15🌧

128 17 6
                                        

Happy reading!

🌧🌧🌧

Belajar dan belajar. Seakan tidak ada kegiatan lain yang perlu Kila lakukan. Di sini di ruang belajar yang selalu jadi tempat segalanya bagi Kila.

Brakk

Kila melonjak kaget ketika mendengar suara benda yang dipukul begitu keras ke meja belajarnya. Meski terjadi beberapa kali, namun itu tetap membuat Kila kaget dan ketakutan.

"Ibu dengar nilai kamu menurun." ucap Lona-Ibu Kila dengan tegas. Sudah berapa bulan ini nilai Kila terus menurun. Hal itu membuat Ibu Kila resah. Ia ingin Kila selalu berada di atas, jika bisa berprestasi dan mendapat beasiswa. "Mau sampai kapan kaya gini terus? Kamu harus lebih keras lagi, Kila!" lanjutnya.

Kila mulai bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan Lona. "Kila harus sekeras apa lagi, bu? Kila capek harus duduk dua puluh empat jam dengan buku-buku yang bikin kepala Kila mau pecah rasanya." bantah Kila sudah berkaca-kaca.

"Siapa yang ngajarin kamu ngebantah? Teman kamu yang ngajarin?" tanya Lona bersedekap dada. Lona paham sekali jika Kila bukan anak yang selalu membantah perkataan orang yang lebih tua darinya.

Muak. Kila muak dengan tuntutan yang selalu ia terima. Itu membuat tubuh dan pikirannya selalu kelelahan. Dan kalau nilai Kila tidak ada perubahan? Ia terpaksa harus belajar tanpa batas waktu. Bahkan jika Kila harus tetap terjaga 24 jam tanpa istirahat satu menit pun.

"Mau jadi apa kamu, Kila?"

"Jangan males kalau mau sukses!"

"Kamu harus bisa mencapai impian ibu dan ayah waktu muda yang belum terwujud hingga sekarang."

"Kamu satu-satunya harapan yang ibu dan ayah punya."

"Jangan mengecewakan!"

Panjang lebar Lona memberi tahu putri semata wayangnya dengan tegas. Itu sudah biasa ia lakukan di tengah fokusnya Kila belajar. Agar memberi tahu saja agar putrinya tidak lengah.

Namun, bagi Kila ini terlalu berlebihan. "Kila capek!" teriaknya yang tentu membuat Lona melebarkan matanya.

"Capenya di mana? Cuma duduk dan belajar itu capek?" tanya Lona mengangkat alisnya.

"Apa yang ibu tahu soal Kila selain kekurangan dan nilai? Apa dengan ibu selalu marah-marah dan bentak Kila setiap malam akan buat nilai Kila naik? Itu cuma bikin Kila makin stress!"

Plakk

Lona menampar pipi kiri Kila dengan keras.

Sedangkan di sisi lain, duduk di depan rumah ditemani hawa dingin. Suara hewan-hewan malam terdengar di telinganya. Asya sedang melamunkan sesuatu. Merenungi semua yang nampak menyebalkan, yang terjadi di hari ini. Hal itu membuat kepalanya terasa sakit. Semuanya terputar jelas di kepala.

Jika Kila yang selalu sibuk dengan pelajaran, maka Asya selalu sibuk dengan Barra yang memenuhi pikiran. Asya memang bodoh, ya harus bagaimana lagi. Harus ia apakan otak kecilnya ini.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba seseorang datang dengan membawa tas di punggungnya. Hanya terlihat seperti bayangan saja namun Asya masih bisa melihatnya.

Orang itu tidak memanggil atau berbicara apapun sama sekali. Hanya memperlihatkan seperti sedang mengelap sesuatu di wajahnya.

Asya menyipitkan matanya mencoba menebak siapa yang ada di depan gerbang rumahnya. "Kila!" Asya berlari menghampiri Kila. Ia membukakan gerbang untuk Kila.

Tiba-tiba saja Kila memeluk dirinya, "Sya, gue capek!" keluhnya dengan suara khas setelah menangis.

Asya belum paham dengan Kila, "kenapa Kil? Lo punya masalah lagi sama orang tua lo?" tanya Asya melepas pelukannya, lalu mengelap air mata Kila yang jatuh ke pipi.

Kila mengangguk dengan tangis yang semakin pecah membuat Asya merasa ia salah memberi pertanyaan.

"Ayo masuk!" Asya menuntun Kila untuk masuk ke dalam rumahnya.

Kila memang sering sekali punya masalah dengan orang tuanya. Ia selalu dituntut untuk lebih dari apa yang sekarang Kila miliki.

Orang tuanya selalu ingin menuntun Kila dalam meraih kesuksesan dengan caranya. Sedangkan nilai yang Kila raih selalu kurang, ia dituntut untuk sempurna. Hanya karena itu Kila semakin merasa kehilangan rasa kasih sayang dari orang tuanya yang egois.

Mereka selalu marah ketika anaknya tidak melakukan apa yang diinginkannya. Kila bukanlah anak kecil yang apa-apa harus diatur. Kila sudah besar dan Kila juga punya tujuan hidupnya sendiri.

Tentang ia akan menentukan apa, cita-citanya, dan semua keinginannya Kila bisa menentukan itu sendiri tanpa campuran tangan orang tuanya. Kila hanya ingin menjadi apa yang bisa ia raih dengan nilainya tanpa paksaan.

Ia selalu ditekan orang tuanya soal pendidikan. Nilai yang Kila raih selalu dituntut untuk sempurna. Sedikit menurun saja sudah dimarahi habis-habisan. Tak jarang ia begadang hanya untuk membaca ulang materi dan mempelajari materi yang belum diajarkan.

Kini Kila sedang duduk di atas kasur di kamar Asya. Ia sedang melamun dengan tatapan mata kosong lurus ke depan. Mungkin omongan orang tuanya masih memutar jelas di kepalanya.

Asya masuk ke dalam kamar dengan membawa teh hangat di tangannya. "Nih Kil, diminum selagi masih hangat." ucapnya sambil meletakkan cangkir berisi teh di atas nakas.

Asya melipat jaket yang kemarin ia cuci dan kini sudah kering itu yang lalu ia masukkan ke dalam lemari. "Maaf ya kamarnya berantakan," ucapnya lalu duduk di sebelah Kila dan menatapnya dengan prihatin. Apalagi matanya yang masih sembab.

"Maaf ya Sya, gue emang beban buat siapapun termasuk lo." Ujar Kila tetap menatap lurus ke depan.

Asya membelalak, "nggak kok Kil, dengan adanya lo di sini buat gue jadi ngga kesepian." ucapnya.

Kila kini menatap Asya dan tersenyum, "makasih ya, gue udah dibolehin tidur di rumah lo malam ini."

Asya mengerutkan dahinya, "kata siapa lo boleh tidur di rumah ini? Sana tidur di luar!"

"Syaaa!! Rese deh!!"

Secara tidak sadar, Kila tersenyum kembali bahkan ia sudah mulai tertawa lagi. Asya harap Kila akan kembali menjadi Kila yang ceria, yang rese, yang cerewet!

Kila yang sedih ngga asik.

Mereka berpelukan seperti Teletubbies.

🌧🌧🌧

Jangan lupa voment!
Terimakasih.

aiunda (9/10/20)

CRYING UNDER RAIN [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang