17🌧

105 16 9
                                        

Happy Reading!

🌧🌧🌧

Keesokannya...

Asya berjalan menuju ke lapangan dengan langkah ragu. Sial! Mengapa ia harus lupa memakai dasi di hari senin? Apa ia akan menahan malu berdiri di depan dan disaksikan oleh peserta upacara lainya?

Tidak habis pikir, galau bisa membuat seseorang jadi pelupa. Melihat Barra dan Rara yang terlihat dekat membuat Asya merasa sedih. Pikirannya selalu itu sampai ia melupakan sesuatu yang lain.

"Nih! Pake dasinya!"

Asya mendongak melihat orang yang tiba-tiba datang dengan menyodorkan dasi untuknya. Ternyata Arga, hal itu membuat Asya kembali tersenyum. Tapi tunggu,

"Tapi kak Arga gimana?" tanya Asya mengerutkan dahinya setelah ia menyadari Arga sudah tidak memakai dasi, berarti ini dasi Arga sendiri.

"Santai aja," ucap Arga dengan tersenyum setelah itu pergi menuju ke lapangan meninggalkan Asya yang masih ditempat.

Asya memakai dasinya dan segera menuju ke barisannya di lapangan. Ia berdiri di barisan kedua bersama Kila tentunya. Dan upacara langsung dimulai saat itu juga.

Di tengah berjalannya proses upacara, siswi di sekeliling Asya membicarakan sesuatu. Tentu membicarakan Arga yang kini berada di barisan khusus siswa yang melanggar peraturan.

Mereka semua mengasihani Arga yang berada di sana. Hal itu semakin membuat Asya tidak enak hati. Karena dirinya lah Arga dihukum di depan.

Bahkan hingga upacara selesai Asya selalu diselimuti rasa tidak enak. Arga terlalu baik kepadanya, padahal Arga belum lama kenal dengan Asya.

Semua siswa bubar dari barisan setelah upacara selesai. Kecuali barisan khusus pelanggar itu. Mereka masih berdiri di bawah terik matahari. Asya semakin tidak tega melihatnya.

"Ayo Sya ke kelas! Ngapain lo masih berdiri di situ?" Kila menarik tangan Asya untuk menjauh dari lapangan. Kila malas berpanasan di lapangan.

Sambil berjalan dengan tangan ditarik Kila. Pandangan Asya tetap menuju ke Arga. Harusnya dirinya yang ada di sana, menahan panasnya matahari lebih lama, mendengar guru BK berbicara, dan mendapat hukuman.

"Sebentar, Kil." Asya menghentikan langkahnya diikuti Kila.

"Lo lagi liatin siapa sih? Barra? Ngga ada Barra di sana." ujar Kila sambil memandang barisan khusus pelanggar mengikuti arah pandang Asya.

"Bukan Barra! Tapi kak Arga," ucap Asya yang lalu mendapat tatapan aneh dari Asya.

"Haha, lo lagi kesambet apa? Kayak nggak biasa liat kak Arga dihukum aja. Biasanya juga lebih parah dari itu, bersihin toilet sama halaman belakang juga udah di mamam setiap hari sama dia." panjang lebar Kila sambil tertawa aneh kepada Asya.

Arga memang sering dihukum karena perbuatannya. Karena sering dihukum itulah Arga pun semakin sering di lihat para siswa dan semakin banyak yang suka dengan Arga karena kegantengannya. Salah satu alasan Arga jadi famous.

"Heh! Ngga usah ngelamun! Ayok ke kelas." Paksa Kila.

"Ck! Kil! Dasi yang gue pake itu punya kak Arga!" Kejujuran Asya membuat Kila membelalak tidak percaya.

Arga yang selalu jual mahal itu membantu Asya lolos dari hukuman? Arga juga menanggung hukuman itu? Demi Asya? Ini sulit untuk dipercaya bagi Kila.

"Nggak usah halu! Gue tau lo jomblo tapi nggak gini caranya!" sarkas Kila tidak percaya.

"Yaudah terserah,"

Asya berjalan mendahului Kila. Ia berjalan menuju ke kelasnya. Ia sedang bingung, juga ia tidak bisa berfikir apa apa. Bagaimana caranya membantu Arga? Ya kali mau nyamperin ke tengah lapangan. Apa pandangan siswa lain nantinya.

"Ihh ninggalin lagi! TUNGGU SYA!!!"

###


Jangan lupa voment!
Terimakasih.

aiunda(11/10/20)

CRYING UNDER RAIN [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang