"Kamu adalah patah teraneh yang pernah aku rasakan. Udah tau sakit, tapi anehnya aku mengulanginya lagi, lagi dan lagi."
***
Arasha Shibilla namanya, gadis berusia dua puluh dua tahun ini tengah mengenyam pendidikan semester tujuh di sebuah universitas swasta di Jakarta Selatan. Asha, gadis itu lagi-lagi menggerutu di sepanjang perjalanannya menuju kampus, di tahun terakhir ini ada banyak hal yang memenuhi pikiran Asha.
Salah satunya adalah perihal dirinya yang sudah menyanggupi untuk berfoto dengan seorang cowok saat wisuda nanti. Padahal pada kenyataannya, selama dua puluh dua tahun Asha hidup, dia tidak pernah berpacaran alias Asha itu jomlo.
Asha yang tengah berjalan, terlihat begitu sibuk dengan handphone miliknya. Asha melakukan ini dengan harapan bisa bertabrakan dengan seorang cowok ganteng seperti adegan yang sering terjadi di dalam FTV atau novel kesayangannya.
Bruk
Tabrakan itu benar-benar terjadi.
Asha yang terjatuh malah tersenyum simpul. Dia tetap menunduk guna menunggu uluran tangan dari sang pangeran impian.
"Lo mau sampe kapan ngeglosor disitu?"
Asha diam, suara yang dia dengar benar-benar suara seorang cowok. Tapi ucapan itu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Penasaran. Asha dengan perlahan mendongak, dia lagi-lagi melakukan itu sesuai dengan apa yang pernah dia tonton. Asha pikir dirinya akan terlihat elegan saat nanti tiba-tiba saja wajahnya dilihat oleh cowok yang Asha tabrak.
Asha tertegun di tempat. Dia melebarkan mata setelah melihat wajah cowok yang berdiri di depannya. Wajah cowok itu sangat familiar, namun tampilannya begitu berbeda.
Merasa tak sanggup untuk melakukan apapun, Asha buru-buru mengambil handphone miliknya. Dia harus secepatnya pergi. Jika perlu sekalian saja menghilang. Yang pasti Asha tidak sanggup jika harus kembali bertemu dengan Prima cinta pertamanya semasa SMP.
"Oyy!"
Teriakan itu jelas terdengar oleh telinga Asha. Bukannya berhenti, Asha malah semakin cepat berlari meninggalkan cinta pertamanya yang tiba-tiba saja datang lagi.
Lelaki yang Asha tabrak hanya bisa menggeleng tak habis pikir. "Dasar cewe aneh," umpatnya pelan.
***
Asha mengatur pernapasannya. Dia duduk menggelosor di depan kelas, menghiraukan tatapan aneh yang mengarah kepadanya. Merogoh tas merah yang dia bawa, Asha berusaha mencari botol minum miliknya. Dia memberenggut kesal saat tak menemukan botol yang dia cari.
Asha bangkit, dia memutuskan untuk meminta minum milik Shinta, salah satu sahabat baiknya. Dengan terburu-buru Asha memasuki kelas, tanpa menoleh pada siapapun Asha melangkah menuju tempat yang selalu dia duduki.
"Shin, bagi minum dong. Aus gue." Asha menyodorkan tangan pada meja sebelahnya, meja yang Asha yakini di duduki oleh Shinta.
Botol tumbler berwarna hitam singgah di tangan Asha, tanpa pikir panjang Asha langsung membuka botol itu dan meminum isinya hingga tersisa setengah botol. Menutup botol, Asha memperhatikan botol tumbler yang ada di tangannya. "Loh, Shin, botol lo kok warnanya item. Lo kan sukanya warna pink atau gak biru."
"Itu botol gue, bukan punya Shinta."
Asha mengerjap. Dengan perlahan dia mencoba untuk menoleh. Terkejut, Asha langsung mengembalikan botol tumbler itu pada lelaki yang duduk di sebelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny [ END ]
RomanceArasha Shibilla, seorang penulis novel horor terkenal kembali bertemu dengan Adinar Primasatya Azmilo sahabat sekaligus cinta pertamanya, pertemuan tanpa sengaja ini membuat takdir terus saja mempertemukan Asha dengan Prima. Gara-gara sering bertemu...
![My Destiny [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/245073570-64-k56448.jpg)