Darby's POV
Tangan gua bergetar saat melihat tatapan mematikan dari Mingyu yang dilemparkan ke Jaehyun. Jaehyun cuma bisa pasrah dan menunduk.
Gua menghapus air mata gua dan memegang tangan Mingyu, tepatnya untuk menghalangi Mingyu untuk membuat keributan di cafe ini.
"Mana janji lu?" Tanya Mingyu.
"Gyu, lu mesti ngerti posisi dia, Gyu. Gua sama dia diem-dieman, Gyu. Kan dia udah ceritain semuanya." Kata gua.
"Dia juga udah minta maaf, Gyu."
Gua sama Jaehyun pergi ke Bandung karna katanya Jaehyun mau ketemu Mingyu dan minta maaf ke Mingyu buat kejadian tiga hari lalu.
Jaehyun masih menundukan kepalanya, menatap ke tanah dan gua masih berusaha buat meredakan emosinya Mingyu.
"Gyu."
Gua menyentuh pipinya Mingyu dan mengarahkan wajahnya ke gua. Tatapan tajam Mingyu berubah jadi tatapan sendu saat menatap gua.
"Maafin gua." Kata Mingyu, tangannya meremas kedua bahu gua. Matanya bergetar dan suaranya juga bergetar.
"Gua mau ngobrol berdua sama Darby." Mingyu berdiri dan menarik gua keluar dari cafe, meninggalkan Jaehyun sendirian yang masih memilih untuk diam.
Jantung gua berdegup kencang saat Mingyu bilang dia mau ngobrol empat mata sama gua. Gua nggak pernah ngeliat tatapan Mingyu setajam tadi. Pertama kalinya gua melihat tatapan dia setajam tadi. Yang bikin gua sedih, dia melempar tatapan itu buat Jaehyun, orang yang gua sayang.
Mingyu mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak-acak rambutnya. Gua sedih karna ngeliat Mingyu frustasi kayak gini selalu karna gua. Karna gua yang ngebandel dan gua nggak tau diri. Yang bikin dia pusing pasti selalu karna gua.
"By, perlu gua pindah ke Jakarta?" Tanya Mingyu.
"Gyu, gua janji! Gua nggak bakal ke tempat itu lagi. Lu jangan khawatirin gua terus, Gyu." Kata gua.
Mingyu mengerutkan kedua alisnya dan mencondongkan badannya ke depan. Nafas gua tercekat ngeliat matanya Mingyu yang berapi-api.
"Setelah apa yang lu laluin, lu bilang ke gua nggak perlu khawatirin lu? Lu kira cowok lu itu becus jagain lu?" Tanya Mingyu.
Dia memundurkan badannya dan melipat kedua tangannya. Dia membelakangi gua, gua bisa mendengar dia membuang nafasanya dengan kasar. Sekarang tangan gua udah basah karna keringat, padahal malam ini cukup dingin.
Mingyu memutar badannya lagi, "By, gua sayang banget sama lu, By. Lu tau sendiri lu itu udah kayak adik gua." Kata Mingyu.
"Gua bahkan nggak bisa milih lu atau Minseo. Gua sayang banget sama lu, By. Lu orang yang berharga banget buat gua." Kata Mingyu.
Air mata gua terjatuh setelah mendengar ucapan tulus yang keluar dari bibir Mingyu. Gua tersentuh mendengar kata-kata Mingyu. Dia nggak pernah gagal ngebuat gua merasa berharga. Bahkan dengan mudahnya dia bisa merubah pikiran gua secepat kilat.
Mingyu menarik gua ke pelukannya dan memberikan gua kehangatan yang luar biasa, lalu kepala gua bersender di dada bidangnya.
"By, mama lu, kembar, Mia, gua, Vernon, Wonwoo. Wonwoo, By. Jangan pernah tinggalin kita, By." Kata Mingyu.
"Kalo lu sayang sama Jaehyun, lu juga bisa bikin Jaehyun hancur karna kepergian lu, By. Gua yakin lu nggak mau ngeliat dia hancur." Lanjut Mingyu.
Gua sebenarnya sedikit terkejut karna Mingyu yang menyebut nama Jaehyun dan menjadikan dia alasan buat gua tetap bertahan.
"Gua tau dia juga sayang banget sama lu, By. Jangan pernah berpikir buat pergi, By. Biarin ini jadi yang terakhir." Kata Mingyu.
KAMU SEDANG MEMBACA
✔️Unspoken ; Jung Jaehyun
Fiksi Penggemar𝒖𝒏·𝒔𝒑𝒐·𝒌𝒆𝒏 /ˌə𝒏ˈ𝒔𝒑ō𝒌ə𝒏/ (𝘢𝘥𝘫.) 𝘯𝘰𝘵 𝘦𝘹𝘱𝘳𝘦𝘴𝘴𝘦𝘥 𝘪𝘯 𝘴𝘱𝘦𝘦𝘤𝘩; 𝘵𝘢𝘤𝘪𝘵. • • • Warn! - kata kasar! - typo bertebaran.
