Bismillah...
Sudah lama Gisella tidak merasakan atmosfer penuh kasih sayang ini membuatnya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan tawaran sang Nenek untuk duduk lebih lama di rumahnya.
Rasanya menyenangkan, duduk di ruang tamu sambil menyesap teh hangat, mengobrol soal apapun dengan seseorang yang menatapnya penuh perhatian, tertawa bersama saat membahas tentang yang lucu.
Sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah Gisella rasakan semenjak mamanya pergi.
"Jadi Gisella punya tiga orang saudara inisialnya G semua?" tanya sang Nenek dengan mata berbinar kaget. Gisella terkekeh lalu mengangguk ringan.
"Iya Nek, Ghea, Gisella dan Gaizka, jaraknya masing-masing dua tahun," jawab Gisella.
Nenek membulatkan mulut, "Oh, keluarga terencana ya," tanggapnya. Gisella tertawa lagi lalu karena terbawa suasana ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku untuk memperlihatkan foto keluarganya pada sang Nenek. Nenek terlihat senang melihat foto keluarga yang terlihat harmonis itu.
"Nah, ini aku, Kak Ghea, Gaizka, sama Mama dan Papa," ucap Gisella ceria sambil mengangsurkan ponselnya ke arah Nenek.
Disana Gisella terlihat masih SD. Ia berdiri di sebelah Ghea dengan senyum malu-malu bertolak belakang dengan kakaknya yang mengacungkan tanda peace sambil tersenyum lebar. Lalu ada Gaizka yang terlihat merengut di pangkuan Mama, matanya agak merah karena habis menangis, bisa ditebak ia dipaksa agar mau ikut difoto. Sedangkan Mama dan Papa berdiri dengan senyum manis ke arah kamera.
"Waah, Gisella sama Mama mirip banget ya," tanggap Nenek reflek saat melihat foto itu. Ia tersenyum lebar lalu menoleh ke arah Gisella. Namun gadis itu tidak ikut tersenyum. Ia malah terdiam dan menatap foto itu dengan tatapan kosong.
"Gisella? Kok bengong?" tanya Nenek sambil menepuk bahu gadis itu sedikit membuat Gisella tersentak lalu mengerjap dua kali.
"Eh, maaf Nek," katanya sambil meringis lalu langsung menyimpan hapenya ke dalam saku. Anehnya setelah memperlihatkan foto itu ekspresi Gisella tidak seceria tadi. Nenek menghela napas merasa ada yang tidak beres.
"Ada apa Gisella? Kok jadi murung?" tanya Nenek lembut. Gisella menggeleng kecil.
"Gak apa-apa Nek, Gisella cuma ngerasa nostalgia karena udah lama gak lihat foto itu," jawabnya pelan, ia tersenyum pahit, "Gisella tiba-tiba jadi kangen Mama," sambungnya serak dengan mata berkaca-kaca.
Nenek tersenyum tipis lalu mengelus bahu Gisella lembut membuat Gisella yang sedang susah payah menahan tangis akhirnya menyerah. Gadis itu terisak pelan lalu menundukkan kepala dalam.
Sebenarnya selama beberapa tahun belakangan Gisella tidak pernah lagi melihat foto Mama. Bukan karena ia melupakan mamanya. Tapi karena ada suatu penyesalan yang membuatnya sulit memaafkan diri sendiri sampai sekarang. Selain itu ia tak tahan mendengar orang-orang yang mengatakan dirinya mirip Mama padahal menurut Gisella tidak sama sekali.
Bagi Gisella, mamanya adalah wanita paling cantik dan paling hebat di muka bumi berbanding terbalik dengan Gisella yang merasa dirinya hanya seorang manusia yang sulit bersyukur dan tidak pernah merasa puas dengan diri sendiri.
Gisella menarik napas lalu mendongakkan kepala, mencoba menahan air mata yang kalau dibiarkan akan terus mengalir.
"Menurut Nenek, Mama cantik gak?" tanya Gisella dengan suara serak. Mencoba mengalihkan perhatian agar air matanya tidak mengalir lagi.
Mendengar pertanyaan itu Nenek tanpa pikir panjang langsung mengangguk. "Cantik," katanya jujur.
Gisella tersenyum tipis, "Menurut Nenek cocok gak sama Papa?" tanyanya sekali lagi. Nenek diam sejenak, mencoba mengingat wajah Papa Gisella lalu kembali mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)