sharene dan mengatakan bahwa cucunya itu ada disini menemani Sean. Sean memang berniat meminta Sharene untuk menemaninya karena membiarkannya pulang sendiri malam hari begini hanya akan membuatnya tidak bisa tidur karena khawatir. Sean menatap lekat wajah polos Sharene saat tidur, ia membenarkan anak rambut Sharene yang sedikit menghalangi kecantikannya, "Sorry, Rene. Gue emang pengecut."
🌻🌻🌻
Sharene membuka lagi matanya saat matahari sudah muncul, ia menggeliat kecil sebelum akhirnya tersadar dimana ia tidur. Buru-buru Sharene bangkit dari tidurnya dan melihat sekeliling untuk mencari Sean, namun lelaki itu tidak ada di manapun.