Tak terasa sudah kurang seminggu lagi resepsi di Surabaya akan digelar. Seluruh persiapan 99% telah rampung dipersiapkan. Undangan juga sudah disebar, Dika mengundang semua relasi bisnisnya, direksi di perusahaannya dan juga teman-teman dekatnya, untuk resepsi di Surabaya Rara hanya mengundang teman-teman satu yayasan di TK nya bekerja dan juga teman-teman di kost nya. Tak lupa Bu Ratmi juga Rara undang pula. Semua tampak terkagum-kagum dengan desain undangan yang Rara berikan, simple tapi tampak elegant. Dengan foto sepasang pengantin di cover depan, menggunakan kertas berwarna gold dan hitam menjadikan undangan itu tampak mewah. Selain itu yang menjadi perbedaan dengan undangan pernikahan yang lain di cover belakang terdapat foto keluarga, dimana kedua pengantin di ampit oleh kedua anak mereka, Anggita dan maura.
Minggu sore mama Elis akan datang ke Surabaya. Sedangkan ayah, kak Farhan dan juga Denis akan menyusul hari Jum'atnya karena ayah juga harus berdinas sampai sore, kak Farhan juga sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Denis nggak bisa ijin, karena sudah kelas 3 jadi banyak try out menjelang ujian Nasionalnya. Mama Laura dan papa frans sedang ada di Singapura, namun Sabtu depan bisa menghadiri resepsi di Surabaya, jadi mama Elis lah yang akan menemani Rara mempersiapkan pernikahan nya hari Minggu depan. Sore itu Pak Rahmad yang bertugas menjemput mama Elis di stasiun Wonokromo. Mama menggunakan jalur kereta, karena lebih aman untuk perjalanan emak-emak seperti mama yang sendirian. Pukul 5 sore mama Elis sampai di rumah dika. Mama Elis baru pertama berkunjung ke rumah Dika sejak hari pernikahan, mata mama mengerjab tidak percaya, dilihatnya rumah menantunya yang tampak sangat mewah, mama bersyukur menantunya menjadi pengusaha muda yang sukses. Jika dibandingkan dengan gaji suaminya akan berapa tahun mengumpulkan gaji untuk membuat rumah sebesar ini, walau harus irit hanya makan dengan tempe tahu tetap saja nggak akan bisa. Mama tampak tersenyum-senyum sendiri dengan hayalannya. Sementara Anggita dan Maura berlarian keluar ketika melihat mobil memasuki halaman.
"Assalamualaikum eyang" sapa keduanya sambil mencium tangan mama Elis.
"Waalaikumussalam..Cucu eyang hebat-hebat" puji mama Elis dan mencium kedua cucunya bergantian.
"Ayo bantuin nih, diturunin" perintah mama Elis sambil memberikan besek-besek dari bambu.
"Yeee, eyang bawa tape" kata Anggita bahagia. Rupanya dia sangat memfavoritkan makanan terbuat dari singkong yang diberi ragi itu.
"Iya, yuk bantu bawa..ini Maura juga bisa bawakan?" Kata mama sambil di berikannya besek tape yang ringan.
"Olla bisyaa..Ola tuat kok" jawab Maura.
"Bunda dan papi mana kok sepi rumahnya?" Tanya mama Elis begitu masuk ke dalam. Ada mbok sum juga ikut menyambut mama Elis di dapur.
"Taruk sini saja pak!" Kata mama pada pak Rahmad.
"Mbok, rumah kok sepi kemana Rara dan Dika?" Tanya mama lagi pada mbok sum yang berada di dapur.
"Tadi keluar sebentar nyonya, katanya ke supermarket depan. Tadii.. anak-anak mau ikut juga, tapi karena eyangnya mau datang jadi nggak di bolehin" jelas mbok sum sambil membuka oleh-oleh dari kota J. Maura dan anggita sudah lebih dulu meng unboxing besek-besek itu.
"Eyang..tas eyang gita taruh di kamar bawah ya eyang" kata Anggita sambil mendorong koper mama Elis kedalam kamar tamu yang ada dilantai 1.
"Iya sayang, makasih ya" jawab mama dari dapur
Sementara Dika dan Rara sedang berbelanja di supermarket. Rara membeli perlengkapan mandi yang sudah mulai menipis, dan juga keperluan rumah lainnya, bentar lagi akan banyak saudara yang akan datang, pasti membutuhkannya. Guman Rara dalam hati. Ketika melewati rak pembalut wanita, Rarapun mengambil sekotak pembalut dengan model wings.
KAMU SEDANG MEMBACA
muridku anakku
General Fictiongadis bernama Rara yang berusaha untuk menjadi seorang guru dan seorang ibu, mampukah Rara mencapai harapannya?
