Bismillah...
Abyan duduk tenang di sebuah kafe. Menunggu Gisella yang sudah berjanji akan datang setelah pulang sekolah. Sepuluh menit menunggu akhirnya gadis itu benar-benar datang membuat Abyan langsung menegakkan tubuh dan tersenyum manis pada gadis itu. Gisella membalas senyum itu dengan senyum tipis lalu menarik kursi dan duduk di depan Abyan.
"Udah lama?" tanya Gisella. Abyan menggeleng.
"Enggak, gue juga baru sampai kok, mau langsung pesan aja?" tanyanya ceria. Gisella mengangguk sedikit.
"Boleh, gue cappucino aja," jawabnya kalem.
"Gak makan?" tanya Abyan perhatian. Gisella menggeleng.
"Enggak, gue masih kenyang," katanya.
Abyan membulatkan mulut tanda mengerti lalu memanggil waiters untuk mencatat pesanan mereka. Setelah waiters pergi keduanya jadi duduk diam sambil bertatapan lalu tertawa kecil.
"Jadi canggung ya?" kata Abyan malu. Gisella terkekeh.
"Iya, hem, oh iya, hari ini lo gak ngajar?" tanya Gisella mencoba membuka topik pembicaraan. Abyan mengangguk.
"Ngajar kok, tapi nanti abis ashar," jawab Abyan penuh senyum, senang karena Gisella ingin tau kegiatannya.
"Lo mau ikut?" ajak cowok itu. Gisella mengerjap.
"Emang boleh?" katanya bingung. Abyan tersenyum lalu mengangguk.
"Tentu, lo kan pintar, jadi adek-adek pasti bakalan senang belajar sama lo," ucap Abyan yakin. Gisella menghela napas panjang.
"Gak semua orang yang pintar itu pintar ngajar lho By," katanya tak setuju. "Kayaknya gue gak bakat ngajar sih soalnya Yara dulu pernah bilang kalau gue ngajarin sesuatu itu terlalu cepat," sambungnya.
Kedua alis Abyan terangkat, "Masa sih?" katanya tak percaya, "menurut pengalaman pribadi gue lo pinter ngajar kok," ucapnya yakin.
Gisella mengerutkan kening, "Emang gue pernah ngajarin lo apa?" tanyanya mengingat Abyan lebih pintar darinya dalam pelajaran apapun. Yah, meski Gisella enggan mengakui di depan Abyan jika menurutnya cowok itu lebih pintar darinya, tapi jauh di dalam hati sebenarnya Gisella menyadari jika Abyan bukan tandingannya.
Abyan berdehem pelan lalu memajukan sedikit tubuh membuat Gisella reflek memajukan diri karena berfikir apa yang akan disampaikan oleh cowok itu adalah sebuah rahasia, "Cinta," bisik Abyan membuat Gisella yang sudah mendengarkan dengan serius jadi mendelik.
"Apasih," kata gadis itu lalu buru-buru menegakkan tubuh dan memalingkan wajah dengan salah tingkah membuat Abyan tertawa kecil.
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan pesanan mereka tiba-tiba datang, obrolan keduanya jadi terjeda karena ingin menikmati pesanan masing-masing.
Setelah meminum cappucinonya sedikit, Gisella kembali mengamati Abyan. Cowok itu terlihat mengerutkan kening dengan kepala merunduk, terlihat khusyuk mengaduk pesanannya membuat Gisella merasa sedih saat membayangkan jika ekspresi menggemaskan pemuda itu tak dapat dilihatnya lagi dalam waktu yang lama.
Gadis itu lalu mendorong gelas cappucinonya, mendadak kehilangan selera, namun tatapannya masih lurus kepada Abyan.
"Jadi kapan lo berangkat ke Amerika?" tanya gadis itu pelan membuat Abyan yang sedang menikmati jus alpukatnya langsung terbatuk.
"Hah?"
"Kenapa kaget? Apa lo berencana merahasiakan hal ini dari gue sampai lo pergi?" tanya gadis itu dengan suara pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)