Playlist : Taeyeon __ A Poem Called you.
***
Anna tidak harus menerka-nerka apa respon yang akan Jonathan beri mengenai perkara ini. Pasalnya, persis seperti enam tahun lalu, Anna juga tahu kehamilannya hanya sebuah bentuk rencana lelaki itu untuk menahan ia tetap tinggal. Dan rasanya menyebalkan, tetapi ada setitik bangga di sudut hati kala memikirkan Jonathan yang menginginkannya terlalu besar.
Namun lebih dari itu semua, ketakutan akan sosok dominannya lah yang paling menguasai Anna, tetapi ... Ah, sudahlah.
Mungkin peribahasa bagai air diatas daun talas sangat cocok menggambarkan kondisi Anna saat ini, yang benar-benar labil, tidak teguh pada pendirian dan berniat melenceng dari rencana yang sudah ia susun sejak awal.
Hanya karena fakta bahwa benih Jonathan kembali mendiami rahimnya, pun sikap rapuh dan lembut yang lelaki itu tunjukkan akhir-akhir ini, membuat Anna kian dilema.
Terkutuk lah otaknya yang sedari tadi memikirkan tentang bagaimana jika seandainya ia benar-benar tetap tinggal? Apa itu bisa menjadi salah satu jaminan Jonathan akan mempertahankan sikapnya yang tidak jahat seperti biasa? Karena sejujurnya Anna ragu. Hari ini mungkin baik, esok siapa yang tahu?
Apalagi Jonathan pribadi yang susah ditebak.
"Mommy, nanti hari Senin depan kami disuruh buk guru bawa foto keluarga." cecar Jayden sembari membawa setumpuk mainan ke hadapan Anna yang baru saja selesai menyuapinya makan.
Keduanya sedang berada di ruang tengah, menikmati waktu berdua selagi tidak ada Jonathan.
"Buat apa?" tanya Anna bersama alis mengkerut dalam.
"Mau ditempelin ke bingkai kardus."
"Bingkai kardus?"
"Iya, tadi aku sama teman-teman bikin bingkainya dari kardus, mi." Jayden memperjelas.
Anna anggukan kepalanya pelan,"Oh ya."
"Jadi gimana, mi? Nanti pas Daddy pulang kita foto bareng ya."
Usulan tersebut sejenak membuat Anna tampak berpikir keras, sedikit bingung harus menjawab bagaimana, sampai kalimat yang tiba-tiba saja terlintas dibenak langsung ia utarakan. "Eumm ... Kalau fotonya kamu sama Daddy aja, gimana?" tawarnya.
Jayden yang mulai asik menyusun fondasi Lego pertamanya, sontak berhenti. Menoleh pada Anna dengan raut tak mengerti. "Kok gitu? Kan ini foto keluarga. Buk guru bilang, kalau yang gak bisa lengkap itu kecuali salah satu dari orang tuanya udah gak ada. Tapi sekarang aku kan punya mommy, punya Daddy juga. Jadi harus lengkap."
JLEB.
Itu kalimat yang dalam. Anna sampai bingung harus menyikapi dan memberi respon seperti apa untuk putranya. Sampai hening membentang lumayan lama. Dimana Jayden kembali sibuk bersama mainannya, dan Anna masih meresapi ujaran sang putra——yang seolah mencipta dentam keras di dadanya. Dan begitu tenang, Anna memilih enggan memberi jawab. Hanya memperhatikan Jayden dalam diam, lalu menyadari satu hal.
Hari ini Jayden tampak sedikit lebih kalem dan tidak pecicilan serta tengil seperti biasa. Kemana pula perginya ocehan monolog yang selalu menghiasi bibir mungilnya ketika sedang menyusun Lego?
Ah, hanya ada dua kemungkinan yang membuatnya jadi seperti itu, pertama karena sedang sedih, kedua
adalah tanda-tanda menjelang sakit.
Opsi kedua sepertinya tepat, dilihat dari raut payah dan ... Ck, sial. Anna bahkan baru menyadari pucat di wajah Jayden setelah mengamatinya dengan saksama. Mata bocah itu juga sayu sekali.
"Sayang .. " panggil Anna halus.
"Iya?"
"Kamu kenapa? Gak enak badan?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEANNA
Romance[21+ ] Seanna pernah berjuang begitu keras demi penuntasan obsesinya pada sosok Jonathan ...Sebelum akhirnya menyerah kala lelaki itu menghancurkan harap serta merenggut asa yang susah payah dirajutnya kembali--dalam bayang-bayang penyesalan. Memutu...
