"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar."
......
Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
Setelah berhasil kabur dari Nino, Abyan dan Gisella kembali ke sekolah untuk melanjutkan mengerjakan tugas kelompok yang tadi sempat terlupakan. Andini dan Roni yang sempat menghilang juga sudah bisa dihubungi dan sedang dalam perjalanan menuju sekolah.
Meski sudah agak sore untungnya sekolah masih ramai. Ada banyak anak ekskul yang masih berkeliaran di sekolah membuat Abyan dan Gisella yang duduk berdua di taman menjadi tidak terjebak dalam keheningan. Tapi walau begitu keduanya tetap saja merasa canggung.
Abyan menghela napas sambil menggenggam minyak kayu putih di tangan kanannya sedangkan Gisella yang mengira Abyan hendak mengoleskan minyak putih ke perut buru-buru memalingkan wajah ke arah lain membuat pemuda itu jadi tersenyum tipis.
"Gue cuma pura-pura sakit kok," kata Abyan pelan sambil menaruh minyak putih itu ke atas meja taman. Gisella tersentak lalu menoleh ke arah Abyan.
"Kenapa lo pura-pura sakit?" tanyanya bingung.
Abyan mengangkat bahu sedikit, "Apa yang lo harepin? Gue biarin lo pingsan gara-gara berusaha kuat di depan si Nino itu? Tadi lo pucat banget Gis, tangan lo juga sampai gemetar saking takutnya sama dia," jawab Abyan lalu mendengus.
Gisella menggigit bagian bawah bibirnya. Ia benar-benar tak mengira kalau Abyan sampai mau beracting seperti itu untuknya.
"Makasih," katanya pelan. Abyan mengangguk sedikit dengan tatapan yang lurus ke depan. Gisella melirik Abyan sejenak sebelum memutuskan untuk menunduk dalam dan diam.
Abyan mengerling ke arah gadis itu. Sebenarnya Abyan menunggu Gisella untuk bercerita duluan. Bagaimanapun Abyan butuh penjelasan kenapa Gisella sampai setakut itu saat bertemu Nino. Tapi sepertinya Gisella enggan untuk memulai cerita duluan.
Abyan mengangkat sebelah alis, "Teman lama?" lirih Abyan. "Apa lo bakalan setakut itu juga kalau ketemu gue di masa depan?" sambungnya.
Kali ini Gisella tidak menjawab. Ia makin menyembunyikan wajahnya dari Abyan membuat pemuda itu menghela napas berat.
"Gue gak maksa lo buat cerita kok, gue cuma khawatir kalau lo kenapa-napa," ucapnya lembut.
Gisella mendongak, menatap Abyan yang ternyata juga tengah memperhatikannya. Pemuda itu tersenyum tipis padanya membuat Gisella seketika merasa tertegun.
"Kenapa lo khawatir?" tanya Gisella, diam-diam berharap.
Gisella tersenyum pahit. Teman ya? Lagipula apa yang diharapkannya?
Gisella menghela napas, memutuskan untuk mulai bercerita meski masih merasa kecewa karena jawaban Abyan tadi, "Nino itu dulu sahabat gue," katanya.
"Papa Nino dan Papa gue itu sahabatan, makanya kami bisa akrab sejak kecil," sambungnya.
Gisella tersenyum tipis, "Nino itu sahabat yang baik, dia perhatian, selalu ada untuk gue dan orang yang sangat sabar, yang lama kelamaan semua alasan itu membuat gue lupa diri dan diam-diam malah menaruh perasaan ke sahabat gue sendiri," kata gadis itu pelan. Ia menarik napas sejenak lalu menghembuskannya perlahan.
"Tapi sayangnya perasaan gue gak berbalas By, Nino malah naksir kakak gue sendiri," ujarnya membuat Abyan yang fokus mendengarkan jadi tersentak.
Gisella menelan ludah, mendadak merasa tercekat karena memori buruk itu kembali terbayang di otaknya, "Sebenarnya sejak awal gue tau kalau Nino gak pernah melihat gue lebih dari seorang sahabat, dia selalu bilang kalau dia nyaman sama gue, dia selalu suka ngabisin waktu sama gue karena obrolan kami nyambung, tapi untuk lebih dari itu dia gak akan pernah bisa."
"Kenapa?" tanya Abyan tak mengerti.
"Karena gue gak cantik," jawab Gisella dengan mata berkaca-kaca.
Abyan langsung mengatupkan bibir. Perlahan mulai mengerti kenapa dulu Gisella selalu berfikir kalau setiap cowok yang bertemu Ghea akan naksir kakaknya. Jadi Nino penyebabnya?
"Tapi lo tau darimana kalau dia gak suka sama lo karena lo gak cantik? Bisa aja karena hal lain kan," ujar Abyan.
Gisella merapatkan bibir lalu menggeleng. "Gue dengar langsung kalau dia bilang gue jelek," ucapnya membuat Abyan yang masih ingin menyanggah langsung terdiam.
Gisella menghela napas sejenak untuk meredakan sesak di dadanya,"Di hari ulang tahunnya, gue gak sengaja dengar kalau dia lagi ngobrolin gue sama teman-temannya, dan dia bilang sambil ketawa kalau gue itu jelek dan beda banget sama kak Ghea yang cantik," ujarnya dengan suara bergetar.
"Gue masih ingat semua hinaan dia hari itu, tapi hal yang paling bikin gue sedih adalah saat dia bilang kalau selama ini dia terpaksa sahabatan sama gue karena disuruh papanya," sambungnya.
"Memang salah ya jadi jelek? Gue juga gak pernah minta terlahir kayak gini," kata gadis itu pelan lalu langsung mendongak untuk menahan air matanya yang ingin keluar.
Abyan menghela napas melihat usaha Gisella yang tidak ingin terlihat lemah di depannya. Ia lalu membuang pandangan ke arah lain karena tak tega melihat gadis itu menangis.
Abyan tidak tau apa yang harus dikatakannya untuk menanggapi cerita Gisella tentang Nino. Satu-satunya reaksi yang ingin ia lakukan setelah mendengar cerita itu hanyalah menghabisi Nino dengan tangannya sendiri. Tapi Gisella tidak butuh itu. Gadis lembut itu tak butuh kekerasan, ia hanya butuh di dengarkan dan ditenangkan dengan kata-kata yang berasal tulus dari hati. Bukan kata-kata bullshit yang memuakkan. Dan sebenarnya kata-kata itu sudah ada di otaknya dari tadi, hanya saja Abyan malu menyampaikannya.
Pemuda itu berdehem dua kali, "Sebenarnya ada untungnya jadi orang jelek," ucap Abyan akhirnya membuat Gisella yang sedang berusaha menahan tangis jadi menoleh ke arahnya.
"Apa untungnya?" tanya gadis itu masih dengan suara serak.
Abyan bergumam, "Untungnya cewek jelek dicintai dengan tulus. Sedangkan cewek cantik dicintai dengan modus," ucapnya ringan. Gisella terkekeh mendengarnya.
"Yah, walaupun menurut gue lo orang yang gak bakalan dicintai dengan tulus sih," kata Abyan menambahkan.