Dia sangat terpukul dengan mentalnya yang sekarang sungguh ia tidak sanggup jika harus mengungkit kejadian kelam itu lagi, tapi apakah ia harus seperti ini terus selamanya terpuruk dalam masa lalu.
Belum lagi ia harus menceritakan semuanya ke ica lambat laun pasti ica akan mengetahui semuanya, lebih baik ica tau dari dirinya dibanding ica mendengar hal ini dari orang lain.
Biarlah untuk sekarang dia belum siap untuk berbagi cerita dengan ica, dia masih trauma terkadang hanya mengingatnya saja bisa membawanya kembali ke masa itu dia tidak ingin membuat orang tua nya sedih lagi, mengingat keadaanya 4 tahun terakhir.
"Maafin aku ca" Gumam Alex yang memukul stirnya.
"Aku laki laki bodoh dan pengecut"
"Aku janji bakal ceritaiin semuanya ke kamu"
Alex pun mampir ke toko bunga dia sengaja membeli bunga lily untuk seseorang, mengingat betapa senangnya seseorang itu dengan bunga lily.
-----------
"Sin, bangun woi gila tidur udah kek keboo" Ucap ica yang melempar bantal ke wajah sinta.
"Apaansihh ganggu aja, udah pacaran sana jangan ganggu gue"
"Udah pulang doi gue"
"Yaudah pergi jangan ganggu gue"
"Gue juga gak sudi gangguin lo, tapi lo udah ditunggu cogan di bawah"
"Cogan" Sinta yang mendengar kata kata cogan pun langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.
"Bangke, urusan cogan cepet amat ketauan banget jomblo ngenes"
"Masih ada iler ga ca"
"Ngaca sana"
"Udah cantikkan"
"Ngaca sana"
"Lo mah gitu, yaudah gue turun dadah" Ucap Sinta yang sudah pergi.
Ica pun membaringkan tubuhnya dan mulai masuk ke alam mimpi.
Alvian yang sibuk dengan aktivitas merapikan rambutnya terhenti saat mendengar langkah kaki.
Lain dengan sinta yang langkah nya sudah sangat lesu melihat siapa cogan yang menunggunya, padahal ia berharap jika cogan yang sedang menunggunya adalah cowok yang berada di mimpinya tadi.
"Gue kira justin bieber yang nungguin gue" Cibir sinta yang sudah duduk tak jauh dari vian.
"Aku juga gak kalah sama Justin bieber yakan" Ucap vian yang menyisir rambutnya sok keren.
"Lo mah Justin bibir"
"Ngapain kesini"
"Buruan pulang"
"Sepet mata liat lo disini"
"Gue kesini pengen ketemu sama calon istri gue"
"Siapa? Ajeng"
"Bukan lah"
"Terus, ica?"
"Apalagi ica ya nggaklah kan dia udah ada doi"
"Ohh jadi maksud kamu kalo ica gak ada doi kamu mau?"
"Ciee aku kamu"
Sinta pun tersadar kenapa ia terlihat seperti seorang pacar yang menginterogasi doinya selingkuh, terus apa tadi dirinya memanggil dengan sebutan aku kamu, benar benar bukan dirinya.
"Udah deh, gue tanya mau" Kalimat Sinta terputus saat vian tiba tiba sudah berada di depannya sembari mengenggam erat tangannya.
"Dimata kamu aku seperti apa" Tanya vian dengan sorot mata yang serius.
Sinta yang memang tidak pernah ditatap seperti itupun merasakan nafasnya tercekat apalagi ia bisa melihat wajah vian sedekat ini.
"Ganteng banget sih" Batin Sinta.
"Okey gak perlu dijawab aku udah tau"
Sinta pun tersadar saat mata itu tak lagi menatapnya.
"Sok tau"
"Tanpa kamu jawab aku tau bahwa bagi kamu aku itu sempurna"
"Pd gila nih anak"
"Sana buruan pulang"
"Jawab pertanyaan aku dengan jujur, habis itu aku pulang"
"Apalagi sih"
"Apa alasan kamu gak pernah terima cinta aku"
"Karena lo itu ramah ke semua cewek" Ya hanya alasan itu yang membuat sinta dari SMP sampai sekarang tidak pernah menerima vian, pasalnya vian yang memang sedari smp sudah menjadi incaran bagi kaum cewek cewek pun di manfaatkan nya untuk ajang tebar pesona. Sinta yang memang saat itu belum mengenal vian pun sudah membuat note di otaknya bahwa cowok ini bukan idamannya sama sekali.
"Cuma itu"
"Ya"
"Okey mulai besok aku berubah untuk kamu"
"Kenapa untuk gue"
"Karena kamu lah satu satunya yang pantas aku perjuangkan"
"Busettt berat banget bahasa lo, udah sana pulang geli gue dari tadi denger aku kamu aku kamu"
"Aku pulang ya jangan lupa nanti malam"
"Nanti malam? Maksudnya"
"Mimpiin aku"
"Sapu mana sapuu, buruan pulang woii"
Vian pun berlari dan segera menaiki motornya, ia takut jika Sinta sudah berubah seperti itu hahhaha.
Tanpa sinta sadari ia tersenyum melihat vian yang tak pernah menyerah mengejarnya.
"Duhh nih jantung kenapa sih" Batin Sinta.
Prang!!!
Baru saja sinta naik ke atas langkahnya terhenti saat mendengar suara pecahan dari arah dapur.
"Sin, lo mecahin apa di dapur" Teriak ica yang terganggu tidurnya.
"Lo gak liat gue disini" Jawab sinta
"Periksa sana"
"Lo turun kita periksa sama sama"
"Dasar penakut"
"Buruan loncat aja gakpapa"
"Eek ucing, bisa ambyar gue"
Sesampainya di dapur ica dan Sinta terkejut melihat dapurnya hancur dan berserakan pecahan pecahan beling dimana mana
"Lo gakpapa jeng" Tanya Sinta khawatir.
Ica pun langsung teringat dengan ajengnya perasaanya sudah sangat tidak enak buru buru ia mengambil pecahan kaca di dekatnya.
"Lo mau apa hah?" Ucap ica yang mengarahkan pisaunya.
******
Jangan lupa tinggalkan jejak gengs, komen kritik kalian.
Ikrhyu16_
KAMU SEDANG MEMBACA
GhostFriend {TAMAT}
Random3 Sahabat yang bersekolah di salah satu sekolah yang tersimpan banyak misteri didalamnya. Ica Kayla Putry Ajeng Liora Sinta Caroline Saya ingin kamu mati... Janji lo bakal bertahan buat gue? Gue bakal bertahan buat kalian sekalipun nanti hanya...
