awan hitam mulai berlalu

1.4K 129 5
                                        

Dika menghela nafas beberapa kali. Dia tak habis pikir, "Kenapa mama melakukan hal itu?" Pertanyaan Dika dalam hatinya." Yupp papa!!! Pasti papa bisa membantu". Diambilnya handphone dan menghubungi papanya. Dika menceritakan kronologi kejadian dirumahnya hari ini. Dika juga mengirim rekaman video cctv ke papanya. Papa sempat kaget dan tidak menyangka dengan perbuatan istrinya.

"Nanti waktu jam makan siang, papa ke kantormu dik" jawab papa begitu mengakhiri pembicaraannya. Jam 12 waktu makan siang. Dika sudah tidak bernafsu lagi untuk mengisi perutnya. Baru kemarin dia bisa mengambil hati Rara dan mengajaknya untuk menikah, belum keluarganya datang melamar, hari ini sudah ada masalah baru. Kepalanya serasa berdenyut dan sakit. Rendi tak berani mendekat ke ruangan bosnya. Sebelum jam makan siang tadi dia sempat masuk dan menanyakan mau booking makan siang dimana, namun melihat aura Dika yang tidak baik dan acak-acakan, Rendi pun mengurungkan niatnya kemudian menutup kembali pintu ruangan bossnya.

"Dikaaa" suara papa tiba-tiba setelah membuka pintu. Dika pun beranjak menyambut papanya dengan muka yang lesu.

"Gimana ini paaa. Rara pasti sudah sakit hati dengan perkataan mama" Dika tampak cemas.

"Sudah lah boy, santai sedikitlah...kita cari solusinya dulu.. Memang mamamu itu kebangetan. Padahal kita kan sudah sepakat waktu itu, kalau kami pasrah padamu untuk mencari istri kembali" papa duduk di sofa dan mulai meletakkan jasnya di ujung sandaran sofa.

" Maura juga pasti sangat kecewa dengan sikap ommanya, gimana dong pa..?" Dika merajuk persis seperti Maura yang minta dibeliin lolipop

"Kita temui Rara, minta maaf atas nama mamamu gimana??, oiya Maura ada disana kan? Kamu bilang aja kalau mau menjemput Maura" ide papa tiba-tiba.

"Tapi hapenya gak aktif pa, pusing aku paaa..." Dika tampak terlihat tak bersemangat dan bersandar di sofa.

"Nanti sore jam pulang kantor, kita samperin ke kost2annya, percayakan sama papa dah..kamu ini boy..masalah gini aja sudah bingung. Gimana nanti kalau sudah berumah tangga, ayoo semangat" kata papa sambil menepuk pundak Dika

"Hemmm papa nih.. mama tuh bikin masalah, papa harus tanggung jawab" kata Dika sewot.

"Lho kok jadi papa yang harus bertanggungjawab" papa melotot ke arah Dika.." oke..oke papa yang akan bertanggungjawab" kata papa sambil tersenyum. "yuk makan siang dulu, gara-gara wanita nanti kita bisa kurus  heheheh"

"Oh iya..papa mau makan apa?biar Rendi yang menyiapkan"

"Kita ke kantin aja yuk, lama gak makan disana. Lalapan gurame nya masih enak kan? Papa pengen yang pedas-pedas dik" akhirnya papa dan Dika makan siang di kantin kantor.

Sementara mama yang lagi dongkol pergi menjemput Anggita disekolahnya. Anggita tampak senang melihat ommanya menjemput siang itu.

"Tumben omma jemput" selidik Anggita.

"Iya omma lagi santai, Kita ke mall yuk git, lama gak jalan-jalan sama kamu" jawab mama

"Makan dulu kali omma, udah lapeerr" kata Anggita dengan wajah memelas. Akhirnya mama dan Anggita makan di sebuah restoran didalam mall.

"Pesen apa kamu?" Begitu pelayan restoran menghampiri.

"Eee boleh nggak kalau agak pedes, pengen ramen..boleh ya omma" Anggita merajuk dengan mengerjab-ngerjabkan matanya. Mama pun tersenyum melihat tingkah anak SMP itu. Dari dulu mama selalu mengabulkan permintaan cucunya itu. Dan hal itu sering menjadi perdebatan dengan Dika.

"Omma sushi aja, salmon roll" jawab mama singkat. "Kamu Minumnya jangan yang dingin lho git, udah pedes dingin ntar sakit" mama sudah melotot pada cucunya." Kasih dia cokelat hangat saja mbak, dan saya teh ocha" kata mama pada pelayan restoran.

muridku anakkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang