31.

1.1K 125 16
                                        


Gua turun dari mobil gua dan berjalan masuk ke halaman rumah Lily. Gua memencet belnya dengan agresif.

"Ya? Ada ap-"

Plak!

Belom sempat Lily selesai ngomong, gua udah mendaratkan tamparan gua yang keras lebih dulu di pipinya. Gua nggak peduli sesakit apa dia sekarang, intinya dia pantes dapet tamparan dari gua.

"APA MAKSUD LU?!" Tanyanya.

Gua ngedorong badannya ke dalam rumah dan gua ikut masuk ke dalem rumahnya. Dia keliatan sama sekali nggak takut.

"Lu kan yang bilang gua pansos sama Hanbin?" Tanya gua sambil menunjuk mukanya.

Dia terkekeh, "Gua udah bilang kan sebelumnya. Gua udah kasih peringatan sebelumnya ke lu kalo lu lupa." Kata Lily.

Gua mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari tangga. Gua bisa liat Isabela yang turun tergesa-gesa dari atas.

"Kamu ngapain?!" Tanya Isabela.

"Tanya anak lu!" Jawab gua.

Isabela mendekat ke arah gua dengan ekspresi marahnya. Gua pun berjalan mendekat ke dia, tepatnya gua menantang dia.

"Mulut kamu dijaga. Saya juga harus kamu hormati." Katanya.

Gua tertawa, "Kalo lu baik, gua bisa hormatin lu. Tapi, lu ngaca dong! Lu nggak pantes dihormatin." Kata gua.

Plak!

Tamparannya Isabela cukup keras kali ini, lebih keras dari sebelumnya. Gua tertawa renyah setelah mendapat perlakuan tersebut dari dia.

Plak!

"Lu pikir gua bakal diem aja setelah ditampar sama lu?" Tanya gua setelah berhasil menampar mukanya.

"ANAK KURANG AJAR!!!"

Gua tersenyum miring dan mengangkat kedua alis gua buat menantang Isabela yang keliatan frustasi sampe dia teriak kayak gitu.

"Ada kaca, kan?" Tanya gua supaya Isabela makin panas.

"Kan kalian orang kaya." Kata gua.

"AAAA!!!"

Isabela berlari ke arah gua dan menjambak rambut gua. Tapi, itu nggak bertahan lama karna tenaga gua lebih besar dari dia dan gua mendorong dia supaya dia menjauh dari gua.

"Bangsat lo!" Kata Lily sambil mendorong badan gua.

Plak!

Plak!

Plak!

Beberapa tamparan berhasil mendarat di pipi gua bagaikan combo dalam game. Yang jelas tamparan itu berasal dari tangan Lily. Tamparannya keras sampai gua jatuh di lantai. Gua merasakan bibir gua yang perih dan mengeluarkan tetesan berwarna merah.

"Sor- Apaan ini?!"

Gua, Isabela, dan Lily menoleh ke arah pintu rumah. Di sana papa berdiri dengan tampang kagetnya ke arah gua, Isabela, dan Lily.

"DARBY!"

Gua kaget pas papa meneriaki nama gua. Nafas papa memburu setelah ngeliat keadaan rumahnya dengan mata kepalanya sendiri.

"Kenapa?" Tanya gua santai.

"Harus berapa kali papa bilang kalo dia itu juga ma-"

"MAMA DARBY CUMA SATU!" Potong gua.

Gua paling benci kalo gua disuruh nanggepin Isabela sebagai mama gua yang harus gua hormati juga. Seumur hidup gua, gua nggak bakalan ngakuin dia sebagai keluarga gua.

✔️Unspoken ; Jung JaehyunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang