#Tiga Puluh Tiga

1.2K 232 22
                                        

Bismillah...

"Lo yakin bisa pulang sendiri?"

Gisella hampir saja langsung menarik gas saking kagetnya mendengar suara serak berat itu dari balik punggung padahal ia belum naik ke atas motornya. Gadis itu menoleh dengan ekspresi kesal, menatap Abyan yang hari ini suka muncul tiba-tiba dari belakang.

"Bisa kok, tangan gue udah gak begitu sakit," jawab gadis itu, walau diam-diam saat kembali menghadap ke depan ia meringis karena tangan kanannya terasa berdenyut. 

Abyan menghela napas menyaksikan ekspresi gadis itu dari kaca spion. "Mau gue bawain aja motornya?" tanyanya sekali lagi.

Gisella menggeleng, "Gak usah," kata Gisella lalu diam sejenak, mendadak meragu karena tangan kananannya terasa berdenyut lagi, "lagian kalau lo bawa motor gue, trus lo pulangnya sama apa?" sambungnya pelan.

Abyan tersenyum kecil saat mendengar gadis itu mau mengalah, "Soal itu gampang, gue bakalan ajak Alif jadi gue pulang bareng dia, lo tunggu di sini, gue bilang ke Alif dulu," kata Abyan sambil mencabut kunci motor Gisella agar gadis itu tidak kabur.

Gisella menghembuskan napas pelan, menatap punggung Abyan yang menjauh dengan senyum tipis, "Kenapa sih dia baik banget?" gumam Gisella tak mengerti.

Tak lama kemudian Abyan muncul sambil membawa helm dan sudah mengganti baju kausnya dengan hodie coklat. Alif tak terlihat bersama pemuda itu membuat Gisella mengerutkan kening. "Alif lagi sakit perut Gis, jadi dia minta kita buat duluan aja," jelas Abyan sebelum gadis itu bertanya.

Gisella mengerjap, "Emang Alif tau rumah gue dimana By?" tanya gadis itu bingung. Abyan mengangguk.

"Kata Alif Yara pernah ngasih tau," jawabnya membuat Gisella membulatkan mulut.

"Ayo naik, keburu maghrib kalau kita gak cepat," sambung Abyan sambil naik ke atas motor. Gisella mengangguk patuh lalu ikut naik ke atas motornya.

Selama dalam perjalanan dari rumah Alif ke rumah Gisella tidak ada satupun di antara mereka berdua yang membuka pembicaraan karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Abyan berfikir apa ini saat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya pada Gisella mengingat kesempatannya tadi hilang karena Yara tiba-tiba muncul di dapur. Sedangkan Gisella sibuk memikirkan cara agar Abyan tidak usah mengantarnya sampai depan rumah karena khawatir pemuda itu bertemu neneknya.

Abyan berdehem, melirik ke arah gadis itu lewat kaca spion, "Gis," panggil Abyan akhirnya membuat Gisella yang sedang melamun jadi tersentak.

"Eh, iya?" sahut Gisella agak keras karena mereka sedang di jalan.

Abyan membasahi bawah bibir, merasa jantungnya berdebar tak karuan, "Ehm, gue mau lanjutin yang di dapur tadi," katanya gugup.

Gisella mengernyit, tidak dapat mendengar suara Abyan karena suara cowok itu terlalu kecil, "Apa? Suara lo gak kedengeran," tanya Gisella keras.

Abyan mendesah pelan, merasa ungkapan perasaannya akan berakhir tidak keren jika ia memaksakan diri untuk mengungkapkannya sekarang.

"Gue mau lanjutin yang di dapur tadi, tapi gak disini!" seru Abyan membuat Gisella yang agak mendekatkan telinga ke arah pemuda itu jadi mendelik kaget.

Eh?

Pemuda itu menghela napas sejenak,"Karena itu untuk kali ini biar gue nganterin lo pulang sampai depan rumah lo," sambung Abyan.

Gisella menelan ludah. Mulai merasa bimbang. Di satu sisi ia takut jika Abyan nanti akan bertemu neneknya, tapi di sisi lain gadis itu juga penasaran dengan apa yang ingin Abyan sampaikan.

Me Vs Inscurities [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang