Chapter 29

351 56 9
                                        

Trust me, he's crazy!

•••

Rasa lelah dan kantuk yang tadi memenuhi otak dan raga Wendy kini berangsur-angsur menghilang. Penyebabnya adalah senyum, gombalan dan afeksi yang pria itu berikan padanya. Di sepanjang jalan. Saling berpegangan tangan dan mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam kepala cantiknya tentang capek dan ribetnya kegiatan yang tadi dijalaninya di sekolah. Begitu sederhana. Namun, berharga.

Senyum di bibir Wendy memudar saat mendengar suara bass dari seseorang. Ia mengalihkan pandangannya—begitu juga Chanyeol—pada sumber suara.

"Wah wah wah! Lihat gadis itu. Cantik juga dia."

Sekumpulan pria berpenampilan serampangan—total ada 3 orang—berdiri di hadapan mereka. Salah seorang pria jelek bertubuh paling tinggi tapi kurus, dengan beberapa tato di lehernya dan beberapa tindik di wajahnya. Menatap dirinya dengan ekspresi super menjijikkan.

"Hai, kau pria kecil! Serahkan gadis itu pada kami!"

Wendy ketakutan, ia bersembunyi di balik tubuh tegap Chanyeol. Chanyeol sekilas melirik ke arah Wendy yang tampak gelisah di belakangnya. Chanyeol kembali menaruh atensinya pada segerombolan pria menjijikkan tak tahu diri itu, "Sekarang aku sedang berbaik hati untuk tidak ingin menyakiti siapapun. Jadi, tolong biarkan kami pergi."

"Heh, sombong sekali bocah bodoh ini! Cuih!" ucap pria kurus itu, dia menekan ibu jarinya hingga menimbulkan bunyi, "Kau minta dihajar ya? Baiklah!"

Wendy mengeratkan cengkeramannya pada jaket Chanyeol, dia berbisik, "Oppa, apa yang kau lakukan? Kita kalah jumlah."

Chanyeol mengeratkan kepalan tangannya, "Kita tidak akan kalah."

"Oppa!?"

Chanyeol menoleh, dia tersenyum simpul, "Kau mundurlah. Biarkan aku menghadapinya."

"Apa kita perlu panggil polisi?"

Dia menggeleng, "Tidak perlu, sayang. Itu akan memakan waktu. Aku akan menyelesaikannya sendiri."

Sesungguhnya, Wendy ragu untuk membiarkan Chanyeol mengambil tindakan ceroboh seperti ini. Dia berani mengambil resiko berhadapan dengan 3 orang preman di tempat sepi seperti ini. Disini tidak ada yang namanya CCTV. Jarang sekali ada orang yang berlalu lalang, melewati jalan ini. Apalagi tengah malam seperti ini. Mereka hanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi dari bangunan tua yang sudah tak terpakai. Tapi, jalan inilah yang paling cepat untuk sampai ke rumahnya.

"Stttt! Percayalah padaku." Chanyeol kembali meyakinkannya.

Wendy melepaskan cengkeramannya lalu mundur beberapa meter. Berharap cemas, berdoa pada Tuhan agar tidak terjadi hal apapun yang tidak dia inginkan.

"Kau berani juga ya." pria itu mengangkat kedua jarinya, menunjuk ke arah Chanyeol, "Hajar dia!"

Kedua temannya yang berdiri di belakang langsung merengsek maju. Mengepung Chanyeol dari 2 arah. Masing-masing mengeluarkan tinjunya. Salah seorang dari mereka maju. Hendak mengincar wajah Chanyeol.

"Hiaaahh! Rasakan ini!"

Chanyeol berkelit, dia menunduk, tubuhnya bergerak lincah dengan gerakan memutar, menghindari serangan payah yang pria itu lontarkan padanya. Kini dia ada di belakang tubuh pria bongsor itu.

"Kau!" pria bongsor itu hendak memberikan pukulan sikut pada Chanyeol. Tetapi, sayang. Pergerakannya terlalu lamban.

Dengan gerakan kilat, Chanyeol mengunci pergerakannya dengan memutar lengan pria itu ke belakang. Mendorongnya hingga jatuh ke tanah sembari mengambil sebilah pisau di saku jaketnya, dia menduduki punggungnya dan menancapkan benda pipih itu pada batang lehernya.

Three Faces ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang