Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Pertemuan

5 0 0
                                        

"kamu mau langsung pulang ?"

Erlangga bertanya begitu dia selesai merapikan barangnya, ini sudah hampir malam, namun dia masih belum pulang dari kampus, acara event kampus itu benar-benar menyita waktu, menguras pikiran dan melelahkan. Rapat tidak berhenti di lakukan, selalu bicara tentang konsep dan laporan membuat dirinya pusing bukan hanya memikirkan pelajaran tapi hal ini.

"Iya" jawab sedikit tak berminat, aku lelah, badanku rasanya mau remuk karena duduk berjam-jam.

Sekar berjalan melewati pria itu yang masih berdiri ditempatnya.

"Saya antar!" Ujarnya membuatku terdiam, menatapnya bingung.

"Gak usah kak" tolakku dan kembali berjalan, namun Erlangga nampaknya belum puas dia berjalan menyusulnya dan kembali bicara.

"Saya antar kamu, ini hampir malam, lagian kamu gak bawa mobil kan" ucapnya lagi, kesal sebenarnya, ada perasaan dongkol ketika mendengar ucapan Erlangga yang menurutnya sangat pemaksa, Oh Ayolah. Dia mau istirahat.

Lagi pula kenapa bisa Erlangga tau dia tidak bawa mobil, apa Erlangga membuttinya dari rumah ?

Aku menatapnya dan ingin kembali bicara namun Erlangga langsung memotongnya "Saya naik motor, jadi pasti cepat"

Dengan terpaksa, aku menerimanya "Iya, yaudah" jawabku Pasrah.

Dia hanya ingin istirahat, hari ini badannya sangat lelah, bahkan bukan hanya badan tapi perasaannya juga lelah.

Aku bahkan tidak tau harus bagaimana menghadapi Javas, rasanya hatiku masih sakit, aku tidak jamin aku tidak akan menangis ketika bertemu dengannya nanti. Bahkan untuk bicara saja dengannya lewat panggilan aku tidak mampu, ponselku mati, sengaja, agar tidak ada yang bisa menggangguku, sejak pertemuanku dengan Radit, aku jadi semakin merasa semua ini jelas. Hubunganku dan Javas benar-benar jelas sekarang bahwa kami benar-benar tidak bisa bersama, ini salahku, harusnya aku tidak menerima lamarannya, lagipula apa juga yang ingin kuharapkan dari pernikahan yang di paksa begini, aku mengharap kami saling mencintai ? Mana mungkin, ini bukan drama Korea atau sinetron Indonesia, ini dunia nyata dan perasaan seseorang mana mungkin bisa secepat itu berubah.

Bodoh kamu Sekar!

Iya, aku juga merasa kalau aku sudah berpikir bodoh dengan pernikahanku yang akan berakhir happy ending, aku benar-benar telah salah besar.

Lantas sekarang harus bagaimana ?

Bagaimana jika harus melepaskan ?

Apa itu harus dilakukan ?

Ada rasa sedih bercampur sakit hati ketika memikirkannya, aku marah pada diriku, kenapa aku merasa sangat egois tidak ingin melepaskan orang yang sudah jelas tidak merasakan apapun dengannya.

Ini salahmu, kenapa kamu jatuh cinta!

Kamu jatuh cinta pada orang salah!

Bodoh dasar!

Iya, iya aku bodoh... Aku memang bodoh kok, aku mengakuinya.

"Hei! Ayo naik"

Erlangga menyadarkan ku dari lamunan, di depanku dia sudah duduk diatas motor besarnya, aku mengangguk tanpa debaran, menaiki motornya begitu saja.

"Rumah kamu dimana ?" Tanyanya.

"Jalan aja kak, nanti saya kasih tau" jawabku enggan, aku benar-benar tidak ingin bicara saat ini.

Selepas memakai helm, Erlangga mulai menjalankan motornya dengan aku yang hanya diam diboncengannya.

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 11 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lost On YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang