Assalamualaikum guys
Update lagi ya. Jangan lupa vote sebelum baca ya..,
Tandai typo.
.“udah Ndre.” Caterin menyudahi suapanny. Sementara Andre terus membujuk Caterin untuk makan. Dia masih telaten menyuapi Caterin yang terbaring diatas Kasur kamarnya.
“Andre ambilin aku minum!”
“air nya habis, aku ke dapur dulu ya.”
Caterin tersenyum puas. Andre selalu mencurahkan waktu dan perhatiannya, membuat Caterin merasa nyaman didekat cowok itu. tidak sia-sia pengorbanan yang dia lakukan selama ini. Akhirnya Andre luluh juga.
“duh kebelet lagi.” Caterin buru-buru lari ke kamar mandi memenuhi panggilan alamnya sebelum Andre kembali.
“Cat!” Andre kembali ke kamar Caterin dengan membawa segelas air putih untuk gadis itu. namun saat Andre kembali Caterin tidak ada di kamarnya.
“Caterin?” Andre mencari-cari Caterin ke seisi kamar, namun Caterin taka da disana membuat Andre jadi khawatir. Namun saat mendengan gemercik air dari arah kamar mandi, Andre bisa bernafas lega.
Andre tak sengaja menjatuhkan tempat obat Caterin, matanya membulat saat memeriksa obat itu. ‘obat sakit kepala, jadi selama ini?’ Andre mengobrak-abrik seisi kamar itu dan akhirnya menemukan sesuatu yang dapat membuktikan kebenaran ini. Dia menemukan kemasan obat asli yang sudah dikupas. Andre meremasnya, dia benar-benar sudah emosi ditipu mentah-mentah oleh gadis itu.
“Andre, kok berantakan gini sih?” Caterin kaget melihat kamarnya berantakan, selimut dan bantalnya berserakan dimana-mana. Dan laci-laci mejanya terbuka.
“Andre lo ngapain buka-buka laci gue?”
“cukup Caterin!!! Sekarang lo jawab pertanyaan gue!” bentak Andre dengan suara yang memburu karna emosi. “apa maksudnya ini?”
“Ndre, gue bisa jelasin---“
“nggak ada yang perlu dijelasin, gue nggak nyangka ternyata lo itu nggak lebih dari seorang penipu. Cihhh!” sebelum kesabarannya habis, dan akhirnya emosinya kelewat batas. Andre memilih pergi meninggalkan Caterin yang terus memohon. “Andre, please jangan tinggalain gue Nde!”
“Andreeee!!!”
“puas lo, udah ngehancurin hidup gue. Jangan pergi Andre!!” teriak Caterin tak terima. Dia benar-benar sudah hilang kendali. Dia tak mau jika Andrenya pergi.
“nggak salah lo ngomong begitu? Seharusnya gue yang bilang ke lo. Kalo bukan perempuan udah gue habisin lo sekarang juga!” Andre mengepalkan tangannya. “gara-gara ulah lo hubungan gue hancur!!”
“Andre! Lo mau kemana? Jangan-jangan lo mau nemuin cewek murahan itu.”
Plakk..
Caterin memegang pipinya yang memerah karena tamparan Andre. Mulutnya bergetar ketakutan saat Andre menatapnya dtajam. “jangan pernah lo bawa-bawa Alexa CEWEK MURAHAN!!” Andre memberi penekanan pada kalimatnya.
“Andreee!!”
Andre berjalan memasuki mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah Alexa. Dia membanting pintu mobil itu dengan kasar. Jika tidak cepat pergi dari sini, maka tamat riwayat gadis itu. sekarang dia benar-benar sudah kehilangan segalanya dengan mempercayai Caterin. Sekarang dia harus mencari gadisnya.
“aaaahhhh sial!!!”
**
Alexa sedang berada di sebuah cave menikmati kopinya. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan kejenuhannya setelah melewati semua yang terjadi sambil menata kembali hidupnya yang tak jelas.
Entahlah, sebenarnya Alexa tipe orang yang malas berfikir. Tapi ternyata hidup memaksanya untuk itu. sejak kecil dia tidak perlu repot-repot memikirkan segala hal. Hanya perlu menikmati hidup atas segala harta dan tahta yang dimiliki orang tuanya. Tapi ternyata memang benar, hidup ini hanya sementara, semuanya bisa hilang seketika jika kita tidak bersyukur.
“hai.” Sapa seseorang tiba-tiba saja mengagetkannya.
“hai anak manis.” Sapa Alexa tidak kalah manis dari ucapannya. Wajah Gilang memang manis seperti gulali dan permen lolypop kesukaannya. Tidak disangka bocah yang manis ini adalah anak tiri nya.
Gilang tersenyum menunjukkan deretan giginya. “kakak cantik ngapain disini?”
“lagi minum kopi. Gilang sendiri ngapain disini?”
Tiba-tiba saja raut wajah Gilang berubah menjadi murung. Dia menunduk sambil menunjukkan kesedihannya.
Kaos putih, celana pendek dan tas ransel diselempang di sisi bahunya. Anak ini benar-benar terlihat cool meskipun usianya masih kecil. Tapi itu mengingatkan Alexa akan kejadian di malam prom night. Entah apa yang dilakukannya disini tanpa pengawasan orang dewasa, padahal cave ini sangat dekat dengan jalan raya yang ramai. Apa dia kesini sendirian saja? Dimana orang tuanya?
“Gilang mau jalan-jalan.”
“kakak temannya Daddy kan?”
Pertanyaan Gilang yang sontak saja membuat Alexa ingin menyemburkan kopi yang hampir melewati tenggorokannya. Saat Gilang menunjukkan wajah poppy eyes nya, Alexa jadi merasa iba. Sepertinya Gilang sangat merindukan ayahnya.
“aku pergi dulu!”
Bukan Alexa membenci anak itu, namun dia tidak mau mengungkit masalalu itu lagi. Anak itu mengingatkannya pada Alfans.
“aku mohon bawa aku jalan-jalan!” pinta Gilang sambil menahan tangan Alexa. Anak ini benar-benar niat sekali untuk jalan-jalan.
“tidak bisa! Jalan-jalan sana sama mamamu.”
“bawa aku ke Daddy, Gilang mau ketemu daddy. Kakak pasti tau dimana daddy gilang kan?”
Lama kelamaan anak ini membuat kepala Alexa sakit. Sebenarnya dia kurang suka anak-anak.
Meskipun sebenarnya dia kasihan pada anak itu. entah apa yang sudah terjadi dengan orang tuanya, sampai Gilang berpisah dengan ayahnya?
“dengar ya, aku mana tau dimana daddy kamu. Lagian ngapain kamu nanya-nanya soal dia ke aku? Tanya aja sana sama ibu kamu!”
Seketika Gilang berhenti berontak. Mulutnya bergetar setelah Alexa membentaknya. Sepertinya sebentar lagi anak itu akan menangis meraung-raung. Lihat saja wajahnya yang mulai memerah dengan air mata yang hampir goal jatuh di pipi mulusnya. Alexa jadi merasa bersalah karna sudah terbawa emosi.
Namun diluar dugaan, Gilang ternyata anak yang kuat menahan air mata. Dia tidak menangis sama sekali, meskipun Alexa tau anak itu pasti sedih.
“Gilang, tunggu!” panggil Alexa penuh penyesalan.
Tubuh Gilang mulai menjauh keluar dari cave itu. ia mencoba mengejar tubuh kecil itu, tetapi Gilang begitu lincah dan menghilang entah kemana.
“apa yang kamu lakukan pada Gilang!” nada tinggi itu tiba-tiba saja menahan langkah kaki Alexa dan membuatnya menoleh.
“Tommy……., gue nggak bermaksud.” Tommy mengusap dahinya.
“Alexa kau sangat tega jika membuat anak itu menangis. Gilang selalu diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Ayahnya bahkan tidak pernah menyayanginya dan tak mengakuinya sebagai anak.” Darah Alexa berdesir mendengar penuturan Tommy. “maaf,, g gue juga lagi banyak masalah.” Alexa berderap meninggalkan Tommy yang menghela nafas.
“seharusnya kamu selesaikan masalah kamu tanpa harus melampiaskannnya ke orang lain. Bukannya kamu sendiri yang lari dari masalah?” ucap Tommy di sela-sela langkah Alexandra. Laki-laki itu Nampak serius menggunakan Bahasa Aku-Kamu dengan istri sahabatnya.
“apa yang dilakukan Alfans malam itu sampai kau pergi meninggalkannya?” tanya Tommy walau sungkan.
“bukan urusanmu!”
~
Alexa berjalan kearah cave. Ia hanya ingin menghabiskan minumannya siang ini.
Ia kembali lagi ke mejanya dan memakan camilan diatas piring itu.
Tanpa sengaja ia melihat ‘wanita itu ‘ berjalan sambil menarik kasar tangan Gilang. Gilang Nampak menagis keras. Alexa merubah posisi duduknya dan mulai fokus pada objek. Ternyata benar apa kata Tommy. Gilang tidak diperlakukan dengan baik oleh orang tuanya.
Di seberang jalan sana, ia melihat Anggel membentak-bentak Gilang. Tangan Anggel mengepal. Tangan wanita itu menjewer telinga Gilang hingga Gilang berteriak kesakitan sampai suaranya menembus ke dalam tempat Alexa duduk saat ini.
Wanita itu mengobrak-abrik tas nya dan melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Gilang. “astaga!” tanpa sadar Alexa sudah memajukan tubuhnya sampai didekat meja dekat kaca.
Tiba-tiba mobil sedan putih berhenti didepan mereka dan menghalangi pandangan Alexa. Tak lama, mobil itupun pergi dari tempatnya. Betapa kagetnya Alexa melihat Gilang meraung-raung berusaha menggapai bagian belakang mobil itu.
Alexa tak tahan lagi. Ia berdiri dari tempatnya. Ia keluar dan menuju kearah Gilang berdiri. Setelah susah payah ia menyebrang jalan, tubuh mungil itu sudah tidak ada.
Alexa menoleh kesana kemari mencari sosok itu ditengah lautan manusia dan cuaca yang sangat terik ini. Cepat sekali Gilang menghilang.
Alexa menajamkan pandangannya agar cepat menemukan Gilang. Tiba-tiba saja Alexa mendengar jeritan kecil dan langsung menuju ke sumber suara.
“hei… no!!!” ia melihat segerombolan anak jalanan sedang mengerumuni Gilang. Salah satu dari mereka terlihat merampas ransel Gilang dan yang lainnya meringkus tubuh Gilang. Mereka mengambil uang Gilang setelahnya melempar anak itu hingga terjerembab.
Alexa langsung mendekati Gilang dengan cepat. Ia mendekap tubuh Gilang yang sudah kotor terkena becek. Gilang mendorongnya dan langsung memberingsut pergi.
“Gilang,, aku tidak akan menyakitimu.” Gilang menangis keras. “jangan mendekat, aku bisa dimarahi mama kalau dekat kamu!” isaknya lalu berlari pergi.
“Gilang!” panggil Alexa, namun Gilang terus berlari dan tak mendengarkannya.
Alexa kelelahan dan ponselnya berdering. “halo.” Sapa Alexa dengan nafas tersengal.
“………………..”
“aku tidak mau!”
“………………..”
“Alexa pulang, papamu meninggal.”
Deggg….
Kabar itu seperti menghancurkan dunia Alexa. Tubuhnya lunglai ke tanah sampai kepalanya mengenai trotoar jalanan. “papa!” setelahnya semua orang berkerumun melihatnya. Tak terkecuali Gilang yang ternyata bersembunyi dibalik gerobak pedagang kaki lima. Tubuhnya mematung menatap orang-orang yang membawa tubuh Alexa pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alexandra~Alfanso❤ (End)
Teen Fictionistri kedua "jadi Alexa mau dijadiin istri kedua?" Alexa menjambak rambutnya frustasi. "Ini nggak mungkin. Tolongin Alexa!" "Gue nggak tau pasti tentang semua ini, tapi gue jamin info yang gue dapetin ini akurat." "Kalau memang Reonaldo Alfanso in...
