Bismillah...
Gisella diam. Tak tau harus berkata apa setelah mendengar alasan Abyan yang menjauhinya selama dua bulan terakhir, sedangkan pemuda itu hanya merunduk dalam dengan bahu menurun.
Gadis itu menelan ludah merasa tercekat. Selama ini Gisella berfikir jika Abyan menjauh karena sudah ada seseorang yang disukai cowok itu di kelas barunya membuat gadis itu menyerah dan berhenti mengganggu Abyan meski hanya sekedar sapaan ringan saat bertemu di jalan.
Lalu saat analisis Kelvin datang, Gisella merasa punya sedikit harapan, setidaknya jika alasan Abyan menjauh karena ucapan ketus sang Nenek, Gisella bisa meminta maaf dan kembali akrab seperti dulu lagi dengan Abyan.
Tapi ternyata alasan cowok itu menjauh ada di luar ekspektasinya. Gisella tidak pernah terfikir sekalipun jika Abyan memiliki sisi insecure karena selama ini cowok itu terlihat bahagia, seolah tak ada beban. Bahkan meski jalan hidupnya tak semulus yang lain, Abyan masih sering berkelakar dan menularkan aura positif kepada banyak orang.
Tapi ternyata di balik sikap humorisnya Abyan tetap manusia biasa yang punya sisi insecure seperti Gisella, meski insecure mereka berada di sisi yang berbeda.
Gadis itu menarik nafas lalu perlahan menoleh ke arah Abyan yang masih merunduk di sebelahnya. Dibanding mempermasalahkan alasan itu, ada pertanyaan lain yang muncul di benak gadis itu sekarang.
"By, gue gak tau mau ngomong apa, tapi jujur gue gak ngerti korelasinya," ujar Gisella membuat Abyan mengangkat wajah dan menatap gadis itu.
Gisella menggigit bagian bawah bibir, "Bukannya gue sama Alif sama aja? Tapi kenapa sama gue lo ngejauh sedangkan Alif enggak?" tanyanya dengan suara pelan.
Mata Abyan yang awalnya sayu jadi melebar kaget. Tidak menyangka reaksi Gisella atas pengakuannya tadi malah berbalik menyudutkannya.
"Eh ... itu."
"Kenapa lo memperlakukan kami berbeda?" tanya gadis itu sekali lagi.
Abyan lagi-lagi blank. Terlebih saat ini Gisella menatapnya lekat membuat cowok itu jadi mendelik dan buru-buru memalingkan wajah ke arah lain karena salah tingkah.
Pemuda itu lalu menyandar ke sandaran kursi dengan lengan yang menutup wajah, menutupi pipinya yang mendadak jadi terasa panas. "Gis, ini ... ini bukan saat yang tepat," lirihnya gugup membuat kedua alis Gisella terangkat.
"Kenapa harus nunggu saat yang tepat?" tanya gadis itu polos membuat Abyan makin mati langkah.
"Gue gak bisa bilang alasan lengkapnya," ujar cowok itu.
"Tapi gue gak terima kalau lo ngejauh tanpa alasan yang jelas By," kata Gisella bersikeras.
Gisella mendengus, "Sekarang gue jadi mikir, apa lo cuma bikin-bikin alasan padahal cuma pengen ngejauhin gue?" sambung gadis itu membuat Abyan makin tersudut.
"Gis, udah ya," katanya setengah memohon, diam-diam mengintip ekspresi Gisella dari balik lengan, gadis itu sedang menggembungkan pipi sekarang membuat Abyan yang sudah mati langkah sempat-sempatnya merasa terpesona.
Ya ampun, gue lagi sedih nih tadi, tapi napa sekarang jadi debar-debar sih, batin cowok itu merasa kesal dengan diri sendiri.
"Lo lagi suka sama seseorang ya?" celetuk Gisella tiba-tiba. Abyan jadi tersentak dan reflek menyingkirkan tangannya dari wajah.
"Ma-maksud lo?" tanya Abyan panik. Takut perasaannya sudah diketahui gadis itu.
Gisella mengulum bawah bibir lalu melirik ke arah lain, "Apa ada cewek yang lo suka di kelas lo yang sekarang?" lirihnya membuat Abyan mengerjap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Novela Juvenil"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)