Kuy Ramein 🎀
***
"Hari ini kamu dijemput Aunty Lala ya," kata Anna pada Jayden begitu keduanya sampai di halaman Sekolah.
"Mommy Sibuk?"
Anna mengangguk sekilas, lalu mengelusi kepala putranya. "Hm, nanti mommy jemput di rumah Aunty."
"Oke mom," sahut Jayden. Dia memang sangat jarang memprotes, juga bukan tipikal yang suka menuntut dan banyak mau. Jayden benar-benar sangat penurut.
"Inget, kamu jangan nakal di rumah Aunty. Jangan cabut-cabutin bulunya si Leo lagi, kasian"
Mendengar itu Jayden sontak menggeleng cepat. "Leo itu kucing nakal mom, dia ganggu aku duluan. Karena aku gak tega mukul jadi aku cabutin aja bulunya biar kapok" ujarnya membela diri.
"Ssttt pokoknya gak boleh gitu lagi, ingat." Peringkat Anna tegas.
Lala memang tak pernah memprotes soal aksi pencabutan bulu yang dilakukan Jayden pada kucing kesayangannya itu. Anna lah yang merasa tak enak. Tapi mau bagaimana lagi, baik Jayden maupun leo sama-sama memancarkan aura permusuhan yang kental.
"Sekarang masuk gih. Mommy mau ke kantor dulu." Anna merapikan Dasi kecil milik Jayden, menyodorkan kotak makannya lalu merunduk untuk mengecup pipi putra semata wayangnya itu dengan sayang.
"Okay, bye Mommy." Jayden membalas kecupan sang mommy.
"Bye-bye Honey"
Anna langsung meninggalkan pelantaran sekolah begitu Jayden memasuki kelasnya.
Dalam perjalanan menuju kantor Anna mengeluarkan handphone untuk mengirimkan pesan pada Lala jika Jayden akan pulang lebih telat dari biasanya hari ini. Dan begitu membaca balasan pesan dari Lala, Anna tersenyum.
Sahabatnya itu mengatakan bahwa ia tidak perlu diingati lagi karena sudah sangat menghafal jadwal Jayden, juga mengatakan jika Ia sudah membuat list kegiatan bersenang-senang bersama Jayden dan Leo bahkan menyuruh Anna tak usah menjemput Jayden nantinya.
Anna sangat senang merasakan perhatian yang selalu dicurahkan Ketiga sahabatnya untuk Jayden. Makna kata Saudara tak harus sedarah memang benar adanya. Meski Anna sudah tidak memiliki keluarga, setidaknya ia punya sahabat yang selalu menemaninya.
Jenar, Lala, Rosie benar-benar mencintai dan memanjakan Jayden layaknya Anak mereka sendiri. Di tengah-tengah kehidupannya yang berat, Anna justru bersyukur memiliki mereka yang selalu membantunya.
Anna pernah sangat terpuruk, tidak mudah untuk mengembalikan mentalnya setelah aksi pemerkosaan brutal yang dialaminya dulu.
Ah ... bicara Soal kejadian keji itu, hingga saat ini Anna belum sempat memberitahukan kepada mereka perihal Jonathan yang menjadi atasannya di kantor, mungkin Anna akan menceritakannya saat jam makan siang nanti.
***
Sesampainya di kantor, Anna yang seperti biasa selalu datang disaat-saat genting berusaha mengejar keterlambatannya dengan berlarian menuju lift yang nampak akan tertutup.
Anna nyaris menangis mendapati pintu kotak besi tersebut sudah tertutup rapat bahkan disaat ia tinggal beberapa jengkal lagi.
Mengumpat dalam hati, Anna bersiap untuk berbalik ketika lift di hadapannya itu tiba-tiba kembali terbuka. Tanpa menunggu lama Anna pun segera masuk, namun langkahnya terhenti tatkala menangkap sosok Jonathan berada di dalam sana.
Lelaki dengan tampilan luar biasa itu menatapnya datar. Lagi dan lagi, Anna membeku.
"Anna, kamu jadi masuk gak?"
Tanya Raisa, sekretaris lama Pak Rendra yang tengah hamil muda itu kini merangkap jadi sekretaris Jonathan.
"E-eh iya." Tersentak lalu mencoba menetralkan kegugupannya yang mendadak datang begitu ia bersitatap singkat dengan Jonathan. Anna memutuskan ikut bergabung, berdiri tepat di hadapan Jonathan. Sangat Sial Bukan? Lelaki yang paling dihindarinya kini malah berdiri tepat di belakangnya.
Sebelum Anna, terdapat tiga orang yang berdiri dengan jarak yang terbilang sangat berlebihan dalam lift ini. Raisa di samping Jonathan dan didepannya terdapat seorang wakil manajer bertubuh luar biasa gempal bernama Harto, dimana posisi berdirinya bahkan dapat menampung dua orang.
'Dasar pak obesitas yang menyebalkan' gerutu Anna dalam hati. Ayolah dia hanya terlalu kesal.
Percakapan-percakapan singkat terjadi di antara mereka, terkecuali Anna tentu saja. Situasi semacam ini persis seperti yang Anna alami dulu, dimana ia pernah berada di tengah-tengah anak-anak Superior yakni Noah, Gladis dan ohh ya, selalu saja ada si brengsek itu di dalamnya.
Anna yang sedari tadi menunduk tanpa berniat membuka suara, akhirnya memilih mengangkat wajahnya perlahan. Dan
entah ini hanya sebatas halusinasinya semata atau Jonathan memang tengah membalas perkataan partner bicaranya di belakang sana, namun dengan tatapan mata yang sama sekali tidak lepas dari Anna. Hal Itu tergambar jelas dari pantulan cermin simetris yang terpajang di dinding lift.
Untuk beberapa saat Anna merasa gamang. Ia berharap Jonathan tidak sekurang ajar itu untuk mengamati lekuk tubuhnya, dan kini sungguh rasanya Anna sangat ingin mensleding kepala atasannya tersebut karena berani-beraninya Ia memperhatikan Bokong Anna. Sial!
Anna sudah tidak tahan ingin cepat-cepat keluar. Ini sungguh tidak nyaman untuknya. For God's shake. Mengapa Jonathan begitu kurang ajar? Ahh bodoh, memangnya sejak kapan lelaki itu punya etika?
Jantung Anna mulai berpacu cepat tatkala Jonathan membalas tatapannya lewat pantulan dinding lift, segera Anna menghindar dengan menunduk. Oh astaga ini benar-benar menyebalkan, nyatanya Anna masih terlalu takut pada lelaki itu, bahkan untuk sekedar membalas tatapannya saja, Anna tidak kuat.
Hening menyeruak beberapa saat, dari percakapan yang Anna tangkap sejak tadi. Jonathan akan mengunjungi ruangan si wakil manajer gendut, yang berarti tepat satu lantai lagi dan Anna akan terbebas.
Tak berselang lama, Lift berdenting dan pintu pun terbuka membuat Anna menghembus legah. Berakhir sudah keteganganya ini.
Jonathan mempersilahkan Raisa dan Pak Harto melangkah keluar keluar lebih dulu, Anna berusaha mengabaikan, bersikap selayaknya. Namun begitu dua orang itu menjauhi pintu lift dimana seharusnya Jonathan menyusul keluar, lelaki itu malah berhenti di samping Anna, wajahnya disejajarkan dengan telinga Anna hingga nafas pria itu terasa menyapu sisi wajahnya.
Anna tetap diam meski dadanya bergejolak, sampai kalimat yang dikumandangkan suara berat Jonathan itu terdengar singkat namun sukses membuat bulu kuduknya meremang.
"Kamu ke ruangan saya, Usai jam makan siang"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SEANNA
Romantizm[21+ ] Seanna pernah berjuang begitu keras demi penuntasan obsesinya pada sosok Jonathan ...Sebelum akhirnya menyerah kala lelaki itu menghancurkan harap serta merenggut asa yang susah payah dirajutnya kembali--dalam bayang-bayang penyesalan. Memutu...
