dinikmati aja dah.

1.3K 112 2
                                        

"kenapa anda bilang akan turun di stasiun berikutnya agar saya mau duduk dikursi anda tadi??"tanya Rara penasaran. Tyo hanya tersenyum dibalik kemudinya. Dia hanya melirik sekilas ke arah Rara.

"Oalah..kirain ada apa?" Senyum Tyo sambil terus melajukan mobilnya

"Saya jadi tak enak hati" Rara tampak cemberut.

"Siapa lagi yang tega Ra, lihat seorang wanita memilih mengalah berdiri demi seorang ibu yang sedang hamil dan seorang anak kecil" jelas Tyo sambil tersenyum. Wajah garangnya yang dia tampakkan di atas kereta berubah menjadi sosok yang ramah dan bersahabat. Rara hanya terdiam. "Kalau boleh tau, Kamu ngapain ke Surabaya?" Tanya Tyo kemudian mencoba mencairkan suasana yang lengang.

"Eee.. saya kerja disana?" Jawab Rara singkat.

"Oh, kerja dmna?" Tanya Tyo lagi.

"Saya ngajar di paud Surabaya"

"Oh..guru TK to?"

"Kenapa? Salah dengan guru TK?" Selidik Rara penasaran.

"Ohh.. nggak kok." Tyo melirik Rara lagi dari balik kemudinya. " Aku tu salut lho dengan profesi guru TK" jelas Tyo kemudian.

"Kok bisa? Bukanya profesi guru TK adalah profesi yang hanya dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat." Rara tampak serius

"Oh no..kalau menurutku profesi guru TK adalah profesi yang sangat mulia. Guru TK adalah orang-orang pilihan dan tidak semua orang bisa menjadi guru TK lho, yang aku tau guru TK adalah orang yang sabar dan pasti lembut." Jelas Tyo lagi. Rara tampak tertawa sambil menutup mulutnya dengan ujung jarinya.

"Ahhh.. kamu bisa aja" Rara tampak malu-malu mendengar penjelasan dari Tyo. Tyo tersenyum melihat Rara sudah mulai akrab dengannya. "Btw kamu sendiri ngapain ke Surabaya?" Selidik Rara lagi.

"Emmm.. aku tadi baru kirim data ke kantor kesatuan ku yang ada di Surabaya. Aku tadi ikut kereta pagi dan langsung balik sore harinya" jelas Tyo

"Oh.." kata Rara singkat. Tak terasa perjalanan menuju rumah Rara sudah hampir sampai. Perlahan Mobil memasuki gapura perumahan bumi hayu.

"Oiya Ra..itu rumahku" tunjuk Tyo begitu melewati depan rumahnya.

"Ohhh..kalau begitu saya turun sini saja" Rara tampak berkemas-kemas memasang tas punggungnya lagi.

"Hehehehe..aku cuma ngasih tau, mana tega aku turunin kamu disini.. biar aku antar kamu sampai depan rumah. kata komandanku jika menolong harus sampai tuntas" Tyo tersenyum simpul.

" Tidak perlu Tyo, biar aku turun sini aja. Lagian udah deket kok, rumahku tinggal 2 blok lagi. Makasih ya tumpangannya" namun mobil terus saja melaju. " Lho..jadi ndak enak ini aku" Rara menatap Tyo dan Tyo tampak cuek dan terus melajukan mobilnya menuju rumah Rara.

"Sudah sampai Ra" Tyo begegas keluar dan membukakan pintu untuk Rara. Sementara Rara tampak kikuk dengan perlakuan Tyo padanya, seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya dan ternyata tetangganya.

"Oh..makasih ya Tyo" Rara turun dengan malu-malu. "Apa gak mampir dulu" tawar Rara, yang merasa tidak enak.

"Ah..udah malem, makasih ya.. lain kali aja" jawab Tyo sambil membantu menurunkan koper Rara. Dari dalam rumah tampak mama keluar dengan tergopoh-gopoh.

"Lho nduk, mana kakakmu?" Tanya mama dengan wajah yang tampak cemas.

"Eee..anu ma..mobil ayah tadi mogok, untung Rara ketemu sama Tyo tetangga blok depan, jadi Rara di ajak bareng" jelas Rara setelah melihat mama yang tampak khawatir.

"Lalu kakakmu mana?" Tanya mama lagi.

"Tadi masih nunggu tukang bengkelnya dateng ma" jelas Rara lagi

muridku anakkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang