Happy reading!
🌧🌧🌧
Dari pagi Asya hanya diam tanpa memperhatikan guru yang ada di depan. Ia terus membenamkan wajahnya di atas meja. Tidak peduli sepenting apa di sekitarnya bahkan sampai jam istirahat telah tiba.
Kila sudah mengajaknya ke kantin bersama dengan segala bujukannya namun tetap saja Asya terus menggelengkan kepalanya tanpa berbicara. Kila tahu Asya pasti belum sarapan tadi pagi jadi ia sedikit khawatir dengannya. Namun Kila tidak bisa terus-terusan memaksa Asya. Jadi ia memutuskan untuk ke kantin sendirian.
Kini Asya sendirian di dalam kelasnya yang sudah sepi. Ia membuka-buka bukunya, melihat halaman bukunya yang terdapat nama Barra yang biasa ia tulis di sana. Asya merobek dan meremasnya kuat-kuat sambil menahan tangisnya.
Entahlah kenapa jadi selemah ini.
Ia menghela nafasnya, Asya berdiri dari duduknya dan berniat keluar dari kelas untuk membuang kertas itu. Namun saat di luar ada seorang siswa yang berlari ke arahnya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Asya! It-Ituu... "
Asya mengerutkan dahinya bingung dengan terus menatap orang itu. "Itu apa?"
"Bar_Barra berantem Sya!"
"Berantem sama siapa?" tanya Asya mulai panik.
"Kak..Arga! Di..."
"Di mana?!"
"Depan kelas Barra! Mereka ribut dan bawa-bawa nama lo!"
Pandangannya langsung tertuju ke kelas Barra di atas. Benar saja di sana terlihat ramai. "Makasih sudah kasih tahu," Dengan langkah cepat Asya pergi ke lantai dua. Ia melangkahkan kakinya dengan rasa yang sudah tidak karuan.
Asya terus berjalan hingga tiba di depan kelas Barra. Sudah banyak siswa yang berkerumun di sana. Asya pun langsung menerobos kerumunan itu hingga tiba di tengahnya.
'Bugh!'
Asya membelalak ketika melihat Arga mendaratkan pukulannya beberapa kali ke wajah Barra. Barra yang terlihat sudah lemas hanya diam dan menerima semua pukulan dari Arga. Nampak juga Alex dan Fian yang sedang kewalahan mencegah Arga untuk berhenti. Kejadian seperti ini baru ia lihat pertama kali langsung di depan matanya.
"ANJING LO BARR!"
"PUNYA HATI NGGAK SIH!"
"BUKA MATA LO LEBAR-LEBAR! LIHAT ASYA YANG SELALU ADA BUAT LO!"
"HARGAI SEDIKIT AJA BARR!"
Cercaan demi cercaan keluar dari mulut Arga dengan tangan yang tak henti-hentinya menghajar Barra di depannya.
"STOPPP!!!" teriak Asya memajukan langkahnya ia akan menghentikan Arga. Namun tidak digubris sama sekali, Arga masih menghajar Barra dengan brutalnya.
"BERHENTI KAK!"
"KAK STOP!"
Sudah berkali-kali Asya menarik lengan Arga namun tenaganya tidak cukup besar. Ia terus melakukannya karena tidak tega melihat kondisi Barra sekarang. Bodohnya Barra tidak melawan sama sekali.
'Brakk!!'
Asya terkena tangkisan dari Arga, ia pun terpental hingga menabrak pintu kelas dengan cukup keras hingga menimbulkan suara. Beberapa siswa di sana refleks berteriak saat menyaksikan ini.
"KAK, ASYA MOHON BERHENTI!!!"
"UNTUK APA KAK ARGA NGELAKUIN INI?"
"KARENA KEJADIAN KEMARIN? ASYA GAKPAPA KOK!"
"JANGAN DI BESAR-BESARKAN!"
Arga menghentikan pukulannya saat itu juga, ia berbalik menghadap Asya yang sudah ada di lantai sambil meringis kesakitan. Tatapan Arga sangat berbeda, terlihat seribu kali lebih tajam dari biasanya. Membuat Asya bringsut jadi ketakutan.
"Karena gue cinta sama lo!"
"Gue sudah tahu semua tentang lo bahkan sebelum kita kenalan di kantin waktu itu."
'Degh!'
Seolah pasokan oksigen di sekelilingnya menipis secara tiba-tiba. Arga mengungkapkannya tanpa ada ragu sedikitpun. Banyak siswa yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Arga dan mereka semua melongo tak percaya. Begitu juga Barra dengan Alex dan Fian di sebelahnya. Arga pergi begitu saja dari hadapannya, menerobos kerumunan siswa yang dominan kelas 10.
Asya merunduk ke arah bawah, mengapa perasaannya semakin tidak jelas. Ia menjatuhkan air matanya lagi untuk yang kesekian kalinya sambil meremas roknya sangat kuat. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya, ia ingin meluapkan segalanya. Namun tidak bisa.
Sebuah tangan terulur ke arahnya, Asya pun mendongak. Ternyata Barra dengan wajah yang sudah tidak bisa Asya jelaskan. Yang ia lihat ada darah di pelipis dan batang hidungnya.
Asya berdiri tanpa meraih uluran Barra dan segera pergi dari sana dengan air mata yang sudah tumpah. Asya tidak tahu akan merespon apa. Mengapa semuanya jadi nampak semakin kacau sekarang.
Maaf Barr, gue pengin obati luka-luka lo tapi gue ngga mau terlihat sedih terus di depan lo. Batinnya, sambil menyeka air mata yang jatuh dengan punggung tangannya.
🌧🌧🌧
Jangan lupa voment!
Terimakasih.
aiunda(21/10/20)
KAMU SEDANG MEMBACA
CRYING UNDER RAIN [Selesai]
Teen FictionDipaksa selesai sebelum dimulai. - - - 📌Jangan lupa voment & share! 📌Mau follback atau feedback, DM aja. #1 primily [26/10/21] #1 adikkelas [23/01/22] #1 barra [04/02/22]
![CRYING UNDER RAIN [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/242437159-64-k190357.jpg)