Bab 3

509 107 71
                                    

Hai semuanya, udah bab 3 nih. Rencananya cerita ini nggak mau terlalu panjang kayak ceritaku yang lain, tapi nggak tau deh. Soalnya aku terbiasa bikin cerita panjang :'D

Jangan lupa klik bintangnya, sekalian kasih kritik atau saran di kolom komentar yaa !

Happy reading ❤

• • • • •

Beomgyu berjalan di koridor sekolahnya, untuk kembali ke kelas. Mulutnya masih senantiasa mengemut lolipop manis itu.

Tanpa sengaja ia melihat Chaeri sedang berjalan dengan kursi rodanya sendirian. Di pangkuannya terdapat beberapa buku paket, tidak terlalu banyak sih. Tapi terlihat berat.

Sepertinya ada seorang guru yang menyuruhnya untuk mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan.

Tapi secara spontan otak cerdas Beomgyu bekerja, menyusun rencana kejamnya. Lalu disusul seringaian yang terbit di bibirnya.

Pria itu lalu dengan sengaja mempercepat langkahnya sambil bersiul, juga sengaja tidak melihat ke depan.

Sampai akhirnya mereka bertabrakan, karena Chaeri juga tidak bisa mengontrol laju kursi rodanya.

Pada akhirnya buku-buku itu terjatuh, tapi untungnya Chaeri tidak. Gadis itu dengan kuat menggenggam pegangan kursi roda.

Beomgyu yang tidak terjatuh hanya menatap Chaeri yang raut wajahnya sudah panik. Sepertinya gadis itu terkejut serta ketakutan.

Ekspresinya terlihat menyenangkan di mata Beomgyu.

Lalu tanpa menunggu lama, koridor sudah penuh dengan lingkaran orang-orang. Layaknya menonton sebuah pertandingan.

Gadis itu mengangkat kepalanya, sedikit terkejut karena mendapati wajah Beomgyu yang selalu datar.

“Kau ...” lirihnya tak percaya. Sedikit kecewa, karena walau pria itu tahu kakinya tidak baik-baik saja, tapi ia tetap tega melakukan itu padanya.

Di hadapannya, Beomgyu masih menatapnya dingin. Tapi kemudian kalau Chaeri tidak salah lihat, pria itu menyunggingkan senyum miring. Tipis sekali.

“Maaf, aku sengaja.”

Setelahnya Beomgyu pergi begitu saja, membelah kerumunan orang-orang untuk kembali ke kelasnya.

Meninggalkan Chaeri yang masih menggigit bibir, bingung untuk membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai. Karena dari banyaknya orang-orang yang mengelilinginya, tidak ada satu pun yang berminat membantu.

Namun tiba-tiba ada ada seseorang yang berjongkok di depannya, memunguti buku-buku itu lalu menumpuknya menjadi satu.

Pria itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum. Senyum yang manis sekali, Chaeri sampai merasa ada lelehan madu yang sengaja ditumpahkan di bibirnya setiap itu tersenyum.

“Aku bantu, ya,” ucap pria itu. Bahkan suaranya manis sekali.

“T-Terimakasih,” sahut Chaeri sedikit gugup.

“Aku Lee Eunsang, sekelas denganmu. Tidak usah gugup begitu.”

Perlahan Chaeri tersenyum. “Park Chaeri imnida.”

LimerenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang