Happy reading!
🌧🌧🌧
Malam yang suntuk dengan tugas yang menumpuk. Entahlah apa hubungannya kepala dengan buku, sampai kepalanya terasa berat ketika ia melihat tumpukan buku penuh dengan tugas yang tidak tahu kapan akan selesai. Ini lah alasan Asya malas untuk mengerjakan tugas. Bukan hanya itu sih, bingung juga mau jawab apa. Menurutnya semua soal yang diberikan itu sulit. Baru liat aja udah males minta ampun.
Oh tugas..
Mengapa kau selalu menghampiriku
Aku sudah lelah menghadapi mu
Namun aku tidak akan menyerah begitu saja
Akan ku kerjakan besok di sekolahan
Asya tersenyum geli ketika membaca puisi buatannya sendiri yang tertempel di meja belajarnya. Hanya puisi asal-asalan yang ia buat ketika merasa stress karena tugas. Dan puisi itu lah yang membuat pusing di kepala hilang seketika. Keren nggak tuh!
Terimakasih puisi ku..
21.00, Asya belum ingin tidur sekarang. Ia hanya merebahkan diri di atas kasur empuk kesayangannya sambil memandang langit-langit kamar gelapnya.
Sayang sekali hujan sudah reda sejak pukul tujuh tadi. Padahal ia masih ingin menikmati hujan. Jangan heran, Asya suka sekali dengan yang namanya hujan. Bahkan hingga barang yang ia miliki ada saja hubungannya dengan hujan, dan hampir semua hiasan di kamar Asya bertema hujan yang identik dengan awan gelap dan rintikan air. Tidak tahu kenapa, Asya hanya merasa lebih tenang dengan adanya hujan.
Drrttt
Getaran handphone-nya yang tergeletak di atas nakas memaksa Asya untuk menghentikan lamunannya. Seseorang menelfon nya. Asya meraih handphone itu dan mengangkat telfonnya.
"Hallo" terdengar suara dari seberang.
"Hm? Iya?"
"Maafkan mamah, Asya. Malam ini nggak bisa temani kamu di rumah."
Asya memutar bola matanya jengah setelah mendengar itu. Yang menelfon adalah Sari, mamahnya. Sari selalu sibuk dengan urusannya di butik miliknya sampai jarang pulang ke rumah. Kalau pulang pun pasti hanya beristirahat sebentar lalu pergi lagi ke butik.
Asya sudah terbiasa dengan kesendiriannya di rumah. Kesepian bukanlah hal yang asing baginya. Sepi adalah teman terbaik saat ia sedang berada di rumahnya. Meski kadang ia merasa jenuh dengan keadaannya.
"Jangan lupa sebelum tidur kamu kunci gerbang dan pintu depan! Good night sayang."
Tut tut tutt
Sambungan telfon itu diakhiri sepihak oleh mamahnya. Asya memandang layar handphone dengan tatapan datar. Ia kembali meletakkan handphone-nya dengan sedikit bantingan ke atas nakas seperti semula. Mau sampai kapan ia akan merasa kesepian setiap malam?
Jodohin kek sama siapa biar selalu ada yang nemenin di rumah saat malam gini. Biar kayak di wattpad gitu. Tapi sadar kalau itu nggak akan terjadi dihidupnya.
Handphone-nya kembali berbunyi, dengan cepat Asya mengangkat panggilan itu dan langsung mendekatkan speaker handphone arah telinganya. Ia masih merasa kesal.
"Iya mah apa lagi? Nanti Asya bakal kunci pintu depan kok. Asya janji nggak akan lupa lagi kayak kemarin." ucap Asya panjang lebar, namun tidak ada respon dari lawan bicaranya di dalam telfon membuatnya bingung. "Mah?"
"Ya udah kunci dulu pintunya, gue tunggu."
Mata Asya membelalak lebar, suara bariton yang ia dengar barusan bukanlah suara mamahnya. Lalu siapa yang sedang ia telfon sekarang? Asya melihat layar handphone-nya, hanya ada nomer asing berawal +62.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRYING UNDER RAIN [Selesai]
Teen FictionDipaksa selesai sebelum dimulai. - - - 📌Jangan lupa voment & share! 📌Mau follback atau feedback, DM aja. #1 primily [26/10/21] #1 adikkelas [23/01/22] #1 barra [04/02/22]
![CRYING UNDER RAIN [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/242437159-64-k190357.jpg)