#DuaPuluhTiga

1.3K 250 33
                                        

Bismillah..

Gisella menghela napas dalam lalu mulai melajukan motornya untuk keluar dari gerbang sekolah. Pikiran gadis itu mengawang, sibuk memutar kejadian tadi pagi membuatnya tak fokus sama sekali dengan jalan yang ada di hadapannya.

Setelah Gisella mengatakan jika ia tidak pernah memiliki perasaan pada Abyan, pemuda itu tidak bicara apapun pada Gisella hingga pulang sekolah, bahkan meski Gisella beberapa kali berusaha mengajaknya bicara duluan Abyan hanya membisu dan tidak mendengarkan gadis itu.

Awalnya Gisella pikir penyebab Abyan mendiamkannya karena pemuda itu sedang badmood saja,  tapi setelah sekian lama didiamkan gadis itu jadi berubah pikiran, Abyan ternyata hanya mendiamkan Gisella, sedangkan kepada teman-teman yang lain pemuda itu bersikap seperti biasanya, Abyan bahkan masih bisa diajak bercanda oleh Roni dan tertawa kalau ada yang melucu di kelas membuat gadis itu merasa terkucilkan.

Gisella menghela napas pelan. Apa Abyan menjauhinya karena tidak mau orang lain berfikiran aneh lagi soal hubungan mereka?

Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Gisella tak sadar jika dari arah depan seorang ibu-ibu hendak melintas. Gadis itu tersentak kaget lalu buru-buru mengerem motornya, tak lupa ia juga menekan klakson motornya sekuat mungkin agar Ibu itu tau kalau ia berada dalam bahaya. Untungnya Gisella berhasil mengerem motornya tepat waktu sehingga motornya hanya berjarak beberapa cm dengan Ibu tersebut. Keduanya langsung berpandangan dan menghela napas dengan kompak.
"Ibu gak apa-apa?" tanya Gisella yang langsung turun dari motornya. Ibu itu tersenyum tenang.

"Gak apa-apa," jawabnya menenangkan gadis itu. Gisella menghembuskan napas lega.

"Alhamdulillah, maaf banget ya Bu, tadi aku lagi gak fokus banget," ucapnya lalu meringis lebar. "Ibu mau kemana? Mau aku antar?" tanyanya sambil melirik ke arah kantong belanjaan yang sedang Ibu itu bawa. Terlalu banyak untuk diangkut sendiri.

Ibu itu terkekeh, "Gak apa-apa, Nenek bisa sendiri, justru Nenek yang khawatir sama kamu, kamu gak apa-apa lanjut bawa motor lagi? Kalau masih gak fokus bahaya lho," nasehatnya.

Gisella mengernyit. Nenek? Kenapa Ibu itu memanggil dirinya sendiri Nenek padahal menurut Gisella ia masih terlihat sangat muda?

Melihat ekspresi bingung Gisella, Ibu itu buru-buru menambahkan, "Nenek punya cucu seumuran kamu, makanya kamu panggil Nenek aja ya," ucapnya.

Gisella membulatkan mulut lalu mengangguk mengerti. "Baik Nek," jawabnya patuh.

"Ya sudah, kalau gitu Nenek lanjut lagi ya? Hati-hati di jalan," ucapnya sambil menepuk bahu Gisella lalu berlalu dari sana. Gisella menelan ludah sambil memperhatikan Nenek itu pergi. Gadis itu masih merasa kurang, ia harus melakukan sesuatu sebagai wujud permintaan maafnya.

"Nek," panggilnya sebelum Nenek itu terlanjur pergi jauh. Nenek itu menoleh ke arahnya.

"Ya?"

"Ka-kalau Gisella tolong bawakan belanjaannya sampai ke pangkalan ojek gimana?" tanya gadis itu kikuk.

Mendengar nama Gisella mendadak kedua alis Nenek itu terangkat. "Nama kamu Gisella?" tanyanya kaget. Gisella mengangguk agak bingung.

"Iya Nek," jawabnya.

Nenek itu bergumam sejenak sambil mengusap dagu, memperhatikan seragam Gisella yang senada dengan seragam sekolah cucunya, "Hem, sepertinya Nenek berubah pikiran," katanya.

Gisella mengerjap, "Nenek mau Gisella antar?" tanya gadis itu cepat. Nenek mengangguk.

"Kalau boleh," katanya.

Gisella tersenyum manis, "Boleh banget Nek," ucapnya semangat lalu segera membawakan kantong belanjaan Nenek dan menaruhnya di depan.

Nenek memperhatikan Gisella yang sibuk memindahkan kantong belanjaannya dengan senyum tipis. Seperti dugaannya, Gisella memang gadis yang baik.

Me Vs Inscurities [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang