Alexandra & Alfanso 38
“puas lo?!”
“a … apa yang terjadi Tom?” tanya Alfans dengan mulut yang gemetar.
“lo masih gak tau apa yang udah terjadi?” tanya Tommy kesal dengan emosi yang ingin segera ia luapkan.
“puas lo Fans, lo udah mengulangi kesalahan yang sama seperti yang lo pernah perbuat pada Anggel!”
“nggak!! Gak mumgin Tom. Ini semua gak mungkin terjadi.”
Plakk
Tommy menampar laki-laki itu lagi. “ini untuk Anggel.”
Plakk.. tangan Tommy kembali mendarat di sisi wajah Alfans. “dan ini untuk Alexa.”
“gue gak nyangka lo udah lakuin ini.”
“Tom,”
“cukup. Dulu lo boleh merasa benar karna lo memang dijebak. Tapi sekarang gue gak mau dengar alasan itu lagi.”
“Alexa bukan Anggel. Dia istri lo Fans.”
Setelah mengatakan itu Tommy keluar sambil menutup pintu dengan sangat kencang sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Dia benar-benar tidak habis fikir sahabatnya bisa melakukan ini. Bukan karna Alfans menyentuh istrinya, tapi karna Tommy tau Alfans tidak benar-benar tulus melakukannya melainkan karna tidak bisa melupakan Rosa. “pengecut!!”
“nggak mungkin!!” Alfanso berusaha mengingat kejadian semalam. Namun kepalanya terasa sakit saat mencobanya. Apa yang sebenarnya terjadi? “kenapa gue bisa disini?” bertanya-tanya kenapa dia bisa ada dikamar Alexa. Alfanso masih belum bisa menerima semua ini. Tidak mungkin itu terulang lagi. Dia tidak mau kesalahan yang pernah diperbuatnya bersama Anggel terulang pada Alexa.
Alfanso langsung mengambil ponselnya di atas nakas dan segera menelvon seseorang.
“Fictor dimana istri saya?”
“nona Alexa sudah pergi pagi-pagi sekali ke sekolah pak.”
Alfanso melihat semua lemari Alexa terbuka dan isinya sudah kosong. “kau yakin dia pergi ke sekolah?” tanya Alfanso memastikan.
“saya yakin sekali, saya sendiri yang memesankan taksi untuknya. Dia bilang harus pergi ceepat karna ada ujian.”
“baiklah kalau begitu, kirimkan aku Salinan cctv apartemen lantai 12.”
“sial!” teriak Alfanso seraya membanting ponselnya ke lantai. Dia benar-benar ingin mengingat semuanya tapi tidak bisa. Sekarang Alfanso hanya berharap semoga apa yang dikatakan Tommy tidak benar dan dia tidak melakukan hal itu.
**
“yeayy, akhirnya kelar juga.” Lega Lalisa saat keluar dari ruang ujian.
“iya nih gue lega banget. Semoga nilai gue baguss.” Optimis anak lainnya. Mereka harap mendapatkan hasil yang maksimal. setelah meninggalkan sekolah ini akan banyak kenangan yang tak bisa diulang kembali. “eh guys kita poto bareng yu!”
Cekrak cekrekk..
Banyak foto dengan fose dan gaya bebasnya masing-masing. Yang langsung di upload di ig salah satu anak kelas 12 ipa 1. Ini akan jadi foto kenangan selama bersekolah di sini. Masa-masa putih abu-abu yang tak mungkin terulang kembali.
“guys gue pergi dulu ya. Ada urusan.” Pamit Prianca pada sahabat dan kawan sekelasnya yang lain.
“tunggu Sa!” sela Alexa mencekal pergelangan tangan Prianca membuat langkah gadis itu terhenti.
“ada apasih?”
“akhir-akhir ini lo berubah, gue harap gak ada kesalahan yang udah gue buat.” Ucap Alex seraya menatap dalam sahabatnya.
Prianca menghela nafas jengah. “apaan sih lo,”
“gue tau lo Sa, belakangan ini lo udah jarang cerita, bahkan lo sering gak ada kalo kita lagi ngumpul.”
“gue jarang cerita karna lo jarang punya waktu buat dengerin cerita gue. Lagian lo juga gak pernah cerita kan tentang urusan lo? Sahabat macam apa lo Lex?!”
Alexa diam mendengar pernyataan Prianca. Selama ini dia memang sibuk dengan urusannya, mungkin ada suatu kejadian yang terlewatkan olehnya disaat Prianca ingin mencurhatkan semuanya. “gue minta maaf Sa, gue janji akan ceritain semuanya ke elo dari awal sampai akhir dan gue akan dengerin cerita lo.”
“terlambat! Nyokap gue udah cerai, abang gue dipenjara, papa pergi dan orang yang gue suka udah jadi milik orang lain.” Air mata mulai menetes dari mata Prianca membuat Alexa merasa bersalah, kemana saja dia selama ini saat sahabatnya sedang mengalami masalah? Sejak awal Alex tau betapa beratnya hidup jadi Prianca, dan sejak saat itu dia berjanji akan selalu menemani Prianca menghadapi masalahnya. Karna memang Prianca hanya mau terbuka dengannya.
“kemana aja lo saat gue telvon pengen ketemu. Kemana aja lo saat gue curhat tentang Andre?” celetuk Prianca. Mengungkapkan perasaan yang dia pendam selama ini.
Alexa membulatkan matanya, saat mendengar pengakuan Prianca. Ternyata selama ini dialah yang selalu dibicarakan oleh Sasa, “Sa,”
“apa Lex, puas lo sekarang?”
“maaf Sa, gue bener-bener gak tau kalo selama ini lo suka sama Andre.”
“gue gak butuh maaf lo. asal lo tau gue udah suka sama Andre jauh dari sebelum lo kenal dia. Tapi kenapa lo gebet dia Lex.”
“karna gue gak tau kalau cowok yang lo ceritain ke gue itu Andre Sa.”
“Sasa!” panggil Alexa saat punggung Prianca mulai menjauh. Dia benar-benar merasa bersalah setelah tau kenyataan ini.
“udah nggak usah dikejar.” Tahan Prianca saat Alexa mematung diujung koridor yang sunyi. “ini bukan salah lo,”
‘”tapi lis,”
“Lex, kalo dia ma uterus terang dari awal juga nggak akan kaya gini. Gue yakin dia dalang dibalik putusnya hubungan lo.”
“gue tau itu Lis, dan itu semua udah gak penting. Gue Cuma mau sahabat gue kembali.”
“hhaa sayang.” Lisa berhambur kepelukan Alexa. Mereka berdua saling berpelukan.
“tapi gue udah gak punya waktu untuk memperbaiki kesalahan ini Lis.” Lirih Alexa.
“lo kenapa Lex?”
“gapapa kok, gue harus pulang sekarang.”
“ehh tapikan kita belum ketemu Tender. Gue udah lama banget gak ketemu tuh bocah. Kanget pengen jitak pala nya.” Kekeh Lalisa mencairkan suasana sambil mempraktekan adegan menjitak kepala Tender pada dinding.
“gue gabisa hari ini sayang, lain kali aja ya.”
“yaudah deh.” Mereka berdua berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Dan sudah ada jemputan Lalisa yang menunggu. “daah, next kita ketemuan ya!” Lalisa melambaikan tangan dan salam perpisahan.
‘gue gabisa ketemuan lagi sama lo Lis’
Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan Alexa. Seorang laki-laki paruh baya itu menongolkan kepalanya keluar jendela modil. “hei.”
“papa!” pekik Alexa saat tau siapa orang didalam mobil itu.
“kamu ngapain bengong disitu?” tanya Herland sembari turun dari mobilnya. Ahh Alexa sudah sangat rindu dengan papanya. Beruntungnya dia bisa bertemu papa disini. Karna mamanya sudah melarangnya untuk pulang apalagi menemui sang papa.
Alexa berhambur ke pelukan Herland. Mencurahkan rasa rindu yang sudah lama terpendam. Ayah dan anak itu larut dalam pelukan hangat. “Alexa kangen sama papa.”
“cengeng ih, anak papa.” Cubit Herland papa pipi menggemaskan putrinya membuat Alexa mengaduh kesakitan.
“sendirian aja?”
“iya pah.”
“Alfans mana?” tanya Herland yang membuat Alexa seketika bingung harus menjawab apa. Sudah lama Alfans tak pernah mengantar jemputnya kesekolah.
“mungkin sibuk pah dikantor. Katanya sih ada meeting.”
“papa sendiri gak kekantor?”
“gausah bohong.”
Alexa diam. “ayo masuk!” Alexa pun masuk kedalam mobil papanya. Didalam mobil mereka berbincang banyak.
“papa tau hubungan kalian kurang baik.”
“dan papa juga tau apa masalahnya.”
“papa gak marah?” tanya Alexa ragu. Dia takut papanya akan marah seperti mamanya.
Alexa hanya diam saat papanya membahas hal itu. “maafkan papa Alexa, ini semua salah papa nak.”
“papa jangan bilang begitu, ini semua bukan salah papa.”
“ini salah papa sayang, kalo papa gak maksa kamu nikah dengan laki-laki itu pasti kamu bahagia sekarang. Dan kamu nggak harus mengalami semua ini.”
Entah harus pura-pura seperti apa lagi Alexa sekarang. Dia sebenarnya tidak mengerti apa maksud papanya. Namun dia tidak ingin papanya terus kepikiran masalahnya.
‘Apa sebenarnya papa udah tau?’
“maafkan mamamu juga ya, mama hanya sedang emosi.”
“iya pa, Alex udah maafin mama. Terimakasih karna papa nggak marah sama Alexa.”
**
“Lex, kita udah sampe.” Ucap Herland pelan. Laki-laki itu membuyarkan lamunan anaknya Alexa.
“hei, sayang kamu gapapa?” tanya herland sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Allexa.
“I.. iya gapapa kok pah.” Jawab Alexa sambil menyembunyikan wajah risaunya walaupun kini matanya sudah berkaca-kaca. Melihat gedung apartemen ini membuatnya mengingat kejadian semalam.
“apa ada yang belum kamu ceritain ke papa?”
“nggak ada kok pah, yaudah Alexa kedalam dulu ya.”
“Alexa,” panggil Herland saat Alexa ingin keluar dari mobil.
“iya pah.” Alexa menghentikan langkahnya.
“papa harap seberat apapun masalah rumah tanggamu saat ini, kamu harus coba pertahankan ya.”
Alexa tersenyum. “akan Alexa coba pa.”
“yaudah papa pergi dulu, jangan lupa main kerumah temui mamamu.”
Setelah mengucapkan itu, papa Alexa pun pergi meninggalkan area apartemen.
“nona Alexa,”
“pak. Pak, itu nona Alexa pak.” Panggil Fictor sambil mengarahkan telunjuknya kearah Alexa berdiri.
“Alexa tunggu!”
“yaampun kak Alfans,” Alexa panik Buru-buru dia menyeret kopernya turun dari tangga dan segera masuk ke mobil yang sudah ia pesan melalui aplikasi online.
“Alexa!”
“cepat ambilkan mobil!” perintah Alfans. Meremas rambut kepalanya. Dia benar-benar pergi? Pasti sudah terjadi sesuatu.
Alexa memilin rok sekolahnya. Dia benar-benar takut melihat Alfans. Entah sampai kapan dia akan menghindar seperti ini? Untuk sementara malam ini dia harus mencari tempat untuk bermalam sebelum keberangkatannya meninggalkan Jakarta.
“sial!” umpat Alfanso.
“mau pergi kemana sih lo Alexa?”
“harusnya lo jelasin ke gue,”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alexandra~Alfanso❤ (End)
Fiksi Remajaistri kedua "jadi Alexa mau dijadiin istri kedua?" Alexa menjambak rambutnya frustasi. "Ini nggak mungkin. Tolongin Alexa!" "Gue nggak tau pasti tentang semua ini, tapi gue jamin info yang gue dapetin ini akurat." "Kalau memang Reonaldo Alfanso in...
