25🌧

112 14 11
                                        

Happy reading!

🌧🌧🌧


Duduk terdiam di jendela kamar dengan tangan mengadah air hujan yang turun. Hujan turun bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras dari mata jatuh ke pipi.

Sejak kejadian di perpustakaan seolah Asya tidak ingin tersenyum, berbicara, atau bertemu dengan siapapun. Rasanya hampa saja, seakan ia sudah mati rasa.

Hanya bisa menangis meski ia tidak ingin menangis. Air matanya terus mengalir dengan sendirinya. Sulit baginya untuk terlihat baik-baik saja sekarang.

Asya tidak menyalahkan Barra. Andai dari awal Asya sudah tau diri. Seorang Barra mana mungkin mau dengannya. Asya merasa dirinya hanyalah perempuan murahan yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.

Asya bukan seseorang yang bisa dikatakan pintar. Cantik? Tubuh? Jangan tanya soal fisik, nggak ada yang bisa dibanggakan dari Asya.

Hanya orang rapuh yang pura-pura kuat!

Yah.. Ucapan-ucapan itu mulai terdengar lagi di kepala. Semua ucapan-ucapan menusuk itu masih berputar jelas dalam pikirannya. Kapan ia akan lupa? Semakin mencoba melupakan malah semakin teringat jelas.

Jangankan Barra, Asya saja bingung kenapa ia bisa sesuka itu dengan Barra. Semua yang ia jawab keluar begitu saja dari mulutnya.


Terus saja teringat! Bisa-bisa kepalanya pusing hanya karena soal cinta sepihaknya. Sudah pukul 23.00 dan Asya masih terjaga. Ia juga di rumah sendirian seperti biasanya.

Disaat sedang terpuruk seperti ini hanya ia rasakan sendiri tanpa berbagi kepada siapapun. Asya tidak mau akan menjadi beban bagi orang lain.

Ia mengelap tangannya ke belakang baju yang ia kenakan sekarang. Setelah itu mengusap pipinya yang basah karena air mata.

Cukup ya waktunya buat galau-galauan.

Asya menutup jendelanya rapat-rapat dan berpindah ke kasurnya. Sebelum terlelap, Asya meraih HP-nya di atas nakas.

Baru membuka saja sudah banyak notifikasi masuk. Dan yang paling banyak adalah panggilan tidak terjawab dari Arga. Asya menelfon balik kontak Arga. Siapa tahu ada hal penting yang ingin Arga sampaikan kepadanya.

"Sya,"

"Kak, maaf telfonnya nggak Asya angkat soalnya ketiduran barusan." ucapnya bohong.

"Lo bohong,"

Tidak ada jawaban dari Asya, berbohong sedikit saja sudah bisa ditebak. Lalu Asya akan menjawab apa? Menjawab kalau ia habis menangisi kejadian tadi siang?

"Lo habis nangis,"

Asya mengerutkan dahinya, dari mana Arga tahu. Dia sekedar menebak atau dia memang sedang mengintainya. "Sok tau!"

"Suara lo beda, lo habis nangisin yang tadi siang?"

"Emang tadi siang ada apaan?" tanya Asya pura-pura bego.

"Jangan sok pikun, semua orang juga tahu."

"Jangan bahas itu," suara Asya bergetar, ia ingin menangis lagi namun masih ditahannya. Ia malu dengan Arga jika ia akan melepaskan tangisnya saat itu juga. "Asya pengin nangis jadinya."

"Nangisnya ditunda dulu, udah malam jangan begadang untuk menangisi orang yang nggak perlu ditangisi. Tidur Sya! Selamat malam."

'Tuutt tutt tutt'

Sambungan telfonnya diputus sepihak oleh Arga.

Asya meletakkan HP-nya kembali di atas nakas. Lalu menarik selimutnya sampai menutupi kakinya. Posisinya sedang duduk sekarang.

Wajahnya kembali memanas lagi, rasanya ia ingin melanjutkan tangisnya. Mengapa jadi lemah begini.

"Tuh kan jadi nangis lagi.."


🌧🌧🌧

Jangan lupakan voment!
Terimakasih.

aiunda (19/10/20)

CRYING UNDER RAIN [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang