Happy reading!
🌧🌧🌧
Pelajaran terakhir telah selesai. Asya mengemasi alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas abu-abu kesayangan. Percayalah! Pelajaran terakhir ini sangat-sangat membosankan. Tebak pelajaran apa coba?
Iya bener! Matematika. Otak Asya memang tidak ditakdirkan untuk paham tentang hitung-hitungan. Waktu SD masih oke lah. Tapi ketika SMP hingga sekarang? Intinya sejak ada x dan y semua jadi ambyar. Buta MTK seketika!
Asya keluar dari kelas dengan lesu. Keadaan sekolahnya semakin sepi karena sebagian siswa sudah keluar dari area sekolah, begitu juga Kila. Biasanya Kila dijemput sopir pribadi ayahnya. Jangan tanya kenapa Asya tidak ikut, karena beda jalur pulangnya.
Asya berniat akan naik ke lantai dua untuk menghampiri Barra di kelasnya. Asya melintasi lapangan untuk menuju ke tangga lantai dua. Tapi tunggu, sesuatu membuat langkahnya terhenti. Kenapa banyak siswa laki-laki di lapangan? Senyum Asya terbit ketika matanya menangkap keberadaan Barra di sana dengan memakai jersey futsal.
Damagenya nambah!!
Hampir saja Asya lupa kalau hari ini ada latihan rutin mingguan untuk tim inti futsal sekolahnya. Kebetulan Barra adalah salah satu dari mereka yang terpilih.
Asya merogoh tasnya, air mineral yang ia beli di kantin saat akan kembali ke kelas belum Asya minum dan masih tersegel rapat. Asya mengambil air mineral itu dan segera menuju ke pinggir lapangan dan duduk di tribun hanya untuk melihat Barra berlatih futsal. Sambil menunggu juga agar ia bisa pulang bersama Barra seperti biasa.
Jika dipikir-pikir ini memang membosankan dan hampir nggak ada gunanya. Tidak ada juga yang meminta Asya untuk melakukannya karena Asya melakukannya atas kemauan hatinya sendiri.
Memandang Barra dari kejauhan saja sudah membuatnya senang. Kira-kira kapan Barra akan menerimanya? Entahlah, Barra itu nyata tapi terasa fana. Kapan halunya akan menjadi nyata? Kapan? Andai apa yang diinginkan terjadi, Asya akan sangat bersyukur dan bahagia tentunya! Tapi, lagi-lagi disadarkan bahwa-
Memiliki Barra hanyalah mimpi.
Asya setia menunggu hingga latihan futsal berakhir. Semua yang ikut latihan itu satu per satu meninggalkan lapangan. Begitu juga Barra. Asya pun langsung menghampiri Barra yang sedang mengambil tasnya di pinggir lapangan.
"Barra! Capek ya?" Asya menyodorkan air mineral kepada Barra. Mereka sekarang sedang berjalan menuju ke gerbang. "Nih, buat lo."
Tidak ada respon dari Barra ia berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Seakan tidak ada siapapun yang mengajaknya bicara. Ada apa di depan? Apakah jalan lebih menarik dibanding Asya?
Tentu membuat Asya menurunkan kedua sudut bibirnya. Ia dikecewakan oleh seorang Barra lagi. Memang tidak ada yang menyuruh, tapi Asya ingin melakukannya untuk Barra.
Asya menghela nafasnya, "Lo mau nolak lagi, Barr?" tanya Asya dengan raut kecewa yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ia lelah sungguh lelah, tapi Asya belum menemukan kata menyerah dalam kamus hidupnya. Asya sengaja melambatkan langkanya, membiarkan Barra berjalan mendahuluinya.
"Bisa nggak sih sekaliiii aja! Sekali aja! Emangnya susah ya? Gue capek, tapi gue nggak bisa mundur gitu aja!" gerutu Asya lirih dan meremas air mineralnya geram disertai hentakan kakinya kesal. Asya tidak peduli Barra mendengar ucapannya atau tidak. Mendengar pun Barra pasti tidak akan peduli, pikirnya.
Barra melirik ke arah Asya, menatapnya sedikit lama. Menyedihkan. Kata yang cocok untuk cewek di belakangnya sekarang. Barra menghentikan langkahnya dan menunggu Asya agar bisa berdampingan lagi. Entah dorongan dari mana Barra mengambil air mineral itu dari tangan Asya dan langsung meneguknya. Mengapa cewek ini tau saja dirinya sedang haus, hanya saja ia gengsi untuk menerima pemberiannya.
"Makasih," ucapnya.
Ini sulit untuk dipercaya! Asya bahkan tidak bisa menahan senyumnya meski ditahan sekuat mungkin. Bagaimana bisa ia tersenyum ketika sedang merasa kesal? Ah tidak tahu. Asya rasa masih ada harapan lagi bagi dirinya untuk terus berusaha melelehkan es batu berjalan ini! Asya yakin suatu saat Barra akan menerimanya meski tidak tahu itu kapan. Tunggu saja!
"Sama-sama Barra."
Sampai sekarang Asya tidak tahu ada apa dibalik dinginnya sikap Barra. Disaat cowok lain menggoda kaum cewek, Barra justru tidak peduli. Tapi dengan sikap Barra yang cuek dan dingin itulah yang membuat Asya merasa tertantang. Menurutnya, Barra itu beda Barra unik.
Asya tahu dan sangat tahu bahwa semua yang ia lakukan selama ini belum cukup bisa membuat Barra sedikitpun luluh padanya. Namun, Asya tidak akan pernah berhenti mencoba bahkan mungkin ratusan percobaan pun akan ia lakukan sampai ia berhasil mendapatkan hatinya.
Banyak sekali yang ingin Asya tahu tentang Barra. Sialnya sangat sulit untuk mengetahui sesuatu dari Barra. Jangankan disuruh bercerita, diajak ngomong aja susah. Mau stalking juga nggak ada gunanya. Whatsapp nggak ada profil, akun Instagram juga udah mirip akun mati.
Entah apa tujuannya buat akun kayak gitu.
Tidak lama angkutan yang mereka tunggu telah datang. Dan mereka naik ke angkutan itu dan pulang bersama lagi seperti kemarin.
Di dalam angkutan, mereka duduk bersebelahan seperti biasa. Asya suka memandang wajah Barra, apalagi dengan jarak yang begitu dekat dengannya. Asya tidak suka jika Barra duduk dengan cewek lain di angkutan, itu lah sebabnya Asya harus selalu duduk di sebelah Barra. Angkutan itu pun mulai melaju.
"Bar," panggil Asya pelan dan Barra hanya membalasnya dengan dehaman singkat tanpa menoleh ke arah Asya sedikitpun. "Gue pengin tahu perasaan lo gimana ke gue. Lo risi nggak sama gue?"
"Nggak,"
"Terus, lo kesel sama gue?"
"Nggak,"
"Emm.. Lo benci nggak?"
"Nggak,"
Asya tersenyum lebar mendengar balasan dari Barra yang tidak terdengar mengecewakan. Asya sedikit berpikir, "Itu artinya lo suka dong sama gue?!" tanya Asya dengan percaya diri tinggi.
"Nggak juga." balas Barra beranjak karena angkutan sudah sampai di tujuan. Yahh.
Asya turun dari angkutan, menatap punggung Barra yang semakin menjauh dari posisinya. Baru saja Asya akan terbang tinggi, tiba-tiba saja Barra menjatuhkannya tanpa aba-aba.
Tunggu saja, tunggu! Suatu saat jawaban itu akan berubah menjadi kalimat indah yang akan selalu membekas. Tunggu saja.
🌧🌧🌧
Maaf ya aku publish ulang, ada tambahan.
Jangan lupa voment!
Terima kasih.
aiunda(30/9/20)
KAMU SEDANG MEMBACA
CRYING UNDER RAIN [Selesai]
Teen FictionDipaksa selesai sebelum dimulai. - - - 📌Jangan lupa voment & share! 📌Mau follback atau feedback, DM aja. #1 primily [26/10/21] #1 adikkelas [23/01/22] #1 barra [04/02/22]
![CRYING UNDER RAIN [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/242437159-64-k190357.jpg)