• Flashback On •
Mungkin sekarang udah jadi waktu yang tepat buat gua untuk pergi. Semuanya bakal lebih baik kalo gua pergi.
"I am sorry."
Gua ngeliat ke bawah, tempat gua berada sekarang cukup tinggi. Nggak sampe selangkah lagi, semuanya bakalan selesai.
Gua capek sama keadaan keluarga gua sekarang. Dikhianatin sama bokap sendiri, kakak gua pergi, gua diomongin karna latar belakang keluarga gua.
This is the best way for me.
Gua ngelap air mata gua yang udah jatuh berjam-jam. Keputusan gua udah bulet. Gua mau nyusul Cady di sana. Cady pergi juga karna gua yang gagal ngawasin dia.
"Hey!"
Gua sadar ada yang dateng ke rooftop sekolah, gua pun berusaha mempercepat semuanya, tapi nggak gua sangka dia lebih cepet.
"Lo gila?!"
"KENAPA LO TAHAN GUE HAH?!"
Gua terduduk dan menangis sekenceng-kencengnya. Gua pun berteriak buat ngeluarin semua emosi yang ada.
"Hidup lu berharga."
"LU TAU APA?!"
Dia ngangkat gua dan narik gua ke pelukannya. Untuk pertama kalinya, selain keluarga gua, ada yang meluk gua senyaman dia.
"Tenangin diri lu. Jangan cepet ambil keputusan." Katanya.
"Gua nggak tau apa yang lu lewatin dan seberat apa beban yang lu pikul. Tapi, gua yakin lu kuat. Hidup lu berharga."
Gua ketawa di sela-sela tangisan gua. Gua ngelepas pelukan gua darinya dan ngedorong badan besarnya.
"Emang lu tau apa soal gua, Kim Mingyu? Lu baru tau gua selama sebulan terakhir ini doang, kan?" Kata gua.
"Sorry kalo misalnya gua sotoy. Tapi, lu jangan pake cara ini buat lari dari masalah lu. Lu bisa ngebayangin nggak hancurnya nyokap lu nanti?"
Rasanya seperti ada petir yang nyamber tubuh gua. Gua teringat keadaan mama yang lagi hancur banget. Setelah ditinggal papa, nggak lama, mama ditinggal putrinya, Cady.
"Lu nggak perlu dengerin kata orang-orang lain juga, Darby. Kalo ada yang ngomongin lu, lu langsung maki aja di depan mukanya." Kata Mingyu.
"Gua yakin lu kuat."
Gua geleng-geleng dan ngelanjutin tangisan gua. Gua nggak kuat, sama sekali nggak kuat. Gua udah nyerah.
"Gua lebih baik hidup susah di dunia yang sementara daripada harus dikurung di neraka selamanya karna satu kebodohan gua di dunia." Kata Mingyu.
"Let's be friend. I'll look after you."
Gua mendongakan kepala gua dan ngeliat dia dengan tatapan kaget atau tepatnya nggak percaya. Gua nggak bisa bohong kalo gua seneng ada yang mau nerima kekurangan gua.
"You really wanna be friends with me? This useless shit?" Tanya gua memastikan sambil nunjuk muka gua, mata gua berkaca-kaca lagi.
"Yes. You deserve better."
• Flashback Off •
Gua naroh handuk gua setelah ngeringin rambut gua. Gua turun ke bawah buat nyamperin Mingyu sama Taehyung yang udah siap buat sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
✔️Unspoken ; Jung Jaehyun
Fiksi Penggemar𝒖𝒏·𝒔𝒑𝒐·𝒌𝒆𝒏 /ˌə𝒏ˈ𝒔𝒑ō𝒌ə𝒏/ (𝘢𝘥𝘫.) 𝘯𝘰𝘵 𝘦𝘹𝘱𝘳𝘦𝘴𝘴𝘦𝘥 𝘪𝘯 𝘴𝘱𝘦𝘦𝘤𝘩; 𝘵𝘢𝘤𝘪𝘵. • • • Warn! - kata kasar! - typo bertebaran.
