"Aku percaya waktu memang bisa merubah segalanya. Itu terbukti saat perhatian mu tak lagi sama, aku berakhir menjadi bayangan semu."
***
Masa SMP
Asha sedang duduk sendirian di dalam kelas. Wajah polosnya masih terlihat fresh pagi ini. Asha yang notabennya seorang siswi rajin mulai mengeluarkan buku pelajarannya dan menyusun buku itu dengan rapih.
"Shibil!"
Asha tersenyum manis. Dia melihat Prima dengan sejuta pesonanya datang sambil menerbitkan senyuman. Prima duduk di depan Asha, dia menaruh tas, kemudian menoleh ke arah Asha yang memang duduk di belakangnya.
"Tebak deh, Prima bawa apa buat Shibil."
"Emang Prima bawa apaan?" tanya Asha, terlihat sekali cewek berusia empat belas tahun ini begitu bersemangat.
"Prima bawa cokelat buat Shibil." Prima mengeluarkan cokelat yang dia bawa. Asha menerimanya dengan senang hati.
Tak lama beberapa teman kelasnya datang. Asha dibuat bingung karena mereka membawa cokelat yang sama dengan miliknya.
Prima kembali mengalihkan atensi Asha. "Kamu tau Bil. Shibil itu spesial buat Prima, makanya cokelat terakhir ini jatoh ke tangan Shibil." Prima tersenyum sangat manis, membuat Asha urung untuk protes.
Keesokan harinya.
"Shibil!" Prima lari tergopoh-gopoh. Asha reflek menghentikan langkah, dengan memasang senyuman terbaik Asha bertanya, "Prima abis ngapain, sih?"
"Ini, series terakhir dari komik kesukaan Shibil. Prima tadi sengaja antri lama-lama cuma buat ini." Prima menyodorkan buku komik bersampul Pink pada Asha. Asha tersenyum manis, dia tau sekali bahwa Prima sudah bekerja keras untuk mendapat buku komik ini. Prima bahkan rela berpanas-panasan itu terlihat dari wajahnya yang sudah memerah dan di banjiri keringat.
"Makasih banyak ya, Prima baik banget sama Shibil."
"Tentu, buat Shibil apa sih yang enggak." Prima kembali memasang senyuman yang selalu membuat Asha kelimpungan.
Hari berikutnya.
"Shibilang sayang tapi gengsi!" Prima memanggil sambil nyengir di depan pintu masuk kelas.
Asha langsung merasa kesal. "Apaan sih, dasar Primata terkutuk ganteng!"
Prima tertawa. Dia berjalan pelan menghampiri Asha.
"Hari ini mama bawain kue brownies loh, dan seperti biasa Shibil dapet bagian terakhir yang paling enak." Prima membuka tutup tempat makan yang dia bawa.
Senyuman Asha kembali mengembang, "Wah ini spesial buat Shibil?" Prima mengangguk.
Perasaan Asha semakin tidak karuan. Gadis empat belas tahun ini sudah jatuh cinta pada Prima sahabatnya sendiri. Prima dan perlakukan manisnya telah meluluhkan hati seorang Arasha Shibilla, bahkan, Asha tidak pernah keberatan dijadikan yang terakhir oleh Prima hingga kata terakhir menurutnya adalah kata paling spesial yang pernah dia dapatkan.
Tiga hari menuju UN
Hari ini Asha akan menyatakan perasaannya pada Prima. Dia mengenyampingkan rasa malu karena selama ini Prima tak kunjung mengajaknya berpacaran. Padahal Asha sudah merasa sangat yakin bahwa Prima memiliki rasa yang sama padanya.
Jadi, Asha memutuskan mengambil langkah lebih dulu. Asha pikir Prima malu untuk menyatakan cinta atau mungkin lelaki pintar-pintar bodoh itu kekurangan sinyal peka hingga membuatnya menunggu selama ini.
Asha sudah berpenampilan sebaik mungkin, dia mengepang rambut indahnya, memakai bedak dan sedikit liptint juga memakai parfume yang Prima suka. Asha menunduk, matanya di penuhi binar bahagia karena Asha yakin hadiah yang sedang dia tatap saat ini akan beralih ke tangan Prima. Asha yakin dia tidak akan di tolak.
"Shibil..."
Suara Prima terdengar bersamaan dengan beberapa derap langkah yang mendekat. Asha semakin merasa gugup, dengan terburu-buru dia memasukan hadiah itu pada laci mejanya.
Asha menoleh kearah pintu, memasang senyuman terbaik sambil menarik napas agar tidak merasa gugup lagi.
Prima benar-benar datang. Namun, dia tidak datang seorang diri, ada banyak teman kelasannya di belakang Prima. Asha sudah panas dingin, tapi keanehan tiba-tiba terbersit dalam benaknya. Kenapa Prima berdiri berdampingan dengan Karin?
Prima dan Karin berjalan berdampingan mendekati Asha. Jantung Asha semakin berdetak tak karuan, dia terus terdiam membiarkan dua orang yang asik bergandengan tangan itu mendekat.
Prima menghentikan langkah, dia tersenyum manis. Untuk pertama kalinya entah mengapa Asha membenci senyuman Prima. Dia merasa suatu hal buruk akan terjadi.
"Shibil, seperti biasa, Shibil selalu jadi yang terakhir. Termasuk untuk berita bahagia ini." Asha semakin meremas rok biru yang dia pakai.
"Prima sama Karin semalem abis jadian. Dan tadi Prima sama temen-temen bikin surprise party buat ulang tahunnya Karin."
Duarr!
Berita membahagiakan bagi Prima dan teman-temannya berhasil masuk kedalam telinga Asha. Asha meremas kedua tangannya, berusaha keras untuk tidak menangis dan menjadi lemah di depan banyak orang.
"Wah, Shibil ikut seneng. Jadi Shibil dapet traktiran dong." Asha berusaha keras membuat suaranya terlihat bahagia.
Prima mengangguk penuh antusias. "Shibil dan yang lain boleh pesen apa aja di kantin."
"Yeay!"
Suara teman sekelas Asha terdengar. Mereka langsung berhamburan menuju kantin. Prima dan Karin ikut pergi. Pasangan baru itu terlihat sangat bahagia.
Asha masih diam mematung. Sekarang Asha baru sadar bahwa selama ini dia bukanlah siapa-siapa bagi Prima. Asha baru tau bahwa menjadi terakhir bukan lah suatu hal yang spesial. Kedekatannya dengan Prima hanya lah omong kosong, harapannya pada Prima membutakan matanya. Arasha Shibilla menangis terisak-isak, dia menutup pintu lalu menjatuhkan diri dengan begitu mengenaskan. Hari ini hatinya patah bahkan sebelum sempat untuk memiliki.
***
Ada yg pernah di posisi Asha? 😭
Kalo ada, sini, kita berpegangan tangan. 😁
KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny [ END ]
RomansArasha Shibilla, seorang penulis novel horor terkenal kembali bertemu dengan Adinar Primasatya Azmilo sahabat sekaligus cinta pertamanya, pertemuan tanpa sengaja ini membuat takdir terus saja mempertemukan Asha dengan Prima. Gara-gara sering bertemu...
![My Destiny [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/245073570-64-k56448.jpg)