Tergopoh Rara berjalan sambil sedikit berlari menuju ke kedua anaknya yang masih duduk di kursi restoran. Dengan cepat diserahkannya kertas nota makanan kepada Tyo, saling lempar kertas nota dan uang tidak akan menyelesaikan masalah malah membuat waktunya menjadi terbuang sia-sia, sementara diujung negara sana Dika sudah melotot dan mengeluarkan taring, serta auman yang sangat keras. Akhirnya direlakannya kertas nota itu ketangan Tyo dan mengembalikan lembaran uang merahnya kembali ke dalam dompetnya.
"Kak, tolong kamu bawain tas bunda ya, biar ade bunda gendong" perintah Rara pada Anggita kemudian mulai menggendong Maura yang sudah tampak mengantuk. Rara sangat kesulitan menggendong anak yang sangat gendut itu.
Dari barisan depan kasir, Tyo hanya bisa melihat Rara tanpa bisa membantunya karena dia sedang mengantri. Tinggal 2 lagi antrian didepannya, segera dia membayar begitu sudah tiba gilirannya. Dengan berlari Tyo berusaha mengejar Rara yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan restoran. Dilihatnya keseluruh penjuru arah, agar matanya bisa menangkap sosok Rara berada." Pasti nggak akan jauh Rara jalan" Tyo menuruni eskalator ke lantai 3. Karena area restoran berada di lantai teratas lantai 4, jadi Tyo berfikir jika Rara pasti masih berada di dalam mall. Dilantai 3 dilihatnya Rara akan menaiki eskalator menuju lantai 2, masih dengan menggendong Maura dan Anggita yang tampak mengekor di belakangnya.
"Ra..Raraa.." suara Tyo menghentikan langkahnya.
"Oh Tyo ada apa?" Rara tampak kebingungan melihat Tyo berlari ke arahnya.
"Eh..uangnya ya, bentar kak sini" Rara memanggil Anggita agar lebih mendekat" ambilkan dompet bunda di dalam tas dan.." belum selesai Rara bicara Tyo sudah meraih Maura dan menggendong anak embulnya itu.
"Anakmu ini gendut Ra, pasti berat menggendongnya" Tyo berjalan menaiki eskalator, tanpa pikir panjang Rara dan Anggita pun mengikuti Tyo yang sedang menggendong Maura. Mungkin karena sering berlatih dalam dunia kemiliteran, menggendong Maura tampak sangat ringan bagi Tyo, berbeda sekali ketika Rara tadi dengan susah payah menggendong tubuh Maura.
"Mobilmu parkir dimana?" Tanya Tyo begitu keluar dari area mall.
"Oh di sana Yo" tunjuk Rara ke arah parkiran. Dengan langkah tegap Tyo akhirnya sampai didepan mobil berwarna merah. Segera Rara menekan smart key membuka pintu agar Tyo bisa merebahkan tubuh Maura di kursi belakang.
"Makasih ya Yo" ucap Rara sebelum mereka berpisah.
"Iya sama-sama" Tyo membalas dengan senyuman.
"Lho kamu mau balik ke kota J lagi ya? Yuk aku antar ke stasiun kalau begitu" Rara menawarkan diri, dia merasa tidak enak hati telah merepotkan Tyo.
"Nggak usah Ra, aku nggak balik hari ini kok, masih ada urusan kantor yang belum selesai. mungkin besok aku baru balik, kalau yang disini udah kelar" jelas Tyo.
"Ohh begitu ya"
"Udah deh, buruan pulang. Ntar suamimu marah lagi" kata Tyo, sejak menerima telepon tadi Rara tampak panik dan tergesa untuk pulang.
"Oiya, sekali lagi makasih ya Yo, aku pulang dulu, assalamualaikum" pamit Rara kemudian memasuki mobil, dan melajukan kendarannya meninggalkan parkiran dan meninggalkan Tyo yang masih mematung melihat kepergiannya.
"Waalaikumussalam Ra, kasihan kamu Ra. Bilang padaku, jika suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik, aku akan berada di garda terdepan untuk membelamu, andai saja kamu menikah denganku Ra..aku akan..ahhhh" Tyo menghentikan ucapannya. Segera di ambilnya kunci motor dan berlalu diparkiran kembali ke markas kesatuannya.
"Maaf ya Bun, gara-gara Gita tadi papi marah ya sama bunda" suara Anggita memecah kesunyian. Sejak masuk kedalam mobil, Rara tampak terdiam dan berfikir keras bagaimana cara meredakan emosi suaminya, dia merasa takut mendengar Dika semarah itu tadi ditelepon.
KAMU SEDANG MEMBACA
muridku anakku
General Fictiongadis bernama Rara yang berusaha untuk menjadi seorang guru dan seorang ibu, mampukah Rara mencapai harapannya?
