Bismillah...
Walau memang bukan hal yang baru melihat Abyan dan Gisella bertengkar, tapi tetap saja melihat dua manusia itu perang dingin terasa aneh bagi kelas XI IPA 4.
Pasalnya, meski sering berisik, pertengkaran mereka lumayan menghibur bagi anak-anak kelas. Tapi kalau bertengkarnya diam-diam seperti ini mana seru.
Roni yang duduk di belakang Abyan bahkan sampai tak tahan melihat tingkah keduanya lalu memutuskan untuk menendang kursi Abyan pelan.
Abyan tentu saja kaget mendapat serangan itu, soalnya ia sedang fokus menyalin catatan dari papan tulis ke bukunya, namun dengan cepat Abyan menguasai ekspresi, kan gak lucu kalau sedang ngambek begini Abyan tiba-tiba latah.
"Apa?" kata Abyan sambil menoleh ke belakang. Roni mengedikkan dagu ke arah Gisella.
"Udahan dong berantemnya, udah mau pulang lho ini, suasana kelas jadi gak enak gara-gara kalian diem-dieman," kata Roni yang duduk di belakang pemuda itu.
Abyan mendengus, "Siapa yang diem-dieman sih, drama banget," sahutnya malas lalu kembali menghadap ke depan dengan wajah masam.
Gisella yang mendengar jawaban itu jadi menghela napas, melirik sebentar ke arah Abyan yang kembali sibuk menulis. Sebenarnya Gisella agak heran juga kenapa Abyan tiba-tiba mendiamkannya setelah pelajaran agama. Yah, mereka tadi memang bertengkar sih, tapi biasanya setelah bertengkar mereka langsung akur lagi kok, gak kayak begini.
"Oke, untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini ya, jangan lupa minggu depan kita ulangan harian," ucap Bu Siti selaku guru sejarah.
"Baik Buu ..." jawab semuanya kompak meski diam-diam mengeluh di belakang.
Abyan sendiri tidak terlalu menanggapi pengumuman itu, ia bahkan tanpa banyak bicara menyusun buku ke dalam tas, tidak seperti biasanya yang kalau mendengar pengumuman ulangan langsung misuh-misuh dengan Gisella.
Gisella menghembuskan nafas, memutuskan untuk menarik tas Abyan saat pemuda itu hendak berdiri dari duduknya. Kelas sudah berangsur sepi karena Bu Siti sudah keluar dari beberapa menit yang lalu.
"Apa?" tanya Abyan dingin. Gadis itu memajukan bawah bibir.
"Lo kenapa sih? Ngambek ya?" tanyanya dengan nada sedih.
Abyan mendecak kecil, "Apasih Sel, udah kayak Roni aja," sahut pemuda itu sok santai meski nadanya jelas-jelas terdengar ketus.
Gisella jadi ikut mendecak. "Lo gak pernah manggil gue pakai Sel tau nggak? Tuh kan lo ngambek, kenapa sih? Masih gara-gara masalah kelompok tadi?" balas gadis itu tak mau mengalah.
Beberapa anak yang masih di kelas memutuskan bersikap tidak sadar dengan pertengkaran keduanya, meski telinga mereka aktif menyerap pembicaraan Abyan dan Gisella.
Bahkan Roni yang duduk tepat di belakang mereka pura-pura serius membaca buku sejarah agar tidak terlalu kentara menguping meski pelajaran sudah berakhir dari tadi.
Abyan menghela napas, menghadapkan tubuhnya pada Gisella membuat pegangan gadis itu pada ranselnya terlepas.
Abyan tersenyum tipis, "Gue gak ngambek Gisella, gue cuma lagi gak mood aja hari ini. Gak usah terlalu khawatir lah," katanya sambil mengibaskan tangan santai.
Gisella merapatkan bibir. Matanya menyorot Abyan serius. Gadis itu tidak percaya dengan kalimat itu karena senyum Abyan tidak seperti biasanya.
"Udah kan? Gue mau pulang," kata Abyan lalu segera membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kelas dengan langkah tenang, tidak seperti biasanya yang mengajak ngobrol semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Novela Juvenil"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)