Makan siang itu ditutup dengan ketukan Rendi di ujung pintu.
"Iya masuk" kata Dika.
"Maaf pak, saya mengganggu waktu bapak. Sekedar mengingatkan pukul 13.30 sebentar lagi akan ada tamu dari pabrik tas Jakarta yang akan menggunakan jasa pengiriman kita" jelas Rendi sambil membuka tablet nya.
"Kita akan meeting dimana ren?" Tanya Dika sambil melihat jam ditangannya.
"Di ruangan meeting lantai 5 bapak" jawab Rendi.
"Oke kamu siapkan tempat dan berkasnya, masih ada waktu setengah jam lagi. Nanti kamu hubungi jika tamunya sudah sampai" jawab Dika tegas.
"Siap pak, saya permisi" pamit Rendi sopan.
"Oh mas Rendi, sudah makan mas. Ini masih banyak makanannya. Yuk makan disini mas" kata Rara menawarkan.
"Ti..tidak perlu Bu, terima kasih" tolak Rendi kikuk. Sementara Dika sudah menatap Rendi dengan tatapan elangnya.
"Ya sudah kalau begitu, ini ada sedikit takoyaki mas. Itu Maura udah kenyang. Ini buat mas Rendi" Rara menyerahkan sekotak takoyaki pada Rendi dan rendipun menerimanya dengan gugup.
"Terimakasih Bu, saya permisi" pamit Rendi dengan sedikit membungkuk tanda hormat. Sementara tatapan Dika menandakan kalau dia tidak suka dengan perlakuan Rara pada asistennya itu.
"Kamu harus bisa menjaga jarak Ra dengan bawahanku, jangan terlalu dekat" perintah Dika dengan tegas.
"Kok mas Dika bilang begitu, cuma kasih makanan dikit ke mas Rendi aja mas. Dihadapan alloh derajat kita sama lho mas, tidak ada jarak dan tingkatannya" jelas Rara sambil merapikan makanan yang masih tersisa.
"Iya tapi nggak gitu juga Ra, ingat kamu adalah istriku. Seorang direktur disini" kata Dika sambil sedikit mengerutkan dahinya.
"Iya..iya mas, aku tau kok. Aku tau batasannya kok mas, aihhhh.. roman-romannya ada yang lagi cemburu nih" kata Rara mencoba menggoda dan mencairkan gunung es di wajah dika.
"Siapa yang cemburu, jangan ge er kamu" Dika menaikkan intonasinya.
"Nggak papa kan di ge er in sama suami sendiri" Rara kembali menggoda Dika dan tertawa melihat suaminya yang sudah cemberut.
"Oiya Ra, kamu tunggu sebentar ya, jam 2 nanti ada desainer wedding kesini. Aku meetingnya bentar kok. Kamu tunggu saja disini" pamit Dika sambil mencium kening Rara dan pipi Maura. Segera Dika pergi ke ruangan rapat bersama Rendi. Sementara Rara mencoba membantu mbak-mbak OB merapikan meja di ruangan dika.
"Tidak perlu ibu, biar saya yang mengerjakan" kata mbak OB yang ternyata bernama Lastri. Rara mengetahui namanya karena melihat name tag yang ada di baju mbak Lastri.
"Nggak apa-apa mbak Lastri, oiya itu tadi bapak pesen makannya kebanyakan mbak, dan tadi waktu ngambil makanannya saya ambil dari pinggir jadi tidak terlalu menyisakan. Kalau mbak mau nanti bisa dibawa pulang saja, sayang masih banyak. Ntar mubazir" jelas Rara pada mbak Lastri.
"Oh iya Bu, terimakasih" kata mbak Lastri dengan sopan.
"Sama-sama mbak, maaf lho mbak saya ngasih makanan sisa tapi nggak sisa-sisa amat kok" Rara tersenyum ke arah mbak Lastri dan disambut senyuman oleh mbak Lastri pula.
"Iya Bu, tidak apa-apa Bu, terimakasih banyak" mbak Lastri tersenyum kembali."Masih muda, cantik dan baik lagi ya istri bos nya ini" batin Lastri dalam hatinya.
"Saya permisi dulu ya Bu, jika ada yang dibutuhkan, ibu Rara bisa panggil saya" pamit mbak Lastri sopan dan meninggalkan ruangan direktur.
Sepeninggal mbak Lastri datanglah orang butik yang sudah membuat janji dengan dika, ternyata resepsi di Surabaya akan dimajukan dari rencana awal, karena 2 Minggu kedepan Dika akan melakukan perjalanan kerja ke Amerika. Dia akan sedikit bolak balik ke negara Paman Sam, karena itu Dika ingin memajukan resepsi pernikahan nya. Maura tampak sudah sangat mengantuk dan menguap beberapa kali, di pangkuannya anak itu dengan sayang, sambil terus bercakap dengan desaint wedding yang ada di depannya. Rara melihat-lihat contoh desaint gaun pengantin yang akan dikenakannya, tampak sangat cantik-cantik dengan hiasan diamont dan juga Payet mutiara. Gaun itu memiliki ekor panjang seperti duyung, Setelah berbincang cukup lama akhirnya dipilihnya warna Salem/pastel untuk tema pernikahannya. Rara memilih gaun yang tidak terbuka karena dia memakai hijab namun nanti akan di beri hiasan bunga-bunga dan juga mutiara senada dengan gaunnya. Dipilihnya model muslimah wedding yang simple namun elegan. Selesai rapat dengan tamunya Dika turut bergabung dengan Rara untuk memilih tuxedo pernikahannya. Dika juga memilih warna yang senada dengan gaun Rara. Pihak butik juga memilihkan gaun untuk Anggita dan Maura. Karena pernikahan ini adalah pernikahan paket komplit.. beli 1 dapet 3.
Sore itu sepulang dari les piano Anggita juga menyusul ke kantor papinya, mendengar suara kakaknya, Maura pun terbangun dan mulai mengoceh bercerita tentang hari pertama sekolahnya. Sore itu sekalian mengukur gaun untuk kedua putri Dika.
Tepat pukul 5 sore semua pekerjaan Dika telah selesai, Dika pun mengajak keluarga kecilnya untuk pulang bersama. Seharian berada diluar rumah membuat Maura kecapek an dan mengantuk, Anggita pun sudah tampak terlelap di jok belakang. Sedangkan Maura tertidur dipangkuan Rara.
KAMU SEDANG MEMBACA
muridku anakku
General Fictiongadis bernama Rara yang berusaha untuk menjadi seorang guru dan seorang ibu, mampukah Rara mencapai harapannya?
