Bismillah..
Gisella menarik napas lalu menghembuskannya perlahan sebelum memutar knop pintu dan keluar dari kamarnya. Gadis itu merasa gugup. Ini pertama kalinya Gisella turun saat keluarganya makan malam bersama. Berbeda dengan saat Nenek yang menyuruh Gisella tidak turun jika keluarga Kelvin datang ke rumah mereka, Gisella tidak turun saat keluarganya makan malam karena alasan lain.
Sejak hari pertama Mama meninggal Gisella memang tak pernah makan malam bersama keluarganya lagi. Gadis itu sibuk mengurung diri sedangkan anggota keluarganya yang lain juga tak berkeinginan untuk mengajak gadis itu makan, hanya Bi Darmi yang setia mengantarkan makanan ke kamar gadis itu.
Awalnya Gisella merasa ketidakpedulian itu adalah hukuman untuknya. Namun lama kelamaan Gisella mulai terbiasa sendirian dan malah tak nyaman jika harus bertemu dengan keluarganya.
Saat Gisella turun semua mata yang ada di ruang makan jadi tertuju ke arah gadis itu. Ghea yang sedang bermain hape meliriknya dengan ujung mata. Papa yang duduk di ujung meja makan menatapnya dengan sorot dingin, tak ada bedanya dengan Nenek. Sedangkan Gaizka hanya mengangkat alis seolah tak peduli.
Gadis itu menelan ludah, melihat reaksi keluarganya yang kurang bersahabat membuat Gisella meragu untuk melanjutkan rencananya. Namun dengan cepat ia menggeleng menolak pemikiran pesimis itu, sekarang atau tidak sama sekali.
"Maaf Gisella mengganggu waktu makan malam Papa, Nenek, Kak Ghea dan Gaizka, tapi Gisella gak tau lagi kapan waktu yang tepat untuk bertanya selain sekarang," ujarnya dengan suara bergetar.
Nenek melirik gadis itu sejenak lalu menghembuskan napas malas, "Ada apa?" tanya Nenek dengan nada datar.
Gisella menggigit bawah bibir, merasa makin gugup. Tangannya bahkan sudah berkeringat. Di lain sisi keluarganya malah terlihat tak peduli dan melanjutkan makan.
Gadis itu mengepalkan tangan kuat sebelum berucap, "Ne-Nenek bilang apa sama teman Gisella waktu itu?"
Pertanyaan itu berhasil menyita atensi semuanya. Ghea yang terlihat paling terganggu dengan ucapan itu sedangkan Nenek yang ditanya malah mengerutkan kening seolah tak mengerti.
"Temanmu yang mana? Nenek gak ingat kamu pernah membawa temanmu kesini," ucap Nenek sambil membalik sendok makannya, tak tertarik untuk melanjutkan makan lagi.
"Seingat Ghea ada satu teman Gisella yang pernah kesini Nek, namanya Yara," kata Ghea mendadak ingin ikut dalam pembicaran.
Mendengar nama itu Nenek jadi melotot, "Oh gadis berambut sebahu yang tidak tau sopan santun itu?" katanya galak membuat Gisella mendelik panik.
Yara dan Nenek memang pernah terlibat sedikit perkelahian dulu, hal itu disebabkan karena Yara yang mengomentari perkataan ketus Nenek pada Gisella. Yara yang memang tipe orang yang suka mengatakan sesuatu apa adanya tanpa filter membuat Nenek Gisella jadi meradang dan akhirnya berujung pada debat panjang. Hasil akhirnya Yara diusir pulang, membuat Gisella trauma mengajak temannya ke rumah.
"Bukan Nek, bukan Yara, tapi Abyan," jelas Gisella membuat neneknya yang masih mengomel jadi berhenti bicara.
Nenek mengernyit, "Abyan? Laki-laki?"
Gisella mengangguk. "Iya Nek," ucapnya.
Nenek Gisella membulatkan mulut lalu mendengus malas, "Oh dia, teman kamu yang pakai baju pinjaman itu ya?" cetusnya membuat Gisella terdiam kaget.
"Nenek heran sama kamu, apa kamu sebegitu hilang harapannya sampai mau dekat dengan laki-laki miskin seperti dia?" ucap Nenek pedas. "Orang tua dan anak tak ada bedanya," sambungnya membuat Papa sedikit melirik ke arah ibunya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)