kau bukan yang dulu lagi.

1.5K 120 2
                                        

"Emang kenapa?" Dika balik bertanya

"Kan kamar mas di sana", kata Rara yang merasa aneh dengan kehadiran Dika dikamar kecilnya.

"Katamu, kamu nggak mau tidur di kamarku. Ya udah aku yang akan tidur disini" jelas Dika sambil mulai merebahkan tubuhnya.

"Tapi mas.." sergah Rara tampak panik

"Apalagi alasanmu Ra, cepat tidur!" Perintah Dika kemudian.

"Tapi ranjang ini terlalu sempit buat kita berdua" jelas Rara yang merasa tidak nyaman.

"Siapa bilang? Cukup kok. Sini!" Dika merapikan bantal untuk Rara. Sementara Rara masih terpaku di depan pintu menatapnya.

"Mana cukup mas" kata Rara sambil berjalan mendekat.

"Cukup kok, coba dulu" Dika menepuk-nepuk bantal yang ada disebelahnya. Rara mendekat dipinggir ranjang sambil dibukanya jilbab instan dan diletakkan diujung ranjang. Tampak rambut panjangnya tergerai dengan indah dan mengeluarkan harum aroma shampo herbal. Dengan sedikit ragu Rara mulai duduk ditepi ranjang. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya. Ranjang kecil itu menjadi terasa penuh jika ditiduri dengan 2 orang, karena memang type singgle bad.

"Ra" panggil Dika

"Hemmm, aku ngantuk mas..besok udah masuk sekolah" jawab Rara sambil menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya.

"Ra, kapan kamu sudah siapnya?" tanya Dika lagi, kali ini dia memiringkan posisi tidurnya menghadap ke arah Rara. wajah cantik istrinya terlihat sangat jelas dengan posisi seperti ini.

"Besok berangkat pagi mas" kata Rara masih dengan mata terpejam.

"Ra, boleh aku cicil ya" kata Dika sambil mulai mendekat ke arah Rara. Dika perlahan memeluk tubuh Rara.

"Mas..mas mau apa?" Tanya Rara sedikit membelalakkan matanya menatap suaminya yang sangat berharap malam itu.

"Kewajiban suami adalah memberi nafkah lahir dan batin untuk istrinya. Aku sudah memberi nafkah lahir ke kamu. sekarang aku juga akan memberi nafkah batinnya" jelas dika

"Tunggu..tunggu mas" Rara berusaha mencegah Dika untuk meminta haknya malam itu.

"Dosa lho Ra, jika menolak suami" Dika sudah mulai tidak sabar saja.

"Iya, aku tau mas. Tapi.." Rara belum sempat melanjutkan perkataanya, tiba-tiba tubuh Dika sudah berada di atas tubuh Rara. Perlahan dia menciumi istrinya dengan bernafsu.

"Mas, tunggu dulu" Rara mencoba meronta, namun tubuh Dika lebih besar dan menghimpit tubuhnya.

"Mas, aku lagi datang bulan" jelas Rara cepat.

Jedeerrrrrrrrrrr!!!!!!! Bagai disambar petir, tiba-tiba tubuh Dika lemas seketika, energinya seakan telah terhempas entah kemana. Syahwatnya yang sudah memuncak hilang begitu saja. dengan kasar dijatuhkan tubuhnya berbaring kembali disebelah Rara. Sedangkan Rara tampak tersenyum melihat suaminya yang teramat kecewa.

"Maaf" suara Rara lirih.

"Sejak kapan? Sepertinya kamu tadi sholat ?" Selidik Dika merasa dibohongi oleh Rara.

"Baru saja" Rara menatap wajah suaminya. "Maaf..." 

"Kalau gitu aku peluk aja dah, nasib-nasib" kata Dika sambil menepuk jidat. Sementara Rara tertawa didalam dekapan suaminya. Malam itu akhirnya mereka tidur dengan berpelukan.

****

Libur 2 Minggu semester ganjil sudah usai, saatnya memulai lagi kegiatan belajar mengajar di semester 2. Dengan semangat baru semua tampak antusias menyambut hari pertama di semester 2. Sejak pagi Rara sudah mempersiapkan segala keperluan keluarga kecilnya. Kalau dulu dia hanya menyiapkan untuk dirinya sendiri, namun sekarang sudah ada keluarga kecilnya yang juga harus dia urus. Diawali dengan peralatan Maura, dari seragam, sepatu juga tasnya sudah siap di atas tempat tidurnya. Maura juga tampak bersemangat sekolah, berbeda dengan kebiasaan dulunya yang selalu menangis dan merajuk jika bangun tidur, sehingga proses berangkat ke sekolah akan penuh dengan drama dan berujung pada telatnya dia berangkat sekolah. Berpindah ke Anggita, Rara juga sudah menyiapkan segala kebutuhan anak ABG nya itu. Tak lupa dibawakannya bekal untuk makan siang nanti, juga baju ganti karena Anggita akan les piano sepulang sekolah. Sementara untuk Dika, Rara juga sudah menyiapkan setelah baju kerjanya dan juga sepatu plus tas kerjanya. Rara sangat menikmati peran barunya, yaitu berperan menjadi guru dan juga sebagai seorang ibu. Setelah sarapan, akhirnya mereka berangkat bersama. Seperti biasa sepanjang jalan akan selalu didominasi oleh ocehan Maura, anak itu sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan teman-temannya disekolah. Tak lupa juga Maura membawa oleh-oleh yang dia beli ketika berada di kota J. Sebuah gantungan kunci terbuat dari cangkang kerang, masing-masing akan dia berikan ke teman-teman nya nanti.

muridku anakkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang