Happy reading!
🌧🌧🌧
Barra melihat Bram, ayahnya yang sedang sibuk mengutak-atik laptop di ruang kerjanya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Nampaknya sangat sibuk.
Barra menghela nafasnya, ia membuka pintunya lebih lebar dan memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Barra menyodorkan kertas ke ayahnya.
Bram menghentikan aktifitasnya, dan beralih menatap Barra lalu menatap kertas yang Barra tunjukkan kepadanya. Bram mengambil kertas itu dengan kasar lalu membaca apa yang ada dalam kertas itu.
Sebuah formulir untuk perlombaan futsal yang harus ditanda tangani oleh orang tuanya. Sejauh ini Barra belum membuka suaranya. Ia tetap diam sambil menunggu respon dari beliau.
"Untuk apa formulir seperti ini?" tanya Bram menatap Barra tajam.
Bram menyobek kertas itu hingga menjadi beberapa bagian. Formulir yang seharusnya membuat orang tua senang kini berakhir menjadi sampah.
"Pah! Kok malah di sobek sih!" Jujur, Barra sangat marah dengan ini. "Barra capek-capek latihan, supaya dapat kesempatan itu."
Sayang sekali, penuturan Barra sama sekali tidak dipedulikan oleh ayahnya. Bram kembali fokus kepada laptopnya lagi sambil membuka-buka berkas yang ada di sampingnya.
"Pah! Bisa nggak sih papah turutin apa yang Barra mau! Sekali saja!" mohon Barra, membuat Bram kembali menatap Barra.
"Turutin apa?" Bram berdiri dari duduknya. "Turutin kamu main futsal?" ucapnya dengan nada mengejek. Dari dulu setiap Barra ingin mengikuti apapun pasti tidak diizinkan oleh Ayahnya. Apapun itu. Menurutnya itu tidak penting.
Barra menatap ayahnya, ia marah namun tidak bisa ia luapkan di depan ayahnya. Ia hanya bisa diam, menahan amarah dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal kuat.
"Tujuan papah sekolahin kamu supaya kamu bisa cari ilmu! Bukan buat main futsal Barra!" bentak Bram sambil menunjuk-tunjuk Barra.
"Tapi, pah!"
"Nggak ada alasan lagi!"
Barra keluar dari ruang kerja ayahnya dan menutup pintu dengan keras. Ia melangkah menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia ingin meluapkan segala kekesalannya di sana.
Bram tidak pernah menghargai semua yang Barra capai. Apapun itu Bram tidak peduli, bisanya hanya mematahkan semua keinginan Barra.
Hidupnya berubah 180° sejak tidak ada Masya, ibunya. Ya, Bramasya dari nama terakhir Barra diambil dari nama kedua orang tuanya Bram dan Masya. Ibunya mendukung segala hal yang dilakukan Barra, apapun itu selagi apa yang dilakukan adalah hal positif.
Namun takdir berkata lain, Ibunya meninggal karena kecelakaan saat akan berkunjung ke rumah kakek ketika Barra duduk di bangku SMP kelas 8.
Sejak saat itu Barra merasa bukan Barra yang sebenarnya. Ditambah sikap Ayahnya yang sudah berbeda. Semua berubah semenjak itu, mereka semua merasa terpuruk.
Dan kini? Barra hanya tinggal berdua dengan Bram di rumah. Barra tidak suka!
Barra selalu menginginkan ibunya berada di sisinya. Ia ingin bercerita tentang hidupnya yang sekarang. Kini Barra berubah, bukan Barra yang selalu bercerita tentang semua yang dialaminya. Ia bungkam, menutup segala tentang dirinya kepada siapapun.
Menurutnya, tidak ada yang bisa menggantikan Masya untuknya. Hanya Masya yang bisa mengerti tentang dirinya. Ingat itu! Hanya ibunya!
Barra bukan sosok yang kuat, jika dikatakan lemah? Ia lebih dari sekedar lemah! Ia rapuh saat mengingat tentang ibunya.
Kini ia duduk merangkul kedua lututnya sambil memandangi langit malam, mana bulan? Mana bintang? Tidak ada yang Barra lihat di atas sana. Semuanya gelap!
Ingin teriak pun tidak bisa.
Kenapa? Air mata tidak sedikitpun keluar dari matanya. Menangis dalam hati yang tentu itu terasa sangat sakit!
Barra marah bukan karena formulir itu yang sudah menjadi sampah. Namun Barra marah karena sikap ayahnya yang tidak pernah mengerti dirinya, perasaannya, keinginannya.
Aneh, yang mematahkan justru ayahnya sendiri.
Bahkan sekarang? Ayahnya mengejar? Menangkan dirinya? Tidak! Bram tetap berada di ruang kerjanya. Seolah itu lebih penting daripada Barra sendiri.
Barra masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di atas kasur. Meraih foto ibunya dari atas nakas. Ia memejamkan kedua matanya sambil mengusap pelan permukaan foto itu.
"Barra pengin cerita tentang hidup Barra yang sekarang."
"Sebenarnya Barra hidup buat apa sih? Kenapa Barra nggak pernah boleh melakukan apa yang Barra suka?"
"Barra kangen sama mamah yang selalu mendukung apapun yang Barra lakukan, selagi itu hal positif."
"Kapan Barra akan dapat kesempatan itu lagi?"
"Didukung oleh satu-satunya orang yang paling Barra sayang?"
🌧🌧🌧
Jangan lupa voment!
Terimakasih.
aiunda (15/10/2020)
KAMU SEDANG MEMBACA
CRYING UNDER RAIN [Selesai]
Fiksi RemajaDipaksa selesai sebelum dimulai. - - - 📌Jangan lupa voment & share! 📌Mau follback atau feedback, DM aja. #1 primily [26/10/21] #1 adikkelas [23/01/22] #1 barra [04/02/22]
![CRYING UNDER RAIN [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/242437159-64-k190357.jpg)