22🌧

109 13 36
                                        

Happy reading!

🌧🌧🌧

Sejak semalam, Barra semakin tidak mood melakukan apa-apa. Iya semalam! Sejak ia dibentak-bentak oleh ayahnya. Tidak masalah jika tidak dibolehkan mengikuti futsal, hanya saja cara nya terlalu berlebihan.

Kalau bisa bicara dengan baik-baik, kenapa harus membentak? Lagipula alasannya tidak masuk akal. Tidak semua waktu yang Barra punya digunakan untuk sekolah kan? Ia masih punya waktu lain untuk melakukan apa kemauannya.

Kini Barra sedang berada di perpustakaan dengan Rara yang sedang duduk di sebelahnya. Mereka ditugaskan untuk mengerjakan soal pelajaran biologi di perpustakaan. Namun hanya Rara yang sibuk mengerjakan soal.

Sedangkan Barra? Iya hanya duduk terdiam dengan buku di tangannya.

'Kreett'
Suara kursi yang digeser.

Seorang gadis duduk tepat di depan Barra. Memandangnya dengan senyuman merekah di wajahnya. Masih gadis yang biasa, gadis yang tidak tau malu, mengejar-kejar dirinya tanpa lelah. Heran.

Siapa lagi kalau bukan, Asya!

"Gue ikut gabung ya!" ucapnya lalu dianggukki oleh Rara.

Asya tidak suka melihat Rara selalu dekat dengan Barra. Padahal kan dia cuma siswa baru di sini. Apalagi ketika Asya melihat Barra lebih terlihat asyik dengan Rara dibandingkan dengan dirinya.

Rara bertanya apapun pasti dijawab oleh Barra. Sedangkan dirinya? Datangnya saja seperti tidak diharapkan. Tentu membuat Asya menjadi kesal dan terus kepikiran.

Tangannya memang memegang novel, namun mata dan pikirannya selalu mengarah ke Barra dan Rara. Juga ia selalu menunggu, kapan sih Barra mau menerima dirinya?

"Barr? Lo nggak sakit kan?" tanya Rara karena melihat Barra sedikit pucat. Sejak pagi tadi juga tidak mengeluarkan suara.

Barra menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Rara yang sedang menempelkan telapak tangannya di kening Barra. Tentu membuat Asya semakin kesal melihatnya. Rara? Menyentuh kening Barra?

"Rara! Jangan sentuh Barra!" ujar Asya tidak suka.

"Memangnya kenapa?" Rara segera menurunkan tangannya.

Asya mengepal telapak tangannya, "Gue suka sama Barra," ungkap Asya tidak tahu malu.

"M-maaf kak" ucap Rara melanjutkan untuk mengerjakan tugasnya lagi.

Sedangkan Barra, ia bahkan hanya memandangi kejadian barusan dengan raut datarnya. Ia mencoba tidak peduli, ungkapan Asya sudah biasa ia dengar berkali-kali.

Ia bosan melihat Asya yang selalu datang menghampirinya setiap hari. Gadis itu tidak punya rasa malu. Mana ada sejarahnya cewek yang ngejar cowoknya dulu.

Menurutnya, cewek ini aneh. Barra selalu menghindarinya, selalu tidak peduli, cuek, dingin, apapun itu yang sengaja dilakukannya agar cewek ini berhenti mengejar dirinya. Tapi apa? Semakin hari tingkahnya semakin berlebihan.

Bahkan barusan? Ia melarang Rara untuk dekat dengannya? Lucu.

"Ra, kenapa lo nggak gabung sama teman-teman lo yang cewe?" tanya Asya.

"Kenapa malah sama Barra?"

Dua pertanyaan belum Rara jawab, ia bingung akan menjawab bagaimana.

"Apa jangan-jangan lo suka sama Barra?" pertanyaan Asya kali ini membuat Rara mengerutkan dahinya, begitu juga Barra. Semakin lama tingkahnya semakin menyebalkan.

Dan detik berikutnya? Barra beranjak dari duduknya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu perpustakaan. Ia berjalan dengan langkah yang panjang. Malas melihat gadis itu.

"Tunggu, Barr!"

🌧🌧🌧
Jangan lupa voment!
Terimakasih.

aiunda (16/10/2020)

CRYING UNDER RAIN [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang