13. Kita Sekarang Sama

690 140 1
                                        

Dua kakak-beradik itu terus menengok kanan-kiri, mereka mencari orang yang hilang. "Kalau Kak Mashiho gak ketemu gimana? Nanti ayah Arul marah." ucap Doyoung menundukkan kepalanya.

"Jangan nyerah, ya? Kita cari Mashiho sama-sama. Pasti ketemu kok." ujar Hyunsuk mengelus rambut adiknya itu.

Hyunsuk sebenarnya berpikir, Doyoung datang kesini untuk bertemu dengannya dan bahagia bersama-sama. "Maafin kakak," celetuk Hyunsuk yang membuat Doyoung mendongak dan mengernyitkan dahi.

"Maaf?"

"Kamu datang kesini itu untuk bersenang-senang, tapi kamu malah kayak ada dalam bahaya gini. Kakak minta maaf," ucap Hyunsuk. Matanya berair.

"Jangan nangis! Kakak lagi nyetir!" tegur Doyoung. Hyunsuk langsung mengusap air matanya.

Setelah itu tak ada percakapan antara mereka. Yang satu merasa khawatir, yang satu merasa bersalah. Doyoung terus berpikir kemana lagi mencari Mashiho? Ini hampir malam dan adik tiri dari kakaknya itu belum ditemukan.

Tiba-tiba saja perasaan Doyoung tak enak, perasaan tentang Mashiho dan Hyunsuk. Doyoung berharap agar hubungan mereka berdua tetap bisa dibilang baik-baik saja. Dengan Hyunsuk yang jadi benda panas dan Mashiho yang jadi es.

Ckiit

Hyunsuk menginjak rem mendadak, hal itu tentu saja membuat pengendara lain di belakang menghidupkan klakson dan mereka terang-terangan menyalahkan Hyunsuk disana. Doyoung kembali heran.

"Kenapa sih kak?" tanya Doyoung ketika melihat Hyunsuk menatap intens ke kerumunan warga disana. Terdapat sebuah mobil dan asap yang keluar dari mobil itu sendiri.

Doyoung mengikuti arah pandang kakaknya lalu menutup mulut, ia ingat cukup kaget karena mobil di depan adalah taksi yang dinaiki Mashiho tadi. Tanpa ba-bi-bu ia keluar dari mobil diikuti Hyunsuk dan berlari.

Saat menembus kerumunan itu, Doyoung terduduk dengan mata berkaca-kaca. "Kalau Kak Hyunsuk melihat ini pasti dia akan sangat sedih." pikirnya.

Tak lama lelaki yang ada di pikirannya itu keluar dari kerumunan dan berada tepat disampingnya, seketika Hyunsuk terduduk dan air matanya mengalir deras.

"MASHIHO?!" teriak Hyunsuk sambil menggoyangkan badan Mashiho. Taksi yang ia naiki tadi ternyata kecelakaan. Kecelakaan itu dari samping hingga sang sopir kaget dan membelokkan mobilnya hingga mobil itu menabrak benda yang keras.

"Ini saudara anda?" tanya seorang warga disana. Doyoung mengangguk. "Mari kami bantu saudara anda masuk ke mobil." lanjut warga itu dan dengan hati yang tersakiti Hyunsuk melepaskan tubuh Mashiho.

Saat warga memasukkan Mashiho ke dalam mobilnya, ia memeluk Doyoung dan menangis disana. "Kakak adalah seorang kakak yang tak becus menjaga adiknya, kakak payah Doyoung! Kakak payah!" ujar Hyunsuk menyalahkan dirinya sendiri.

Doyoung membalas pelukan kakaknya dan mengelus punggungnya, "Kak Hyunsuk bukan kakak yang tak becus menjaga adiknya. Kak Hyunsuk adalah kakak yang terhebat, sekarang kita ke rumah sakit." ucap Doyoung melepas pelukan Hyunsuk.

"Biar aku yang menyetir." kata Doyoung lebih dulu masuk ke kursi pengemudi. "Kakak dibelakang aja, jagain kak Mashi." lanjutnya yang diangguki oleh Hyunsuk.

Selama perjalanan, Hyunsuk terus mengusap rambut Mashiho dan menatap adik tirinya itu dengan tatapan khawatir. Doyoung jadi ikut khawatir, selain khawatir pada Mashiho, ia juga khawatir pada Hyunsuk.

Tadi Hyunsuk belum makan, pulang kuliah pun langsung berangkat mencari Mashiho dan sekarang harus ke rumah sakit yang lumayan jauh dari tempat kejadian.

StepbrotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang