Happy reading!
🌧🌧🌧
Pagi ini nggak jauh beda dari pagi di hari kemarin. Asya kembali berangkat dengan mata yang sembab. Asya pikir ia sudah tidak bisa menangis. Tapi tadi malam ia mengeluarkan air matanya lagi.
Asya capek dan bener-bener capek dengan semuanya. Pengin rasanya mengubah semua jadi lebih baik dengan sekejap. Sayangnya nggak bisa, bahkan sama tukang pesulap professional sekalipun.
Sepagi ini Asya sudah mendapat sorotan aneh dari siswi yang sedang berbincang di koridor yang sedang ia lewati. Entah apa yang sedang ada di pikiran mereka.
Setelah melewati itu semua, akhirnya Asya sampai di kelasnya. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Apa yang Kila lakukan dengan bangku milik Asya?
Asya melangkahkan kakinya mendekat ke bangku yang biasa ia tempati. Bangku itu kini sudah penuh dengan coretan kata-kata kotor.
"Kill, kok bangku gue jadi gini sih?" tanya Asya.
"Emm..annuu... Gue juga nggak tahu, waktu gue berangkat sudah kayak gini." jawab Kila yang masih membersihkan coretan itu. "Udah gue bersihin dari tadi tapi nggak ilang."
Asya hanya diam sambil membaca coretan di bangkunya. Kata-kata itu nggak asing, Asya sudah pernah membaca sebelumnya. Oh iya! Asya baru ingat, kata-kata di coretan itu sama persis seperti pesan dari nomer dan akun tidak dikenal waktu kemarin.
Asya yakin pelakunya adalah orang yang sama.
"GAEESSS ADA BU INTAN!!!" teriak Abdi yang berlari dari arah luar membuat siswa yang ada di dalam langsung berlarian menuju ke bangku mereka masing-masing. Dan Asya terpaksa duduk di bangkunya yang penuh coretan itu.
"Selamat pagi buu.." ucap seluruh siswa di dalam kelas dengan kompak.
"Pagi juga, kemarin sampai mana materi yang sudah dibahas?" tanya bu Intan berdiri di tengah. Sialnya pandangan bu Intan mengarah ke bangku Asya yang penuh coretan. "Afasya! Berdiri!"
Asya berdiri mengikuti perintah dari bu Intan. Asya yakin seratus persen jika dirinya akan dimarahi atau di hukum. Asya tahu betul bu Intan seperti apa.
"Kamu apakan bangku kamu?" tanya bu Intan dan sekejap pandangan teman kelasnya mengarah kepadanya.
"Bukan saya bu. Waktu saya berangkat, bangkunya sudah seperti ini." ujar Asya membela dirinya.
"Kalau bukan kamu siapa lagi? Itu kan bangku kamu, cepat bersihkan!"
"Sudah dibersihkan tapi nggak mau hilang, bu."
"Yasudah, pergi bersihkan toilet! Anggap saja itu sebagai hukuman kamu karena merusak fasilitas sekolah!"
"Baik, bu." ucap Asya segera keluar dari kelasnya.
Arrggshshhs!!! Menyebalkan! Asya menghentak hentakkan langkahnya menuju ke toilet. Asya bener-bener nggak tau apa-apa. Waktu berangkat saja bangkunya sudah dicoret-coret spidol seperti itu.
Lagian gabut bener sih orang yang coret-coret bangkunya. Dan kini Asya disuruh membersihkan toilet sendirian. Mana toiletnya bau lagi.
Tunggu.
"Lohh mbak Asya!" ucap Fian yang sedang berada di toilet dengan Alex yang sedang memegang pel-pelan di tangannya. "Ngapain mbak Asya ke sini? Mau pakai toiletnya ya?"
Asya mendengus kesal, "harusnya gue yang nanya ngapain lo berdua ada di toilet cewe kelas sebelas?" Asya langsung meraih sikat yang ada di pojokan dan mulai menyikat lantai yang masih kotor. "Mau ngintip ya! Awas bintitan loh!"
"Ya dihukum lah! Gara gara tuh Fian curut patahin kaki mejanya Barra!" kesal Alex melirik ke arah Fian. "Mana dihukumnya disuruh bersihkan toilet seluruh sekolah lagi."
"Enak aja! Lo yang dorong gue anjim!" ucap Fian membela diri.
"Kan lo yang ledekin gue duluan!"
"Baperan lo!"
"Lo yang keterlaluan!"
Sepertinya Asya salah nanya. Bukannya menjawab lalu melanjutkan hukuman, mereka berdua malah ribut di toilet. Dan Asya hanya diam menyaksikan keributan dengan tangan masih memegang sikat lantai.
Perkelahian mereka berhenti ketika melihat Asya yang sedang memandangnya datar. Nih cewek lama-lama mirip Barra yang kalau diam serem.
"Udah? Cepat lanjutkan bersih-bersihnya biar gue juga ringan." suruh Asya menyikat lantainya lagi.
Mereka melanjutkan hukumannya hingga selesai, "mba Asya sendiri ngapain ikut-ikutan bersihin toilet? Mau bantu kita?" Tanya Fian membuat Asya menghentikan untuk menyikat lantai lalu menatap Fian.
Asya berdecak, " Ck! Gue juga dihukum gara-gara dikira gue yang coret-coret bangku. Padahal bukan gue, mana mungkin gue coret-coret bangku sendiri kan?" ucapnya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Yahh sabar ya!" Fian dan Alex bersamaan.
Asya mengangguk. "Udah yah, gue capek mau balik ke kelas. Lanjutin kalian.." ucapnya lalu keluar dari toilet.
🌧🌧🌧
aiunda (28/10/20)
KAMU SEDANG MEMBACA
CRYING UNDER RAIN [Selesai]
Teen FictionDipaksa selesai sebelum dimulai. - - - 📌Jangan lupa voment & share! 📌Mau follback atau feedback, DM aja. #1 primily [26/10/21] #1 adikkelas [23/01/22] #1 barra [04/02/22]
![CRYING UNDER RAIN [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/242437159-64-k190357.jpg)