Sejak 1 minggu lalu dimana Raya mengetahui dirinya tengah hamil ia hanya berdiam diri di dalam kamar dengan tatapan kosong. Saat ini, dengan perut yang mulai sedikit membesar Raya duduk di pinggir ranjang sambil menatap kearah kaca besar jendela kamarnya.
Seperti tidak ingin menjalani hidup, Raya tidak pernah menyentuh makanan atau susu yang dihantarkan oleh maid. Ia terkadang berbicara lalu menangis sambil menjambak rambutnya. Sampai melempar barang, dan berteriak histeris setiap harinya.
Disisi lain, Rayn duduk di kursi ruangan kerjanya sambil memijit pangkal hidungnya. "Sudah satu minggu .. tidak ada perubahan ..." guman Rayn masih bisa didengar oleh Fernando.
"Apa sebaiknya anda membebaskan Rama Tuan?"
"Mempertemukan Rama dengan Nona, mungkin akan membuat Nona sedikit lebih baik," lanjut Fernando dengan tenang walaupun ditatap tajam oleh Rayn
"..."
"Maaf menyela pembicaraan, apa yang dikatakan Fernando benar Tuan Muda. Anda harus memikirkan bayi yang dikandung Nona, saya tidak bisa pastikan bahwa janinnya bisa bertahan lebih lama tanpa asupan nutrisi ... bukankah hari ini sudah satu minggu Nona Raya seperti tidak ingin hidup," jelas dokter Anggoro.
"Baiklah." Rayn berdiri merapikan jas hitam formalnya sambil menghela nafas berat melangkah keluar dari ruangan kerjanya diikuti Fernando dari belakang.
---
Bodyguard itu berjongkok menempatkan jari telunjuk dan jari tengahnya dipergelangan tangan bagian dalam, ia menekan bagian tersebut sampai merasakan denyut nadi Afifah. "Bertahanlah ..." batin bodyguard itu sambil mengusap tangannya ke lantai yang terdapat darah Afifah lalu mengusapkannya di dinding jeruji seolah-olah Afifah membenturkan kepalanya kedinding. Ia beralih mengambil pisau kecil yang tergeletak, dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Tanpa ada yang menyadari bodyguard itu sedari awal, ia mendengar perintah dari Hendratno melalui headset bluetooth. "Baik, saya akan segera keluar."
Bodyguard itu langsung menggendong Afifah ala bridal style keluar dari jeruji besi menelusuri lorong hendak keluar dari tempat terkutuk itu.
Membuka bagasi mobil bodyguard itu meletakkan Afifah ke dalam bagasi, dan menutupnya kembali. Buru-buru bodyguard itu masuk kedalam mobil alphard hitam miliknya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan 30 m/s menuju mansion keluarga Aiwin.
Rei secara terburu-buru menuruni undakan tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti sambil mencengkram kuat pembatas tangga kaca ketika melihat kondisi Afifah. "Cepat panggilkan dokter!!" suara teriakan Rei terdengar nyaring membuat para maid, dan pekerja bergetar, baru pertama kali bagi mereka melihat Tuan nya seperti itu. Hendratno segera menghubungi dokter pribadi keluarga Aiwin.
---
Rayn berjalan dengan tangan kanan berada di saku celana formal katun hitamnya menelusuri lorong di dampingi oleh Fernando dan 10 bodyguard di belakangnya. Mata Rayn menyipit menatap jeruji besi yang terlihat kosong. "Tikus kecil rupanya sedang berulah ya, kalau begitu bermainlah sebelum tertangkap ... dan ku habisi," batin Rayn.
"Ow .. lama tidak bertemu," sapa Rayn kepada Rama yang berada dalam jeruji sambil tersenyum sinis. "Apa kau mau bebas?"
"..." tidak ada jawaban membuat Rayn berdecak.
"Tidak mau bebas ya? Padahal kau beruntung .. kalau tidak akhirnya jauh dari kata tragis."
Rama melempar pisau kecil tajam kearah Rayn. "Keparat sialan!"
Rayn tertawa geli ketika lemparan pisau dari Rama hanya menggores sedikit bagian pipinya. "Ah, lihat ini .. apa yang akan terjadi jika aku melukai ibumu," Rayn menunjukkan foto hilya dari layar ponselnya. Ia menarik kembali ponselnya lalu hendak berbalik untuk pergi.
"Kesalahan gua apa sama lu hah?!" tanya Rama dengan suara lantang.
Rayn berhenti namun tidak berbalik menatap Rama. "Kau mendekati milikku, dan merampasnya dariku!" desis Rayn.
"..."
"Kehadiranmu adalah hal yang ku benci!!"
"Suatu hari nanti aku pasti akan membunuhmu."
Rayn berlalu pergi meninggalkan Rama yang terdiam. "Tuan Muda, kita harus membawa Rama menemui Nona secepatnya, saya takut kondisi Nona semakin parah, dan janinnya dalam bahaya." Rayn berbalik langsung menarik kerah pakaian Fernando. "Lakukan apapun, buat dia meminta untuk segera dibebas kan. Jika tidak, apapun yang kau punya akan lenyap ditanganku."
"S-saya mengerti Tuan Muda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rayn&Raya
Misteri / ThrillerRaya tidak sengaja bertemu dengan Rayn yang saat itu sedang tawuran dengan sekolah lain justru membuat Rayn jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Raya. Akan tetapi, ketika mengetahui Raya telah bertunangan perasaan Rayn mulai berubah menjadi Obs...
