Bismillah..
Gisella menggembungkan pipi duduk di hadapan Kelvin yang sudah tertawa puas. Merasa kesal luar biasa karena cowok itu sukses mengerjainya. Gadis itu mendengus pelan lalu menyambar kaleng minumannya yang sudah tak terlalu dingin dan meminumnya cepat untuk menghilangkan rasa kesal di hatinya.
Tadi Kelvin menelfon papanya, mengatakan jika ia ingin dijodohkan dengan Gisella membuat gadis itu menganga dan langsung menarik hape yang masih di dalam genggaman Kelvin. Gadis itu lalu buru-buru menjelaskan kepada Papa Kelvin bahwa cowok itu hanya bercanda membuat Papa Kelvin yang awalnya terdiam kaget jadi tertawa.
Melihat Gisella sepanik itu Kelvin tak tahan untuk tidak tertawa membuat Gisella yang sudah gemetar dan pucat saking paniknya langsung memasang wajah masam. Kalau tau hanya dikerjai, seharusnya ia tak perlu sepanik itu kan?
"Lo aslinya begini ya Vin? Nyebelin?" kata Gisella lalu memanyunkan bawah bibir membuat Kelvin terkekeh lagi.
"Gue kira lo itu kalem eh ternyata bobrok juga," tambah gadis itu. Kedua alis Kelvin terangkat lalu menggeleng geli.
"Gak ada orang yang kalem di dunia ini, kalau kalem itu tandanya gak sefrekuensi," celetuk Kelvin. Gisella mencibir.
"Sok tau," ucap gadis itu.
Tapi setelah menelaah kalimat Kelvin lebih teliti gadis itu jadi mengerjap, "Eh, berarti menurut lo kita sefrekuensi dong?" tanyanya. Kelvin tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Gue ngerasa nyaman kalau ngobrol sama lo, itu tandanya kita sefrekuensi kan?" ucapnya lembut membuat Gisella yang awalnya masih ingin marah-marah jadi berdehem salah tingkah. Kelvin kalau dalam mode lembut dan kalem seperti ini selalu berhasil membuatnya baper.
"Apasih," ucap gadis itu lalu memalingkan wajah ke arah lain dengan malu-malu.
Kelvin tersenyum lagi. Mengamati wajah Gisella yang terlihat agak memerah.
"Gis," panggilnya.
"Hm?"
"Kenapa tadi pagi lo bohong?" tanya pemuda itu.
Gisella yang awalnya masih malu-malu jadi mengerjap-ngerjapkan mata, "Ha? Bohong maksudnya?" tanya gadis itu bingung.
Kelvin mendesah pelan lalu membenarkan duduknya. Menumpukan dua siku ke atas meja minimarket sambil menatap gadis itu.
"Tentang Kocip, kenapa tadi pagi lo bilang lo gak pernah baper sama dia?" tanyanya. "Padahal itu kesempatan yang bagus untuk bikin hubungan kalian jadi berkembang," sambung pemuda itu tenang.
Gisella tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengetukkan telunjuk ke atas meja minimarket dengan tatapan kosong.
"Gue ... gak mau bikin Abyan gak nyaman," lirih gadis itu pelan. Kelvin mengangkat alis tak mengerti.
"Gak nyaman maksudnya?"
Gisella menghembuskan napas pelan. "Gue takut kalau perasaan gue ke dia bikin dia gak nyaman, gue takut kalau apa yang dibilang Tiara itu benar, gue takut Vin kalau selama ini Abyan sebenarnya emang naksir cewek lain dan gak mau ngasih tau siapa cewek itu karena ngehargain perasaan gue, gue takut kalau ... selama ini gue lagi-lagi jatuh cinta sendirian," jawab Gisella perlahan. Gadis itu mengangkat wajah. Menatap Kelvin yang mendengarkannya dengan ekspresi serius.
"Gue gak percaya diri untuk dicintai orang lain karena jujur gue bahkan sulit untuk mencintai diri gue sendiri," sambungnya.
Untuk sejenak hanya ada hening di antara mereka berdua. Tatapan Kelvin masih mengarah pada gadis itu sedangkan Gisella kembali menunduk dalam, sibuk menenangkan hatinya yang terasa kembali bergemuruh karena Kelvin mengungkit masalah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Fiksi Remaja"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)