Extra Part 3 : nyuri mangga

60K 3.2K 114
                                        

Satya duduk dengan cemas sambil beberapa kali melihat jam, saat ini ia masih mengajar tapi fikirannya terus membayangkan ia akan mencuri mangga setelah ini. Sial, kalau bukan Kayla yang minta sudah pasti ia tak akan mau.

Drt.. drt..

Terdapat notif pesan di ponsel Satya namun ia membiarkannya saja, karena ini masih jam mengajar. Pantang bagi Satya bermain hp saat mengajar.

Baru saja Satya akan menjelaskan materi, ponselnya berbunyi lagi.

Satya segera mengambil ponselnya di tas kemudian keluar kelas.

Satya berdecak saat tau yang meneleponnya Adit, "Assalamualaikum"

"Walaikumsalam" terdengar sahutan Adit di seberang sana.

"Ada apa? aku lagi ngajar ini"

"Kamu udah siap?"

"Siap apa?" Tanya Satya sambil mengernyitkan dahi.

"Ya nanti mau panen mangga"

"Kita nyuri bukan panen" sahut Satya kesal.

"Sebenarnya ini aku ada ide"

"Apa?"

"Biar kita nggak nyuri"

"Iya apaa?? cepetan ini aku lagi ngajar dit"

"Sabar dong. Kenapa kamu nggak ijin sama pak Imron aja"

" gimana caranya, kan orangnya kerja kalau siang gini"

"Di chat apa di telfon gitu"

Satya berfikir sejenak, benar juga kata Adit daripada ia mencuri kan lebih baik ijin yang penting Kayla tidak tau.

"Iya deh nanti aku ijin"

"Sekarang Sat, nanti lupa"

"Iya Adit"

"Jangan lupa bilang kalau nanti tau kita lagi manjat suruh pura-pura nggak tau aja"

"Iya Adit, Assalamualaikum" Satya langsung mematikan sambungan telepon dari Adit dengan sebal.

Satya mencari nomor telepon pak Imron.

Satya menunggu panggilannya diangkat oleh Pak Imron dengan sedikit kurang sabar, karena sampai deringan kelima belum juga diangkat. Saat ia akan memutus panggilannya, terdengar suara sapaan dari seberang sana.

"Halo pak Satya"

"Selamat siang Pak Imron"

"Selamat siang, ada perlu apa pak? Tumben telpon saya"

Satya menggaruk tengkuknya bingung mau bicara apa.

"Halo pak Satya?"

"Eh-ehm iya pak, ee jadi gini istri saya kan lagi ngidam trus pengen mangga pak Imron"

"Boleh kok ambil aja pak"

"Ehm gimana ya"

"Iya? Gimana pak?"

"Jadi gini pak masalahnya istri saya minta nyuri, nanti kalau seumpama pak Imron atau keluarga tau saya sama teman saya manjat pohon pura-pura nggak tau saja ya pak"

"Haha ada-ada saja pak, iya tenang saja aman. Ini saya sama keluarga juga lagi keluar kota, dirumah cuma ada mbak"

"Alhamdulillah, terima kasih pak Imron"

"Sama-sama pak"

"Yasudah kalau begitu pak, saya mau lanjut ngajar lagi Selamat siang"

"Selamat siang"

My Ice Dosen Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang