Alexandra & Alfanso 25
Budayakan vote sebelum baca.
.
.
.tandai typo.
Maaf baru bisa update cerita ini. Soalnya lagi banyak urusan hhehe😄
Jangan lupa comen setelah baca chapter ini ya.. Maaf kalo sedikit greget dan membingungkan. Nanti juga kalian tau kok.
Andre sedikit bingung saat menyadari dia tidur di ranjang rumah sakit. Dilihatnya sekeliling, pemandangan seorang gadis sedang tersenyum manis langsung menghiasi bola matanya.
“Cat, lo udah bangun?” tanya Andre sambil mengucek matanya.
Caterin hanya tersenyu,. “gue sengaja nggak bangunin lo Ndre, abis lo nyenyak banget tidurnya.” Jawab Caterin mengalihkan pembicaraan. Dia sedang duduk di bangku dekat ranjang dengan selang infus melekat di tangan kirinya.
Andre sedikit bingung dengan posisinya. Andre tidur diranjang pasien sementara Caterin duduk di kursi. Bukankah Caterin sedang sakit? “kenapa gue bisa tidur disini Cat? Seharusnya kan elo yang tidur disini.” Kata Andre merasa bersalah.
Caterin terkekeh. “apaan sih lo Ndre, gue kasian liat lo tidur meringkuk disini.” Menunjuk pinggiran Kasur didekatnya. “makanya gue minta perawat pindahin lo, biar lo bisa istirahat dengan baik.”
Andre membeku melihat sikap Caterin yang sangat perduli dengan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Padahal kondisi gadis itu lebih buruk dari yang dapat terlihat. Tapi dia tetap tegar memberikan senyuman tulusnya pada semua orang. Seandainya saja semua orang sekuat Caterin, pikir Andre.
“emh, Cat gue ke kamar mandi dulu.”
“oh iya silahkan!” jawab Caterin.
“Cat, lebih baik sekarang lo tidur di ranjang deh, nggak baik orang sakit tidur di kursi.” Ucap Andre menyarankan Caterin.
“iya Ndre, makasih ya elo udah mau nemenin gue lagi.”
Andre menatap manik mata Caterin miris, dia mengacak pelan rambut gadis itu dengan hati-hati agar tak merusaknya. “lo nggak usah sungkan-sungkan Cat, gue akan selalu bantuin lo kalo lo butuh bantuan.” Ucapnya.
Prianca mematung di ambang pintu.
‘kenapa mereka malah makin akrab sih.’
. Dia pun masuk menghampiri Caterin. “hai, udah baikan?” tanya Prianca menunjukkan wajahnya yang riang.
“Sasa.” Andre menoleh melirik Prianca yang kini berada disampingnya.
“yaampun Andre! Lo belum pulang?” tanya Prianca.
Andre mengerutkan keningnya. Heran. “kok elo tau sih Sa kalo gue belum pulang? Padahal gue sama Caterin kan belum ngasih tau lo.” Tanya Andre bingung.
“oh ituu,,, yaa gue tau lah Ndre. Itu liat baju lo kusut gitu kaya nggak di setrika.” Ucapnya sambil menunjuk baju Andre yang lusuh dan berantakan. “buruan balik sana! Alexa nungguin lo di sekolah.”
“yaampun Alexa!!” pekik Andre. “gue lupa, gue harus ketemu Alexa sekarang juga.” Andre mengacak rambutnya frustasi. Merasa kesal kenapa dia bisa se ceroboh ini. Dia melirik jam tangan di lengan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan pagi. Yatuhaan dia kesiangan lagi.
“maaf Cat, gue harus pergi sekarang.” Pamit Andre.
“iya nggak papa kok Ndre, sekali lagi terimakasih ya.” Ucap Caterin dengan senyuman.
Andre pun segera bergegas meninggalkan rumah sakit dan berangkat ke sekolah. Dia tidak perduli jika dimarahi karena telat nanti. Andre punya telinga setebal kuping gajah dan otak sebebal tanah liat. Dia tidak akan takut dengan semua itu. sudah jadi kebiasaannya sejak dulu. Dia tidak pernah memperdulikan peraturan sekolah dan juga amarah para guru membuat semua guru di sekolah itu angkat tangan menangani Andre dan kawan-kawannya.
Dan benar saja, saat ini dia pun sedang dimarahi oleh bu Dinda.
“yaampun Andre.. Andre. Kamu ini bisa tidak jadi anak yang nurut dikit!” kesal bu Dinda.
“ibu nggak mau tau, kamu harus dihukum!!!”
“yaelah buk, santai aja kaliii.” Jawab Andre tak memperdulikan kekesalan ibu Dinda. “eh buk liat tuh ada yang maling sepatu!” teriak Andre sambil menunjuk ke suatu arah. Membuat mata bu Dinda mengikuti arah telunjuk Andre.
“manaa Andre? Nggak ada, mana malingnya.. manaaa?”
Dengan jurus secepat kilat bayangan langkah seribu Andre bergegas lari. Membuat bu Dinda berteriak lantang. “Andreeeeeeeee!!!!!!!!”
“maaf bu Dinda, saya pergi dulu.” Lecehnya sambil meninggalkan bu Dinda seorang diri di halaman belakang sekolah. Alih-alih puas mengerjai guru piket, Andre malah betabrakan dengan Lalisa.
“aww Andre lo bego apa gimana sih!” kesal Lalisa yang sedang membawa setumpuk buku menuju ke kelasnya. Karena ulah Andre yang berlarian di koridor, buku-buku itu jatuh berserakan dimana-mana. “kalo jalan pake mata dong!”
“sory Lis, gue nggak sengaja.”
“gue bantun deh.” Andre membantu Lalisa memunguti buku-buku itu di lantai.
“Lis.”
“apa!!” jawab Lalisa ketus. Lalisa menata kembali buku ke tangannya. Dia masih kesal karna ulah Andre.
“Alexa mana?”
Lalisa memutar cepat bola matanya untuk menatap wajah Andre. Sejak awal dia tidak pernah suka dengan hubungan Andre dan Alexa. Apalagi setelah dia tau kabar yang beredar. Membuatnya semakin benci pada cowok itu. dia tidak akan pernah membiarkan sahabatnya disakiti. “masih beraninya lo nanyain Alexa?” tanya Lalisa kesal.
“Lis, yang lo liat itu nggak bener. lo harus percaya sama gue.”
“gue sayang sama Alexa.” Lirih Andre. Dia berusaha untuk meyakinkan sahabat Alexa meski Andre tau Lalisa bukanlah orang yang mudah percaya. Tapi Andre akan tetap berusaha.
“gue nggak perduli, lebih baik lo selesain masalah kalian dan jangan bawa-bawa gue.” Lalisa berlalu meninggalkan Andre seorang diri di koridor. sejujurnya dia sangat ingin ikut campur dan menghempas Andre jauh-jauh dari hidup Alexa, namun ragu. Alexa pasti akan sangat marah padanya jika melakukan itu.
dan mengenai Caterin, sejak awal bertemu Lalisa memang sudah tidak suka pada gadis itu. sejak kedatangannya, Prianca jadi berubah. Gadis itu membawa pengaruh tidak baik untuk persahabatannya. Meski Lalisa sudah memperingatkan namun Alexa belum juga menyadarinya. Dengan alasan ‘kita tidak boleh memaksa, bukan karna persahabatan kita jadi menutup diri untuk berteman dengan orang baru’ jawaban Alexa saat Lalisa mencoba memperingati mengenai Caterin.
Dan sekarang, akhirnya kejadian. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi Lalisa tidak akan tinggal diam.
====
“sudah baikan hm?” tanya Alfanso sambil tersenyum. Setelah urusan kantornya selesai pria itu langsung bergegas kembali ke rumah sakit menemui istrinya. Entah kenapa belakangan ini Alfanso jadi sangat kawatir pada Alexa. Dia tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang gadis itu, membuat fokusnya pada kantor jadi berantakan. Untungnya dia punya Tommy yang bisa diandalkan.
Alexa hanya mengangguk tanpa mau menjawab. Dia beralih menatap televisi didepannya.
Sementara Alfanso kini beralih melepas jas nya dan duduk disamping Alexa. Mereka berdua hanya diam dan fokus pada layar tv tanpa ada satupun yang mau memulai percakapan.
Huuekkkk huekkk…
Rasa mual tiba-tiba mengisi perut Alexa, membuat gadis itu langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Alfanso yang panik langsung menyusul Alexa ke kamar mandi dan membantunya mengeluarkan semua itu dengan cara memijat tengkuk Alexa.
Tubuh Alexa kini kembali lemas tak bertenaga. Dia pikik tidak minum obat maagh yang diberikan dokter tidak akan berpengaruh apapun. Alfans pun segera memapah dan membantu Alexa keluar kamar mandi.
Di balik pintu, Prianca mematung dengan banyak pertanyaan muncul di benaknya. ‘Alexa sakit? Tapi kenapa gue nggak dikasih tau. Terus siapa orang itu?’
Prianca tak sengaja melihat kedalam kamar rawat Alexa saat ia sedang menemui seorang suster yang dia kenal di rumah sakit ini. Setelah berbincang dengan suster, niatnya dia ingin ke kamar Caterin namun langkahnya tercekat saat dia tak sengaja melewati kamar vvip itu.
Dalam benaknya Prianca berfikir, ‘apa mungkin Alexa sakit karena kejadian itu’
“Sa, ngapain lo disini?” tanya seseorang. Membuyarkan lamunan Prianca.
“nggak ngapa-ngapain, gue kebetulan lewat sini. Lo sendiri ngapain?”
“gue di telvon Caterin, katanya dia mau terapy.” Jawab Andre lesu. Wajahnya terlihat tak bersemangat.
“lho kok sama gue juga iya, makannya gue kesini.”
“ayo kita ke ruangan Caterin!” ajak Prianca menarik tangan Andre.
“Sa..” langkah Andre tertahan. “apa Ndre?”
“lo tau dimana Alex?”
Prianca terdiam beberapa saat. “gue tau ini berat untuk hubungan kalian Ndre, mungkin Alexa butuh waktu untuk sendiri.” Kata Prianca sambil menepuk pundak laki-laki itu. berusaha menenangkannya agar sedikit tegar. Tak disangka Andre benar-benar takut kehilangan Alexa.
Beberapa perawat dan dokter berlarian memasuki ruangan itu. membuat Prianca dan Andre yang berdiri disana tersingkir. “ada apaan sih?” tanya Andre penasaran.
“nggak ada apa-apa, yuk Caterin nungguin.”
Andre dan Prianca pun berlalu meninggalkan tempat itu dan pergi menemui Caterin di ruangannya.
**
Tak terasa Seminggu telah berlalu, dan kini Alexa telah sehat kembali dan sudah masuk sekolah.
Saat ini Alexa dan Lalisa sedang memakan makanannya di kantin sekolah. Mereka sangat antusias mencicipi menu baru yang ada di kantin tersebut.
“enak ya Lis.” Kata Alexa sambil mengunyah makanannya.
“iya, emang dah pok Ela masakanya paling the best ke sekolahan.” Jawab Lalisa antusias.
Saat mereka sedang asik mencicipi menu baru kantin pok Ela, tiba-tiba saja Prianca datang. “hai lagi ngapain nih?” tanya Prianca yang langsung menarik tempat duduk disebelan Lalisa dan mempersilahkan temannya untuk duduk.
Membuat Lalisa bengong. Ngapain sih pake bawa-bawa dia segala?
“hai, boleh kan gue gabung sama kalian?” sapa Caterin dengan ramah. Pandangannya pun bertemu dengan mata Alexa, membuatnya sedikit canggung saat ini. Gadis itu terlihat tidak suka dengan kehadirannya.
“duduk aja Rin, santai aja nggak papa kok.” Jawab Lalisa kikuk. Ingin menolak kehadiran Caterin rasanya tidak sopan. Gadis itu datang dengan baik-baik mungkin ingin mencoba akrab. Lalisa melirik Alexa di sebelahnya, dia paham apa yang dirasakan Alexa saat ini. Tapi ini adalah kesempatan agar semuanya menjadi jelas.
“maaf gue harus pergi. Kalian lanjutin aja makannya.” Ucap Alexa lalu bangkit dari duduknya.
“ini saatnya.” Bisik Prianca.
“Alexa tunggu!” panggil Caterin membuat langkah Alexa terhenti.
Caterin menghampiri Alexa yang berada tak jauh dari kantin tempat mereka berada. “gue mau jelasin semuanya Alexa, gue minta maaf. itu semua nggak seperti apa yang lo lihat. Mereka hanya melebih-lebihkan saat liat Andre nolongin gue ke uks.” Ucap Caterin.
Lalisa ingin menyusul mereka karna kawatir. “jangan di kejar. kasih mereka ruang untuk bicara.” Prianca menahan langkah Lalisa.
Lalisa pikir ada benarnya juga. Mereka memang harus bicara.
Alexa diam tak bergeming. Wajah Caterin terlihat tulus meminta maaf. Apa benar ini hanya salah paham? Pikirnya. “jelasin sekarang Rin!” pinta Alexa.
“waktu itu gue nggak sengaja kelempar bola basket, dan kepala gue pusing banget setelahnya gue nggak sadarkan diri. Yang gue inget cuma saat gue udah berada di uks dan disana ada Andre nemenin gue. Gue nggak tau kalo anak-anak pada motret kita saat di koridor. ini bukan salah Andre, karna Andre Cuma nolongin gue Lex.” Papar Caterin.
Alexa tak melihat kebohongan dimata Caterin, dia jadi merasa bersalah. Namun Alexa belum yakin sepenuhnya. “gue terima maaf lo. Tapi jangan harap gue percaya sepenuhnya.” Ucap Alexa dingin.
“Alexa gue mohon, lo harus percaya sepenuhnya sama gue.” Caterin mengenggam pergelangan tangan Alexa saat langkah gadis itu akan beranjak dari tempatnya. “itu semua nggak seperti yang…
“Aaawww…!” caterin tersungkur di lantai. Membuat semua mata tertuju pada mereka.
“Rin lo nggak papa?” tanya Alexa kawatir. Dia benar-benar tidak sengaja menjatuhkan Caterin, Alexa mencoba membangunkan Caterin yang entah sejak kapan terlihat lusuh dan acak-acakan itu. rambutnya berantakkan.
“Caterin!” teriak seseorang dari ujung koridor.
Andre langsung menolong Caterin yang tersungkur dilantai, Alexa tercengang melihatnya. Sebegitu kawatirnya Andre pada Caterin? Sampai-sampai tak melihatnya sedikitpun. “lo nggak papa?” tanya Andre.
“apa yang udah lo lakuin ke Caterin?”
Alexa membeku, lidahnya kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Setelah Andre membentaknya. “g gue nggak ngapa-ngapain Caterin.” Ucapnya terbata-bata.
“bohong, liat apa yang udah lo lakuin ini. Tega ya lo!! Gue nggak nyangka Alexa.” Andre menatap tajam wajah Alexa.
“Andre, kok lo malah belain dia sih? Ini semua nggak seperti apa yang lo liat Andre.” Sanggah Alexa.
“apa lo pernah percaya sama gue saat gue jelasin semuanya hah? Dan sekarang lo minta gue percaya sama lo setelah gue liat sendiri apa yang lo perbuat ke Caterin?”
Degg..
Hati Alexa seketika hancur berkeping-keping. Ucapan Andre berhasil menyakiti perasaannya. Melihat Andre membela Caterin seperti itu, Alexa sangat sakit. “Andre..”
“Caterin!” teriak Prianca kawatir. “lo nggak papa kan?” saat ini Prianca dan Lalisa sudah menyusul mereka karna banyak murid yang berlarian mengerumuni sahabatnya.
Prianca membantu Caterin untuk bangun dibantu oleh Andre. “Alex, gue nggak nyangka lo bisa lakuin ini.”
“gue sengaja bawa Caterin biar semuanya jelas, dan kalian bisa baikan Lex. Tapi apa yang lo lakuin ini keterlaluan.”
Saat ini mereka sudah dikerumuni oleh murid-murid lain yang penasaran. Mereka kager saat melihat Caterin berantakkan seperti orang yang habis dianiaya. Spekulasi negative pun bermunculan di tengah mereka. “yaampun Caterin di bully.”
“siapa yang bully?”
“Alexa!”
“dia pasti cemburu karna pacarnya di rebut.”
“kasian ya anak baru di labrak sama Miss wanted di sekolah kita.”
“lagian beranninya jadi pelakor.” Ucapan-ucapan itu keluar dari mulut mereka. Banyak pula yang merekam kejadian itu.
“Sasa lo udah salah paham Sa, dia yang jahat bukan gue!”
“gue nggak percaya, lo berubah Alex.”
“Sa, lo jangan kasar gitu dong sama Alex!” lerai Lalisa. Saat ini dia juga bingung harus bagaimana, dan percaya pada siapa. “Lex!”
“udah Sa, lo nggak usah percaya sama orang yang nggak punya hati.”
“ayo kita ke rumah sakit.” Andre membopong tubuh Caterin dan membawanya pergi dari tempat itu, diikuti dengan Prianca.
Kini Alexa pergi meninggalkan kerumunan orang banyak itu. air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan. Sekarang Andre membencinya, sahabat-sahabatnya juga.
Lalisa hanya bengong, dia bingung harus menyusul siapa. Ditengah kerumunan orang-orang yang mulai bubar meninggalkan tempat itu.
Kenapa semuanya jadi gini sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Alexandra~Alfanso❤ (End)
Novela Juvenilistri kedua "jadi Alexa mau dijadiin istri kedua?" Alexa menjambak rambutnya frustasi. "Ini nggak mungkin. Tolongin Alexa!" "Gue nggak tau pasti tentang semua ini, tapi gue jamin info yang gue dapetin ini akurat." "Kalau memang Reonaldo Alfanso in...
