Setelah Maura dan mas Dika pulang, tak bisa kupejamkan mataku. Antara percaya dan tidak, waktu mas dika mengutarakan keinginannya itu. "Apakah ini sebuah lamaran???Ya Alloh apalagi ini??" kututup telingaku dengan guling tapi tetap saja pikiranku kembali ke kata-kata mas dika itu. Kubolak balikkan badanku, menghadap ketembok, duduk sambil rebahan, tidur dengan tengkurap, tidur terlentang, namun tetap saja aku tak bisa tertidur. Hampir semalaman aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku. Setelah sholat tahajud pun mata ini masih enggan untuk menutup." Bagaimana aku bisa menghadapi hari esok? Besok terakhir workshop dan pelatihan ini..ya Alloh.." kuhela nafas berkali kali mencoba mengeluarkan fikiran dalam otakku dan meletakkanya untuk sesaat saja. Akhirnya menjelang subuh aku bisa terlelap. Rasanya baru 10 menit aku tertidur tiba-tiba alarm di hp ku berbunyi. Kucoba mengerjab berkali-kali. Dengan langkah lunglai kubasahi wajahku dan kutunaikan sholat 2 rokaat ku. Jam 7 tepat semua peserta workshop sarapan pagi di restoran dalam hotel, kemudian jam 8 masuk ke aula. Hari ini masing-masing peserta diharuskan membuat sesuatu materi atau APE buatan sendiri-sendiri dan harus dipresentasikan. Rancangan ku tentang bercerita dengan metode suara sudah aku rancang jauh-jauh hari. Semalam ketika ada Maura aku juga sudah mempraktekkan di depan Maura, rupanya anak itu suka dengan ceritaku.. Maura tertawa ketika aku menirukan suara ayam jantan dan ayam betina yang sedang bertengkar memperebutkan wilayahnya. pagi ini kucoba untuk tampil didepan juri dan peserta yang lain. Aku menyimak setiap tampilan dari guru-guru TK yang sangat kreatif dan inovatif. Tibalah akhirnya giliranku," bismillahirrahmanirrahim..." Aku mulai maju dan mulai mempresentasikan materiku. Keringat dingin mulai menetes degub tanjungku juga semakin cepat.. kutarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan.."ayo Rara kamu bisa, fighting.. fighting" teringat ucapan ayah menyemangati ku. Akhirnya tampilan ku membuat para juri dan peserta workshop terpukau. Tak henti-hentinya Mbak Putri dan mbak Rita mengacungkan jempol dan bertepuk tangan. Ku akhiri i dengan penutup pantun sebelum aku turun dari podium."Alhamdulillah leganyaaa.." tepat pukul 12 acara break time dan makan siang. Kemudian jam 1 dilanjutkan kembali dan nanti jam 3 diadakan penutupan. Karena waktu hanya sebentar aku bergegas untuk menunaikan sholat Dzuhur ku terlebih dahulu baru ke restoran hotel. Pada saat mengantri makan di restoran kulihat mas Dika sedang makan juga disana. Sepertinya sedang ada meeting, kulihat juga ada mas Rendi dan 2 orang laki-laki, Menempati private room yang hanya di bedakan dengan sekat kaca. Ketika aku berdiri mengantri makanan. Tiba-tiba pelayan hotel menghampiriku.
"Maaf dengan ibu Rara?" tanya pelayan hotel memastikan. Aku menoleh setelah mbak putri menyenggol lenganku.
"Oh..iya mbak? Saya rara" jawabku kemudian
"Maaf ibu, karena disini antri. Ibu bisa mengambil makan di sebelah sana" palayan itu menunjuk ke suatu tempat. "Namun hanya untuk ibu saja" lanjut pelayan itu menjelaskan.
"Eee biar disini saja mbak, tidak apa-apa"
"Maaf mbak ini atas permintaan pak Dika, sekali lagi mohon maaf" ada rasa khawatir di raut wajahnya. Kulihat mas Dika mengacungkan hp nya ketika aku melihat ke arahnya. Ahh..rupanya dia sedang mengirim WhatsApp. Dan Segera kubuka
Ra. Kamu makan disini saja. Disana ramai
Gak papa mas, biar disini saja
Terimakasih🙏
"Eee.. maaf mbak, sampaikan ke pak Dika, saya makan disini saja" dari jauh kulihat ada aura kesal ketika membaca WhatsApp ku.. persis Maura jika keinginannya tidak terpenuhi. Kuberi senyum yang paling manis dari tempatku berdiri. Kulihat dia masih tampak kesal dan terus menatapku. Akhirnya tibalah giliranku mengambil hidangan, karena waktu makan siang hampir berakhir jadi banyak makanan yang sudah tinggal sedikit. Rupanya tadi peserta langsung menyerbu restoran dahulu sebelum menunaikan sholatNya. "Gak papalah.." kuambil ayam goreng dan mie tonghun, serta kerupuk. Kulihat mbak putri juga mengambil menu yang sama karena hanya sisa makanan itu yang terlihat masih banyak. Soup dan capjay sudah ludes hanya disisakan kuahnya saja. Kemudian Aku dan mbak putri mengambil duduk di meja dekat lift, karena hanya disana tempat duduk yang masih kosong. Belum sempat aku duduk tiba-tiba ada troli makanan mendekat. Dengan cekatan 2 orang pelayan meletakkan beberapa hidanga di meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
muridku anakku
General Fictiongadis bernama Rara yang berusaha untuk menjadi seorang guru dan seorang ibu, mampukah Rara mencapai harapannya?
